Hera menatap Zilan dengan senyuman manisnya, sedangkan Zilan hanya menatap datar Hera.
"I Miss you Lan" kata Hera.
"Gua kangen banget sama Lo, gua udah berusaha cari-cari keberadaan Lo selama ini tapi hasilnya nihil" imbuhnya. Hera tiba-tiba maju dan memeluk Zilan.
"Dan pada akhirnya gua bisa nemuin Lo disini, gua seneng banget" Zilan pun reflek berusaha melepaskan pelukan dari Hera.
"Lepasin gua, kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi Hera" Zilan mendorong tubuh Hera.
"Lo gak kangen sama gua?" Zilan menggeleng.
"Gak! Sedikitpun gua gak pernah kangen sama Lo karna Lo udah buang gua dulu!" ketus Zilan. Hera meringis mengingat kilasan memori dulu saat dia mencampakkan Zilan.
"Gua minta maaf Lan, tapi beneran bukan itu yang gua mau" kata Hera seraya menampilkan wajah sedihnya. Zilan hanya memalingkan wajahnya saja.
"Lan, gua pengen perbaiki lagi hubungan kita dulu.. gua nyesel Lan" Hera menundukkan kepalanya.
Dia memegang kedua tangan Zilan. Tangan yang bahkan sampai sekarang masih terasa kelembutannya.
"Gua nyesel udah nyia-nyiain orang sebaik Lo Lan, gua khilaf waktu itu" kata Hera dengan nada yang sangat menyesal.
"Lo mau kan baikan lagi sama gua?" Hera menatap mata Zilan. Mata yang memancarkan kelembutan di setiap pancaran penglihatannya.
Zilan hanya diam saja, dia melepaskan genggaman tangan Hera dari tangannya.
"Maaf Hera, gua masih belum bisa maafin Lo" ucap Zilan.
"Semua perlakuan Lo, kata-kata Lo dan segala hal buruk yang pernah Lo lakuin ke gua itu masih terekam jelas di ingatan gua" lirih Zilan.
Hera menyesal, dia benar-benar menyesal saat ini. Dia merindukannya 'Zilan manisnya' lagi.
"Gua tahu Lan, seribu maaf pun gak bakal bisa nutupin semua kelakuan buruk gua ke Lo"
"Gua cuman pengen Lo maafin gua dan perbaiki lagi hubungan kita kedepannya Lan"
Zilan mengingat jelas semua perlakuan Hera padanya. Hera yang dulu memaki-maki dirinya, selalu merendahkannya, bahkan tidak segan memukulnya jika temperamen Hera kambuh.
"Maaf gua gak bisa" Zilan hendak pergi dari hadapan Hera tetapi Hera mencegahnya.
"Kita belum selesai bicara Zilan" Zilan menggeleng.
"Gua udah selesai, gak ada yang perlu kita bahas lagi disini" Zilan berjalan menjauh dari Hera, namun siapa sangka jika Hera berlari mengejar Zilan dan memeluknya erat dari belakang.
"Gua kangen Lo Lan"
Zilan yang kaget pun terhuyung ke depan. Dia melebarkan matanya saat merasakan pelukan dari Hera.
"Hera lepasin!" Teriak Zilan. Hera menggeleng keras kepala.
"Gua gak akan biarin Lo pergi kali ini" Hera semakin mengeratkan pelukannya. Zilan semakin panik, dia takut ada yang melihatnya seperti ini dan salah paham.
"Lepasin Hera!! Gua gak mau orang lain liat dan salah paham!" Bentak Zilan, dia berusaha melepaskan pelukan Hera.
"Gak! Gua gak akan ngelepasin pelukan ini" Hera semakin erat menautkan kedua tangannya.
Hingga sebuah suara menginterupsi mereka.
"Lepasin Zilan!" Zilan mendongak kaget, Hera pun melepaskan pelukan Zilan untuk melihat pemilik suara itu.
"Karina?" Lirih Zilan. Karina berjalan mendekat kearah Zilan dan menarik tangan Zilan ke arahnya. Hera menatap penasaran ke arah Karina.
"Ngapain Lo peluk-peluk Zilan hah? Ngapain?!" Bentak Karina.
"Siapa Lo berani bentak-bentak gua? Kenal Lo?!" Hera membalas dengan nada tak kalah tinggi dari Karina. Hera menoleh kearah Zilan.
"Dia siapa Lan? Pacar Lo?" Zilan hanya diam saja.
"Gua temennya, Zilan itu udah punya pacar ya dan Lo gak usah gatel jadi cewe!" Sarkas Karina.
"Oh jadi Lo udah punya cewe Lan? Pantes aja gua ajak baikan gak mau" Hera menatap pongah kearah Karina.
"Baikan apa balikan? Lo mantan Zilan yang gagal move on ya? Pantes masih GATEL" Karina menatap remeh kearah Hera. Itu membuat Hera semakin menjadi naik darah.
"Lo?!!" Hera menunjuk kearah Karina dengan emosi dan Karina hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Udah Rin, kita pergi aja dari sini.. gak usah ngeladenin orang gak waras" ajak Zilan. Zilan menggandeng tangan Karina untuk pergi menjauh dari Hera. Hera menghentakkan kakinya kesal.
Karina menggandeng Zilan untuk pergi ke tempat dimana Raven sudah menunggu mereka.
"Eh eh eh.. ada ape nih? Ngapain Lo pegang-pegang tangan ayang gua hah?" Raven segera memisahkan tautan tangan Karina dan Zilan.
"Rin, makasih ya udah nolongin gua tadi" Karina mengangguk.
"Santuy aja, gua udah dapet pesen dari kak Kesha buat jagain Lo selama kak Kesha pergi ke luar kota" Zilan mengangguk lega.
Hal sepele seperti ini yang membuat Zilan benar-benar jatuh cinta kepada Kesha. Zilan sadar, jika Kesha tidak ada disekitarnya pasti banyak hal buruk yang akan terjadi kepada dirinya. Itu mengapa jika Kesha sedang berada di luar jangkauan Zilan, Kesha pasti akan selalu menempatkan seseorang sebagai bayang-bayang disekitar Zilan untuk menjaganya.
Kesha akan memastikan keamanan Zilan walaupun dia tidak berada disisi Zilan. Kesha tidak akan membiarkan hal buruk menimpa Zilan, apalagi jika itu karna dirinya.
"Emang tadi Zilan kenapa beb?" Tanya Raven penasaran.
"Gatau tadi, ada cewe katanya si mantannya Zilan dia maksa-maksa buat peluk Zilan gitu" jelas Karina. Raven mengerutkan keningnya dan menoleh kearah Zilan.
"Beneran mantan Lo?" Tanya Raven.
"Hm" singkat Zilan.
"Yaudah sekarang Lo mau pulang dulu apa langsung ke rumah Raven aja?" Tanya Karina.
"Gua pulang dulu aja Rin, ganti baju sama mandi sekalian nanti habis itu langsung otw ke rumah Raven" Karina dan Raven mengangguk bersamaan.
"Hati-hati ya" Zilan mengangguk.
Zilan pun memutuskan untuk kembali ke apartemen terlebih dahulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKHESHA (BOOK 1 & 2)
Teen FictionSeorang wanita muda pebisnis sukses untuk sebuah perusahaan real estat di Indonesia, Rakhesha Aquino atau kerap disapa Kesha. Dia cantik, menawan, pintar dan lulusan Oxford bertemu dengan seorang siswa SMA yang nakal, arogan namun sialnya memiliki...
