7.Demam

4.9K 166 15
                                        

Saat Erikc berusia 14 tahun, ia pernah mencoba membicarakan trauma masa lalunya kepada ayah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Saat Erikc berusia 14 tahun, ia pernah mencoba membicarakan trauma masa lalunya kepada ayah. Ia menjelaskan mengapa dirinya enggan naik mobil dan bagaimana kecelakaan itu membekas di pikirannya. Namun, bukannya mendapat pengertian, ayahnya malah merespons dengan nada skeptis dan keras.

"Trauma kau bilang? Kau pikir hanya kamu yang mengalami kecelakaan itu? Adikmu, abangmu juga ada di sana, dan mereka baik-baik saja. Kenapa kamu banyak sekali keluhan? Kalau memang takut naik mobil, ya sudah, naik motor saja selamanya!" bentak ayah dengan suara penuh amarah.

Sejak saat itu, Erikc memilih untuk tidak pernah mengeluh lagi. Ia merasa percuma mencoba menjelaskan perasaannya.

****

Tubuh Erikc menggigil hebat. Suhu tubuhnya mencapai 40 derajat. Di rumah yang sepi itu, hanya ada Bik' Sum yang menemani. Ayah sedang berada di Dubai untuk urusan bisnis, sementara Bunda pergi bersama Henry mengurus kontrak barunya dengan Timnas.

Bik' Sum panik, tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa mengompres kepala Erikc dengan air hangat. Erikc tidak bisa sembarangan minum obat karena kondisi kesehatannya harus selalu diawasi oleh dokter. Dalam kepanikan, Bik' Sum menelepon Rangga, satu-satunya anggota keluarga yang selalu menyempatkan waktu untuk keluarganya meski sibuk.

"Bang Rangga, tolong,  Erikc menggigil terus," ucap Bik' Sum dengan suara cemas di telepon.

"Iya, Bik, saya langsung pulang sekarang," jawab Rangga. Di telepon.
Kebetulan, ia mendapat jatah libur sehari untuk bergantian dengan rekannya.

Tak lama, suara mesin mobil Rangga terdengar memasuki halaman rumah. Bik' Sum segera berlari ke bawah untuk membukakan pintu.

"Bang Rangga, alhamdulillah. Cepat ke atas,  Erikc kondisinya parah," ujar Bik' Sum dengan wajah lega namun tetap khawatir.

Rangga dan BikSum segera bergegas naik ke kamar Erikc. Di sana, Erikc tampak lemah, tubuhnya terbungkus selimut tebal.

"Erikc, kamu masih bisa dengar abang?" tanya Rangga lembut, mencoba memastikan kesadaran adiknya.

Erikc menggerakkan sedikit kepalanya, tanda ia masih sadar meski lemah. Rangga dengan cekatan membuka selimut tebal yang membungkus tubuh Erikc. Ia tahu bahwa selimut itu justru memperparah kondisinya.

"Bik, tolong ambilkan air dingin dan kain bersih," perintah Rangga sambil membuka baju Erikc, membiarkan tubuhnya setengah telanjang agar panasnya bisa cepat turun.

Bik' Sum segera bergerak mengambil air dingin, sementara Rangga terus mengawasi adiknya dengan penuh perhatian. Wajahnya tegang, namun ia berusaha tetap tenang. Rangga tahu, dalam situasi seperti ini, ia harus menjadi sosok yang bisa diandalkan.

"Bik, nggak usah terlalu khawatir, ya. Kan dokternya ada di sini," ucap Rangga sambil tersenyum tipis, mencoba menenangkan Bik' Sum yang terlihat panik. Wajah wanita paruh baya itu penuh dengan keringat, mencerminkan kecemasannya.

The TwinsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang