70. END

351 8 3
                                        

Satu minggu telah berlalu sejak kepergian Alyssa, meski begitu suasana duka dan kesedihan tetap menyelimuti keluarga Obelia.

Kondisi keluarga itu benar-benar hancur. Ben masih berada di rumah sakit jiwa dengan penjagaan ketat, karena lelaki itu kerap kali melakukan percobaan melukai diri sendiri. Rasa putus asa dan penyesalan yang mendalam membuatnya tidak ingin hidup lebih lama.

Sementara Steven, lelaki itu pergi entah kemana. Yang jelas setiap hari Steven pergi keluar dan dini hari baru pulang, itu pun Steven langsung masuk ke kamarnya. Tidak ada ekspresi di wajah, tatapannya kosong dan tidak ada binar kehidupan di matanya.

Selanjutnya, Daniel. Lelaki itu masih setia mengunjungi makam Alyssa setiap hari, membawakannya bunga lalu berdiam diri disana hingga Aska menjemputnya. Ya, saat ini Aska menjadi pengawal pribadi Daniel.

Daniel memintanya melakukan itu karena ia setiap hari ingin mendengar cerita Alyssa dari Aska. Setiap kali mendengarnya, sudut bibir Daniel tertarik ke atas. Matanya selalu menatap sendu ke arah gundukan batu itu.

Sedangkan Aska sendiri, meski ia diliputi rasa sedih yang mendalam. Tapi lelaki itu masih bisa mempertahankan kewarasannya, ia sangat sedih sama seperti yang lainnya. Namun, ia berusaha untuk ikhlas. Hanya Aska yang mengerti penderitaan Alyssa meski baru beberapa bulan menjadi pengawal pribadinya.

"Tuan, mari kita pulang." Ucap Aska pelan sembari mendekati Daniel.

Aska bisa jelas melihat bagaimana perasaan Daniel selama menjadi pengawal pribadinya beberapa hari ini. Lelaki itu sungguh menyayangi adiknya dengan tulus. Mungkin hanya karena kurangnya komunikasi sehingga banyak penyesalan yang didapatkan.

"Princess, kakak pulang dulu ya. Besok kesini lagi nemenin kamu." Mata Daniel terlihat begitu lelah dan tatapannya tak setajam biasanya.

Daniel yang sekarang benar-benar terlihat sangat rapuh.

"Tuan, mari!"

Daniel berdiri lalu mengikuti Aska menuju mobilnya. Aska dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Daniel dan mempersilahkannya masuk.

"Aska, ceritakan tentang Alyssa." Ucap Daniel lirih.

Aska diam-diam menghela napasnya. "Tuan, tidak ada cerita lagi. Saya sudah menceritakan semuanya kepada anda."

"Tidak apa-apa. Ceritakan lagi, aku selalu senang mendengarnya."

Aska terdiam beberapa saat, ekspresi wajahnya terlihat sedih. "Nona, sesayang ini tuan kepada anda." Batin Aska.

***

Sesampainya di rumah, Daniel melihat Terry dan juga Kai yang mengenakan jas kantoran tengah duduk di ruang tengah.

Daniel tidak memperdulikan mereka dan hendak berniat langsung menuju kamar Alyssa. Ya, begitulah kehidupan Daniel.

Semenjak kepergian Alyssa, ia selalu ingin tau semua tentang adik bungsunya dan tidak ingin melepaskan barang-barang yang berkaitan dengannya.

"Tunggu Kak!" Cegah Terry berdiri menahan lengan Daniel.

"Apa?" Jawab Daniel tanpa minat.

Mata Terru bergetar melihat kondisi Daniel yang sekarang. Tubuh yang semakin kurus, rambut berantakan, dan mata yang kehilangan semangat.

"Kak, gue mohon lo harus bangkit lagi kak! Obelia butuh lo." Mohon Terry dengan suara yang bergetar.

Daniel memalingkan wajahnya. "Gue ngga peduli."

"Kak Daniel!" Terry menarik lengan Daniel agar melihat ke arahnya. "Kak, apa kakak mau melihat Obelia hancur? Gue bener-bener mohon sama lo kak, bangkit dan kembali lah."

Possessive Brother Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang