61 Topeng yang terlepas

2.2K 140 8
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Henry sudah tidak bersekolah secara formal lagi setelah kejadian itu. Ia memilih homeschooling karena tak ingin teman-teman sekolahnya terus bertanya. Mereka bertanya bukan karena peduli, tapi hanya karena ingin tahu. Henry malas menjawab, dan setelah berpikir lama, ia memutuskan untuk belajar di rumah.

Hari ini adalah hari terakhir pemotretannya. Setelah ini, Henry tidak akan menerima pekerjaan lagi. Kontraknya dengan klub sepak bolanya sudah berakhir. Awalnya, ia berencana langsung mendaftar ke sekolah sepak bola di Bitranariya Raya, Inggris. Namun, entah kenapa, ia mengurungkan niatnya.

Dulu, semangatnya untuk sepak bola begitu besar, tapi sekarang? Semua terasa hambar.

Dengan senyum ceria yang tampak begitu alami, Henry menghampiri Dian, manajernya.

"Makasih ya, Bang. Aku nyaman banget kerja sama Abang," katanya dengan tulus.

Dian menatapnya serius. "Serius mau vakum?"

Henry mengangguk kecil. Ada sesuatu yang bergolak dalam hatinya, tapi ia menahannya.

"Indonesia nunggu lo, Hen... Jangan lama-lama vakumnya."

"Iya, Bang..." jawabnya pelan.

Hari itu, Henry pulang dijemput oleh Bundanya.

Sang Bunda mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah mendukung Henry. Ia menghormati keputusan putra bungsunya.

Karena ia tahu, semua ini pasti berat bagi Henry.

Pagi itu, setelah selesai belajar dengan gurunya, Henry sibuk membersihkan rumah. Ia merapikan guci-guci koleksi Bunda, mengelap debu yang menempel satu per satu. Saat sedang membersihkan, matanya tertuju pada sebuah guci di bagian paling belakang—guci yang jarang disentuh dan sudah berdebu tebal.

Henry mengeluarkannya, lalu membawa guci itu ke luar rumah. Ia mengambil air, sabun, dan sikat kecil, lalu mulai membersihkannya dengan telaten. Debu yang menempel erat perlahan hilang seiring dengan usahanya menyikat guci itu hingga kembali mengilap.

Henry tersenyum cerah melihat hasil kerjanya. Guci yang dulu terlupakan kini kembali bersih.

"Aku taruh di barisan pertama, biar gak terlupakan lagi," gumamnya dalam hati.

Dari kejauhan, Bik Sum terus memperhatikan anak majikannya itu. Henry seperti tak kenal lelah, membersihkan setiap sudut rumah tanpa henti.

"Dek," panggil Bik Sum akhirnya, wajahnya terlihat sedikit kusut.

"Kenapa, Bik?" tanya Henry tanpa menghentikan pekerjaannya.

"Makan dulu, yuk..." Bik Sum mendekat dan menyentuh tangan Henry yang tengah memegang kemoceng.

"Bentar, Bik. Nanggung..." jawab Henry santai, lalu kembali membersihkan rumah.

Bik Sum hanya bisa menghela napas, pasrah melihat Henry yang terus sibuk.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang