"Mau kemana, keponakanku tersayang?"
Jean dan Noel sama-sama menghentikan langkahnya. Sosok wanita cantik, kini dengan anggunnya berdiri dihadapan keduanya.
Seperti ancaman, keduanya dalam posisi bersiap. Jean sudah mengangkat tangan kiri dan Noel meraih sesuatu yang berada di dalam saku celana. Jean sendiri perlahan memposisikan dirinya agar dapat menutupi Noel, tidak memberikan Brigitte untuk dapat melihat yang lebih muda.
Keduanya tidak mengatakan apapun, begitu waspada sampai tidak sadar kalau dalam sekejap Brigitte sudah tepat berada di jarak begitu dekat dengan Jean.
"Apakah kalian tidak pernah diajarkan sopan santun?"
Cahaya biru muncul dari tangan Brigitte, mengarahkan langsung pada Jean yang begitu sigap. Pria surai hijau ikut mengeluarkan cahaya sewarna dan menimbulkan warna putih begitu bertabrakan.
Berkat itu Noel merasa seperti angin mendorongnya. Terhuyung, Noel hampir tidak bisa menjaga keseimbangan. Cahaya menghalangi penglihatan, sampai ia sendiri harus menutup mata dengan tangan berkatnya.
Perlahan Noel menurunkan tangan, menyesuaikan penglihatan dengan sekitar. Disana Noel melihat Jean dan Brigitte berhadapan satu sama lain. Cahaya perlahan meredup dan terlihat Jean yang terlihat sedikit terengah-engah. Ia menatap Brigitte dengan sorot mata penuh tajam. Kedua tangan Jean masih terangkat, memancarkan sisa-sisa energi yang berkedip seperti bintang kecil di atas langit.
Brigitte sendiri terlihat tidak terpengaruh. Senyum tipis menghiasi wajahnya, seolah situasi tadi hanya permainan kecil yang tidak layak membuatnya lelah.
"Ah, Jean. Aku tidak menyangka kau akan berkembang sejauh ini. Tapi...,"
Brigitte mengangkat satu jarinya, lalu dengan gerakan cepat ia mengibaskan tangan seperti membuang debu. Sebuah dorongan angin kuat langsung menghempas Jean mundur beberapa langkah.
"Noel!" Jean berteriak, memperingatkan pemuda itu untuk mundur. Tapi sebelum Noel bisa bereaksi, Brigitte sudah bergerak. Tubuhnya meluncur seperti bayangan, mendekati Noel dalam hitungan detik. Noel tidak sempat menyerang membuat Brigitte lebih cepat mendorong dirinya. Meski hanya tersentuh, energi yang dikeluarkan begitu besar. Noel terlempar, membuat dirinya terbang menabrak pilar besar di belakang.
Suara retakan terdengar, Noel bersiap untuk merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya.
Hanya saja rasa sakit yang ia rasakan tidak seperti yang ia pikirkan. Rasanya memang sakit. Tetapi seperti ia menabrak bantal keras saat ini.
Noel membuka mata. Ia melihat didepan sana ada Brigitte yang tersenyum. Meringis pelan, Noel menegakkan tubuh. Tetapi suara napas dibelakang mengalihkan perhatiannya.
Noel melihat kebelakang. Pilar yang tetabrak sudah terdapat bapak retakan disana. Bisa hancur manusia jika berhasil menimbulkan keresahan itu. Tetapi perhatian Noel sepenuhnya para pria surai hijau, yang berada tepat di belakangnya saat ini
"..Jean?"
Ia terbelalak melihat keadaan Jean duduk di belakangnya. Terdapat darah mengalir membasahi pelipis. Bibirnya mengeluarkan darah, yang mana cukup banyak. Dan akhirnya Noel tahu mengapa rasa sakitnya tidak begitu menyakitkan.
Jean membiarkan dirinya menjadi tameng untuk melindungi Noel.
Rasa sesak muncul di dada.
Ada yang salah.
Noel tidak pernah tahu Brigitte akan menjadi penghalang bagi mereka. Bahkan sangat kuat, Noel yakin dirinya akan langsung mati jika berhadapan dengan Brigitte.
Eloise mengkhianati mereka, dan muncul sosok yang tidak pernah muncul di dalam e book.
Apa semua ini terjadi karena perubahan yang Noel lakukan?
Manik dan tubuhnya gemetar. Noel menatap Jean takut.
"...kenapa.. Jean?"
Suaranya gemetar. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi semua kata-kata yang ingin dilontarkan tersangkut di tenggorokan.
Jean tersenyum tipis, meski darah masih mengalir melalui bibirnya. "Itu tugas ku.., bukan? Melindungimu." Napasnya terdengar berat, dan suaranya begitu lemah.
Noel menggeretakkan gigi. Air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan.
Ia merasa kesal tidak dapat melakukan apapun. Ia merasa kesal karena semuanya tidak sesuai rencananya.
"Kau bodoh."
Noel menunduk, tangan mengepal erat. Di depan sana Brigitte masih berdiri angkuh. Manik kuning kehijauan memperhatikan mereka berdua tajam. Seolah seekor ular yang sedang menikmati momen sebelum menyerang mangsanya.
"Menarik."
Suara langkah kaki terdengar bergema. Noel meyadari tidak ada suara pedang beradu seperti sebelumnya. Hal itu membuat bulu kuduknya naik.
Apa yang terjadi pada Pascal?
"Aku benar-benar terkesan, Jean. Kau mau mengorbankan dirimu untuk bocah ini." Suara Brigitte memecahkan keheningan. Langkah kakinya terhenti beberapa meter didepan Noel. Tatapannya kini beralih ke prihatin. "Sayang sekali, tindakan heroikmu hanya memperpanjang waktu yang tak ada gunanya."
Noel menoleh ke arah Brigitte dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini bukan ketakutan, melainkan kemarahan dan rasa benci yang mendalam. Ia berdiri, meski tubuhnya terasa berat.
"Kau bahkan mirip seperti ibumu, Iris. Yang berharap di lindungi dan mendapatkan semua yang di inginkannya."
Noel menjadi kaku. Ucapan Brigitte yang secara tiba tiba membahas sang ibu membuatnya terdiam.
"Maksudmu?"
"Noel..." Jean memanggil pelan, tidak dihiraukan oleh Noel yang sudah berdiri.
"Apakah aku bisa memberitahunya, Jean?"
Brigitte tersenyum jahat, melihat bagaimana Jean berusaha bangkit dari duduknya. Terlihat tubuhnya menoleh untuk bergerak, tetapi dipaksakan sehingga terbatuk darah kembali.
"Brigitte... cukup!" ujarnya parau.
Namun, Brigitte hanya tertawa kecil, menikmati pemandangan di harapannya saat ini.
"Noel,"
Panggil Brigitte. Menatap langsung manik merah Noel yang bergetar menatapnya. "Apakah kau benar-benar ingin tahu? Tentang ibumu? Tentang siapa kau sebenarnya?"
Noel membeku. Ucapan Brigitte membuat Noel berkecamuk. Ia hanya tahu kalau Iris adalah keturunan Ignatius yang terkuat dan memiliki mana besar. Dan sekarang, Brigitte membawa nama itu dengan nada penuh racun. Sepertinya ada hal yang memang tidak Noel ketahui.
Matanya yang mirip dengan milik Iris itu tidak pernah lepas dari Noel.
"Hal yang tidak kau ketahui adalah.," Ia tersenyum lebih lebar, memperlihatkan giginya yang sempurna, "... adalah kunci dari alasan mengapa semesta ini menjadi kacau."
Jantung Noel seolah terhenti.
Seorang Brigitte mengetahui perihal semesta.
Noel mengerutkan kening, memilih untuk bertanya. "Apa maksudmu?"
"Ah, jadi kau belum memberitahunya, Jean?" Brigitte berpura-pura terkejut, lalu menatap Jean dengan senyum paslu di bibir. "Atau mungkin kau bahkan tidak tahu seluruhnya? Tidak apa-apa, biar aku yang menjelaskannya."
"Sialan, Brigitte!"
Jean mengangkat tangan, kembali mengeluarkan energi biru untuk menyerang. Dengan cepat tangannya meraih Noel, membawa tubuh kecil ke dalam pelukan.
"Jangan dengarkan wanita itu."
Kemudian sekitar berubah dengan cepat. Tidak lagi ruangan dengan arsitektur kekaisaran, melainkan ruangan putih bersih yang sebelumnya sering Noel kunjungi.
"Ini kan.."
"Space."
Belum sempat Noel menjawab, dari belakang terdengar suara laki-laki familiar.
Noel menoleh.
"...dewa?"
.
.
.
To be continued
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Noel
FantasiaHidup sebagai Fudanshi veteran sudah menjadi kenikmatan bagi Christ. Di tambah seluruh asupan yang ia miliki berasal dari sahabatnya, Milo. Bagaimana jika salah satu asupan Milo menjadi boomerang baginya? Akankah Christ bisa menghadapinya atau bahka...
![[BL] Noel](https://img.wattpad.com/cover/332746767-64-k946865.jpg)