Setelah acara pemakaman selesai, tersisa Daniel dan juga Steven disana. Mereka berdua masih setia menatap gundukan tanah yang masih basah itu.
Dengan mata yang masih sembab dan bengkak. Steven menatap batu nisan itu dengan nanar.
"Alyssa.. lo kenapa ninggalin kita?" Ucapnya lirih dan pelan.
Bayangan sekelebat tentang momen kebersamaan mereka saat di pantai tiba-tiba terlintas. Bibir Steven bergetar menahan isakan tangis.
"Harusnya kita gausa ke pantai kalo tau akhirnya seperti ini." Kata Steven lemah lalu menoleh pada Daniel.
"Iya kan kak?"
Daniel yang berada di seberangnya hanya diam dengan tatapan kosong.
"Ini semua salah kakak. Maaf." Ucap Daniel sangat pelan.
Steven kembali menangis lalu pergi meninggalkan Daniel sendirian. Sementara itu, bola mata Daniel bergetar sesaat setelah ia ditinggal sendirian.
"Alyssa.. maaf." Daniel menarik napasnya dalam kala dadanya mulai terasa sesak.
"Maaf kakak gagal menjagamu. Kakak tau seberapa menderita kamu selama ini karena perasaan Ben." Daniel memejamkan matanya erat, bulir bulir air mata mulai membanjiri wajahnya.
"Seharusnya kakak langsung bertindak setelah mengetahui penyimpangan Ben. Maaf kakak telah mengabaikan hal itu selama ini, kakak kira masih memiliki waktu untuk menyadarkan Ben pelan-pelan. Ternyata.."
Daniel mengusap air matanya kasar. "Semua salah kakak. Maafin kakak, Al. Jangan hukum kakak seperti ini."
***
Di tempat lain, Ben dikurung di salah satu ruangan di Rumah Sakit Jiwa. Keadaannya begitu memprihatinkan, ia selalu berusaha melakukan tindakan b*nuh diri selagi ada kesempatan.
Salah satu matanya diperban akibat tindakan Ben kala itu. Beberapa lengan dan wajahnya juga lebam dan ikut diperban juga.
Ben terbaring lemah di brankar rumah sakit. Menatap kosong langit ruangan itu. Disampingnya ada earphone dan ponsel miliknya, Ben terus menerus memutar dan mendengarkan voice note Alyssa yang tersimpan.
"Kak Ben, lo sekarang dimana? Gue kangen sama lo. Gue kesepian disini."
Suara Alyssa yang lembut memenuhi telinga Ben. Lelaki itu terus menerus memutar ulang semua voice note Alyssa, hingga sampai dimana suara merdu Alyssa terdengar.
"Say you love me, say you love me
Segyeui kkeutkkaji
All or nothing, I want all of you.."
Ben duduk termenung mendengarkan suara Alyssa bernyanyi, detik kemudian ia pun ikut bernyanyi dengan nada rendah dan pelan.
"Say you love me, say you love me
Segyeui kkeutkkaji
All or nothing, I give all of you."
Ben bernyanyi sembari mengingat kebersamaannya dengan Alyssa. Air matanya mengalir tanpa izin.
"Jika ada kehidupan lain, gue harap kita bisa bertemu lagi Al, tapi bukan sebagai kakak-adik." Ucap Ben menundukkan kepalanya.
.
*Flashback ON*
Kala itu Ben masih duduk di bangku SMA. Setiap harinya, ia selalu ikut balap motor dan selalu pulang telat.
Ben tidak terlalu memperhatikan Alyssa saat itu, karena ia yakin Alyssa pasti baik-baik saja berada di rumah.
"Woi Ben! Lo ikut ngga malem ini? Hadiahnya lumayan besar nih." Seru Damian, sahabat Ben.
Ben terdiam sesaat dan melirik sekilas jam tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Brother
Mystery / Thriller[MAIN STORY END] Alyssa memiliki 3 kakak laki-laki yang sangat posesif. Masing-masing dari mereka memiliki cara untuk melindungi adik bungsunya. Mereka memiliki kisah yang rumit. Semuanya memiliki rahasia yang mereka simpan dan mereka bagikan kepada...
