Sebagian orang percaya bahwa menjadi anak tengah berarti sering terlupakan. Bagi Erick, itu bukan sekadar mitos. Dia merasa terabaikan-ayahnya terlalu sibuk dengan kakaknya, sementara ibunya lebih fokus pada adiknya. Di tengah kesepiannya, Erick ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ruangan itu hening, hanya ada bunyi alat monitor yang berdetak pelan, seirama dengan napas lemah yang berusaha menemukan ritmenya kembali. Cahaya matahari sore menyelinap masuk melalui jendela, menyinari wajah seseorang yang telah lama terbaring tak bergerak.
Henry terus menatap wajah Erikc, saat tadi ia berbicara panjang lebar tentang ia akan menikahi Hani Erikc menggerakan jarinya. Bukan hanya jari yang bergerak, tapi kelopak mata Erikc yang tiba-tiba berkedut memberi harapan untuk henry.
Henry tersentak. Ia menatap dengan napas tertahan, tidak berani berharap terlalu tinggi.
Kemudian, dengan gerakan yang sangat lambat, mata Erikc terbuka. Pandangannya kosong, buram, seperti bayi yang baru pertama kali melihat dunia.
"Erikc..." suara Henry bergetar, setengah berbisik, seolah takut bahwa ini hanya ilusi.
Erikc mengerjap, menatap langit-langit, lalu berusaha menggerakkan kepalanya. Otot-ototnya terasa kaku, lehernya nyaris tak bisa digerakkan. Ia mengerutkan kening, mencoba memahami di mana dirinya.
Henry segera berdiri, mendekat dengan wajah penuh harapan. "Kau bisa dengar aku? Erikc?"
Tatapan Erikc perlahan beralih padanya.
Namun, yang terlihat di mata Erikc bukanlah kelegaan, bukan pula kebingungan karena telah tidur terlalu lama. Yang ada hanyalah kekosongan. Seperti seseorang yang menatap sesuatu yang asing.
Henry tersenyum, meskipun dadanya mulai terasa sesak. "Hei... kau akhirnya bangun," katanya pelan.
Tidak ada jawaban. Tidak ada respons.
Erikc mencoba membuka mulutnya, seolah ingin berbicara. Tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa kering, seakan sudah lama terlupakan fungsinya. Nafasnya tercekat, dadanya naik turun dengan lebih cepat.
"Tenang... tenang..." Henry buru-buru menggenggam tangannya, berusaha menenangkan. "Jangan memaksakan diri. Aku sudah panggil dokter!"
Erikc tiba-tiba meremas jemarinya dengan lemah. Henry membeku.
Erikc menatapnya lagi—dahinya berkerut seolah bingung apa yang terjadi padanya sehingga keadaannya menjadi seperti ini.
Dadanya masih terasa sakit bahkan setiap tarikan napasnya begitu berat Erikc meneteskan airmatanya karena menahan rasa sakit yang menghantam area dadanya.
Tak lama kemudian Dokter Retno datang bersama perawat yang mengikutinya dari belakang.
dokter perempuan itu menyalakan senter dan mengarahkannya ke pupil mata Erikc. Ia menghela napas panjang saat melihat pupil pasiennya akhirnya merespons cahaya.
"Dasar kau, huh...! Kenapa koma lama sekali? Kupikir ada masalah dengan operasiku. Sialan..." gumamnya, setengah kesal namun juga lega.
Henry, yang berdiri di sampingnya, terkejut. Apakah seorang dokter boleh mengumpat pasiennya seperti itu?