Sixteenth (Act 2)

798 40 4
                                        

Lorong yang mereka lalui terhitung sempit dan gelap. Terbantu oleh cahaya dari lentera yang di bawa oleh Pascal di depan. Suara langkah kaki bergema, membuat setiap gerakan terdengar berisik meski sudah berjalan dengan pelan dan berhati-hati.

"Sudah lama sejak aku berada di sini."

Pascal bergumam rendah. Terdengar menakutkan di lorong yang sempit ini. "Lorong ini digunakan untuk jalur pelarian para bangsawan jika istana di serang."

Noel mengangguk singkat. Fokusnya tertuju pada ujung lorong yang tampak begitu gelap dan seolah tidak berujung. Tangannya menggenggam tangan besar Jean, yang entah bagaimana nyaman untuk di pegang.

"Tapi lorong ini aman kan, kak?" Tanya Noel memecahkan keheningan.

"Seharusnya aman." Jawab Pascal tanpa menoleh. "Tetapi jika ada jebakan jangan terkejut. Kaisar orang yang begitu paranoid."

Mendengar itu Noel menelan ludah kasar. Jantungnya berdegup lebih cepat dan kini melihat kebawah takut akan ada jebakan yang tidak sengaja ia injak nantinya.

Ia tidak bisa membiarkan rasa takut menguasainya. Ia harus tetap terlihat tenang.

Meski begitu, Jean menyadarinya. Wajah Noel begitu kaku meski diposisi ruang yang remang-remang ini. Yakin kalau yang termuda mencoba untuk menepis rasa takut dan tetap tenang.

Berjalan beberapa meter, sampai akhirnya ketiganya menemukan pintu baja yang sangat kokoh meski ada karat di beberapa bagian. Pascal perlahan menyentuh permukaan pintu baja. Mencoba meraba-raba sampai akhirnya menekan sesuatu di sisi kanan yang membuat pintu sedikit terbuka tanpa suara.

"Ini apa?"

Pascal membuka pintu semakin lebar membiarkan Noel dan Jean masuk ke dalam terlebih dahulu. Terlihat sebuah ruangan besar dengan beberapa barang berdebu dibiarkan tersimpan begitu lama. Barang-barang yang memiliki nilai tinggi terpajang, membuat Noel berpikir keluarga kekaisaran benarlah sangat kaya.

"Ini ruang penyimpanan. Lewat samping kita bisa langsung menyelinap ke aula utama."

Pascal perlahan menutup pintu. Berjalan mendahului Jean dan Noel untuk menunjukkan arah kepada keduanya. Berjalan begitu pelan, ketiganya melewati beberapa peti-peti yang di susun tinggi yang seperti memberikan jalan untuk mereka.

Berjalan beberapa langkah, didepan mereka Pascal memberi isyarat menggunkana tangan kiri untuk berhenti. Mendekatkan diri ke salah satu dinding, telinga ditempelkan untuk mendengar sesuatu di seberang sana.

"..."

"Ada apa kak?"

Pascal kembali memberi isyarat agar Noel dan Jean tetap diam. Raut wajah tegang, fokus sepenuhnya terarah pada suara samar yang didengarnya dari balik dinding. Noel memegang lengan Jean lebih erat, rasa gugup kembali muncul didalam dirinya.

Setelah beberapa detik, Pascal berbisik. Nyaris tidak terdengar jika Noel tidak fokus.

"Ada yang berjaga di aula."

Jean maju selangkah, setelah mencoba memberikan senyuman tipis untuk menenangkan.

"Berapa orang?"

"Sulit untuk memastikan. Tapi aku mendengar ada dua orang berbicara atau lebih."

Jean mengerutkan kening. Kemudian menutup matanya. Menggunakan sihir yang ia miliki untuk mengetahui jumlah orang yang berjaga pada aula saat ini. Ketika selesai maniknya menampilkan warna hijau terang, yang berbeda dari biasanya yang Noel lihat.

"Empat orang." Jean bergumam, "Dua berdiri di dekat pintu utama, yang satu berpatroli di pinggir ruang dan yang satu menjaga pintu belakang."

"Lalu bagaimana kita masuk?"

[BL] NoelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang