Hari ini hari terakhir KKN Zilan, seluruh anggota sudah mempersiapkan acara perpisahan kepada warga desa di daerah itu. Dimas selaku ketua anggota mengucapkan terimakasih kepada para warga desa dan kepala desa juga karena sudah memperlakukan dan menjaga mereka dengan baik selama melakukan kegiatan KKN di desa ini.
Seluruh warga desa juga berterimakasih kepada para anggota KKN karna sudah memberikan pelajaran dan pengetahuan yang berharga bagi kemajuan desa mereka. Para mahasiswa pun pulang kembali ke kampus untuk memberikan laporan hasil KKN mereka. Setelah selesai mereka kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.
Zilan dan Kesha sedang berada di mobil untuk perjalanan pulang mereka.
"Kakak.. Zilan capek banget" adu Zilan kepada Kesha. Kesha terkekeh sembari mengelus lembut surai hitam Zilan.
"Nanti sampe apartemen langsung tidur aja biar aku yang beresin barang-barang kamu" Zilan mengangguk.
Sesampainya di apartemen, Zilan langsung mengganti pakaiannya dan bersiap untuk tidur sedangkan Kesha membongkar koper Zilan untuk merapikan barang-barang milik Zilan. Setelah selesai membereskan barang-barang Zilan, Kesha mendapat telepon dari Kenny.
"Halo nona"
"Iya kenapa Ken?"
"Investor dari Jepang mengadakan rapat besok pagi di Bali nona, apakah anda bisa melakukan pertemuan disana?"
"Jam berapa?"
"Jam 9 pagi nona"
"Yaudah pesenin tiket pesawat sekarang aja, besok pagi kita berangkat"
"Baik nona"
Kenny menutup teleponnya. Kesha membersihkan dirinya dan setelah itu dia ikut berbaring disamping Zilan yang sudah larut kedalam mimpinya.
Pukul 10 malam Zilan terbangun dari tidurnya, dia melirik kearah sampingnya dan menyadari jika sisi tempat tidur itu kosong. Itu artinya Kesha masih berada di luar kamar. Zilan pun bangkit dari tidurnya dan memutuskan untuk mencuci mukanya terlebih dahulu.
Zilan keluar dari kamarnya dan benar saja, dirinya melihat Kesha yang sedang duduk di depan pantry dan fokus menatap layar laptopnya. Zilan memutuskan untuk memeluk Kesha dari belakang.
"Kakak gak tidur?" Tanya Zilan dengan suara sedikit serak karna baru saja bangun tidur.
"Bentar lagi, aku harus nyelesain dokumen ini dulu" Zilan mengintip dari belakang punggung Kesha.
"Kamu kenapa bangun? Laper?" Zilan mengangguk.
"Duduk dulu, aku siapin makan buat kamu. Tadi aku cuman masak ayam balado doang" Zilan mengambil tempat duduk di samping Kesha.
"Kakak masak apa aja Zilan doyan kok, lagian masakan kakak kan enak" puji Zilan. Kesha hanya terkekeh pelan, dia menyiapkan makanan untuk Zilan.
"Kakak gak makan?" Tanya Zilan sembari melahap nasi dengan potongan ayam balado itu.
"Aku udah makan tadi pas kamu tidur" Zilan mengangguk paham.
"Oh ya, besok aku mau ke Bali ada meeting disana. Kamu gapapa kan aku tinggal? Paling 2 sampe 3 hari doang" Zilan mengangguk.
"Zilan ikut boleh?" Kesha menggeleng.
"Gak usah, kamu istirahat aja dirumah. Paling lusa aku udah pulang kok" Zilan mencebikkan bibirnya.
"Sepi gak ada kakak" cicit Zilan. Kesha mengusak gemas surai Zilan.
"Nginep aja dirumah Kris atau Darren kalo gak di rumah Raven selama aku pergi" Zilan hanya berdehem.
"Liat besok deh" kata Zilan, dia kembali melanjutkan makan malamnya.
🍃🍃🍃🍃
Keesokan paginya Kesha sudah bersiap-siap akan pergi ke bandara, Zilan juga sudah bersiap-siap karna hari ini dosen meminta kehadiran mahasiswanya untuk menyerahkan beberapa tugas yang diberikan tempo hari.
"Kamu gak usah nganter aku ke bandara ya nanti kamu telat lagi" Zilan mengangguk.
"Nanti aku suruh Arsen awasin kamu selama aku pergi ke Bali" Zilan mengerutkan keningnya.
"Kenapa harus Arsen?" Kesha tersenyum.
"Kan Lauren sama Kenny ikut aku ke Bali, nanti kalo kamu butuh apa-apa kamu bisa bilang sama Graciella. Aku udah bilang sama Graciella semalem" Zilan mengangguk.
"Ayo aku anter ke kampus"
Kesha mengantar Zilan ke kampusnya terlebih dahulu, setelah itu dia pergi ke bandara.
Di kampus ekspresi Zilan badmood luar biasa, Raven yang menyadari itu pun menyenggol lengan Zilan.
"Lo kenapa? Muka Lo kusut bener" kata Raven. Karina yang kebetulan duduk disamping Raven pun ikut menoleh menatap Zilan.
"Gapapa, lagi gak mood aja" Zilan menopangkan dagunya keatas meja.
"Pasti kak Kesha lagi pergi, iya kan?" Zilan mengangguk malas.
"Kok kamu tau beb? Kamu mata-matain Zilan ya? Kok kamu jelalatan banget sih ngeliatin cowo lain selain aku?!" Karina menatap datar Raven. Zilan menoleh kearah Raven dan Karina.
"Kok Lo mau sama siluman biawak ini Rin? Lo di guna-guna ya?" Karina langsung tertawa ngakak mendengar penuturan Zilan, berbeda dengan Raven yang langsung berekspresi datar menatap Zilan.
"Iya kayaknya gua di guna-guna sama ni orang" kata Karina. Raven menatap sebal Karina.
"Ihh ayang Karina kok gitu sih?! Au ah sebel" Raven bersedekap dada di depan Karina dengan bibir di manyunkan khas seperti anak kecil yang merajuk. Karina terkekeh.
"Bercanda sayangkuh" Karina menepuk-nepuk pelan kepala Raven. Raven langsung mengeluarkan cengirannya dan memeluk Karina gemas.
"Sayang banget deh sama ayang, jangan selingkuh ya apalagi sama kembaran babi di samping aku ini" Zilan menatap tajam Raven. Raven hanya cengengesan di depannya.
Setelah selesai menyerahkan tugas miliknya, Zilan memutuskan untuk pergi ke rumah Raven karna di apartemen tidak ada Kesha. Zilan menghubungi Raven untuk menanyakan dimana keberadaannya. Saat sedang berjalan menyusuri taman yang sedikit senggang, tanpa sengaja bahu Zilan menyenggol seseorang. Zilan yang menyadari ini kesalahannya karna berjalan sembari melihat ponsel pun hendak meminta maaf kepada orang itu. Namun saat Zilan menatap wajah orang itu, dia terkejut bukan main. Wajah Zilan langsung pucat pasi. Orang itu tersenyum lebar di hadapan Zilan.
"H-hera?"
"Long time no see baby" Hera menyeringai lebar. Zilan beringsut mundur.
Hera mencekal pergelangan tangan milik Zilan dengan erat. Zilan berusaha melepaskannya.
"Lepasin tangan gua!" Hera menampilkan smirknya. Dia menyeret Zilan ke sebuah tempat yang lebih sepi.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKHESHA (BOOK 1 & 2)
Teen FictionSeorang wanita muda pebisnis sukses untuk sebuah perusahaan real estat di Indonesia, Rakhesha Aquino atau kerap disapa Kesha. Dia cantik, menawan, pintar dan lulusan Oxford bertemu dengan seorang siswa SMA yang nakal, arogan namun sialnya memiliki...
