Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di dalam kamar, Erikc sibuk menulis di jurnalnya. Dengan penuh semangat, dia mencatat rencana masa depannya.
Setelah lulus SMA, aku akan:
Melamar Hani.
Kuliah di universitas yang sama dengan Hani.
Wisuda bareng Hani.
Program hamil.
Kerja.
Menua bersama Hani.
Ia menuliskan semuanya dengan rapi, lalu tersenyum puas. Membayangkan semua itu menjadi kenyataan membuatnya semakin bersemangat.
"Hadehh... jadi pengen cepet-cepet lulus SMA," gumamnya sambil merebahkan diri di kasur.
Tak lama kemudian, Erikc meraih ponselnya dan langsung menghubungi Hani.
"Halo, Hani masih belajar?" tanyanya.
"Iya nih," jawab Hani di seberang telepon.
"Hani, kamu rencananya mau kuliah di mana?"
"UGM, kayaknya.Soalnya bapaklulusan dari sana," ujar Hani santai.
Erikc langsung berseru, "Oh, kalau gitu Erikc juga akan kuliah di sana!"
Hani tertawa kecil. "Oh? Kau akan mengikutiku?"
"Tentu! Kita kan sudah suami istri. Aku akan beli apartemen di sana buat kita tinggal nanti," kata Erikc penuh keyakinan.
Hani tergelak mendengar celotehannya. Rasanya seperti mendengar khayalan anak kecil. "Kamu punya uang buat beliapartemen?" godanya.
Erikc tertawa. "Gampang! Minta ke Opa. Dia banyak duit. Beli satu gedung apartemen pun dia mampu."
Hani semakin tergelak. Namun, tiba-tiba suaranya tampak curiga. "Erikc, kamu bucin banget, ya? Sama mantan-mantan kamu dulu juga begini? Atau jangan-jangan kau jugapernah merencanakan ini denganmereka?" Hani jadi trust issue.
Erikc spontan menggeleng, meskipun dia tahu Hani tak akan melihatnya. "Enggak, sama sekali enggak. Kita gak pernah sampai sejauh ini. Dulu, pacaran ya pacaran aja. Paling ngobrolin musik kesukaan, K-pop, drakor... ya yang gitu-gitu aja. Tapi kalau sama Hani, Erikc merasa punya masa depan."
Mendengar itu, Hani tersenyum simpul.
"Tapi, Hani..."
"Iya?"
"Aku gampang sakit sejak kecil. Fisikku gak sekuat Henry. Kalau udah demam tinggi, aku gak bisa ngapa-ngapain. Harus diurus dari makan, minum, sampai mandi. Kamu gak apa-apa?" tanya Erikc dengan nada ragu.