Tiga tahun berlalu.
.
.
Pemuda tampan berjas navy berjalan menuju ruang tengah mansion. Wajah yang semakin dewasa memperlihatkan ketegasan dan aura yang cukup kuat.
"Selamat datang tuan muda." Sapa salah satu pelayan.
"Dimana kakak?" Suara yang lembut namun penuh percaya diri.
"Ada di kamarnya."
"Aku mengerti."
Lelaki itu melangkahkan kaki menuju kamar seseorang yang sangat berharga baginya.
"Kak, ini aku." Pemuda itu membuka pintu perlahan dan melihat seseorang yang sudah ia anggap sebagai kakak, berbaring lemah di kasur.
"Udah dateng? Gimana kerjaan lo?" Nada lemah namun masih terdengar jelas.
"Semua aman, kak Terry."
Terry, lelaki itu tersenyum bangga.
"Udah gue duga lo itu berbakat, Aska."
Aska tersenyum tipis menanggapi. kemudian, ia mengambil kursi dan duduk di samping kasur.
"Gimana sama keadaan lo, kak?" Tanya Aska berhati-hati.
Terry mengangguk kecil. "Seperti yang lo liat, gue udah baik. Minggu depan gue udah bisa mulai aktivitas normal lagi."
"Baguslah kalau gitu."
Aska melihat Terry dengan tatapan rumit. Setelah tragedi tiga tahun lalu, Aska yang mengatur semuanya hingga dimana datang sebuah keajaiban.
Kala itu saat proses evakuasi. Ben, Daniel, dan juga Kai dinyatakan meninggal di tempat. Berbeda dengan Steven dan Terry yang saat itu masih bernapas lemah.
Sontak melihat hal itu, tim evakuasi langsung memprioritaskan Steven dan Terry untuk dibawa ke rumah sakit. Namun naas, Steven meninggal dalam perjalanan. Berbeda dengan Terry yang masih bertahan sehingga setibanya ia di rumah sakit. Terry langsung mendapatkan perawatan intensif.
Terry sempat dinyatakan koma selama hampir 1.5 tahun. Aska, Ale, dan juga Theo bekerjasama untuk tetap menjaga kestabilan Obelia. Pemakaman para tuan muda juga dilaksanakan secara privat dan tidak ada yang tau. Mereka semua dimakamkan di sebelah makam Alyssa.
Selama waktu itu, Aska mengambil alih posisi sementara Daniel dibantu oleh Theo hingga tiba dimana ia mendapatkan kabar bahwa Terry sudah sadar.
Aska langsung menemui Terry yang kala itu masih dalam keadaan trauma dan beberapa tulang rusuk serta kakinya juga mengalami patah tulang, sehingga membuatnya semakin lemah dan tidak bisa bergerak bebas.
Terry saat itu hanya bisa merespon melalui mata, dan Aska selalu menemani dan memperhatikan Terry selama perawatan.
Keduanya menjadi semakin dekat hingga Terry memutuskan untuk mengangkat Aska menjadi adik angkatnya dan menyerahkan Obelia kepadanya.
"Aska, setelah gue bisa beraktivitas normal lagi. Ayo kembali ke Indonesia, udah 3 tahun gue belum jenguk mereka." Terdengar nada sedih dan sendu, ekspresi Terry juga terlihat begitu memendam rasa kesedihan yang mendalam.
"Iya kak, nanti kita balik ke Indonesia buat bertemu nona."
"Panggil dia Alyssa, Aska. Dia sudah menjadi sepupumu sekarang."
Aska tersenyum tipis dan menunduk. "Iya kak."
***
Tiga minggu kemudian.
Aska bersama Terry memandangi sekeliling dengan mata penuh kerinduan, langkahnya penuh keraguan. Kini mereka berada di depan rumah milik Alyssa, rumah yang dulu dibelikan Steven untuk Alyssa dan menjadi tempat tinggal keempat bersaudara itu.
Rumah minimalis modern yang penuh kenangan dan juga duka. Helaan napas berat terdengar di telinga Aska membuatnya menoleh pada Terry.
"Mau masuk kak? Selama ini gue udah nyuruh orang buat selalu bersihin dan jaga rumah ini." Aska berbicara menggunakan bahasa Indonesia setelah sekian lama, ada terbesit rasa rindu namun menyakitkan.
"Nanti aja. Kita ke makam dulu yuk!" Ajak Terry.
Aska mengangguk dan mengikuti Terry di belakangnya. Mobil sudah menunggu mereka dan tepat setelah masuk, mobil itu langsung melaju menuju rumah keempat bersaudara itu.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat peristirahatan Obelia bersaudara. Saat kaki Terry menginjak tanah di area makam, matanya mulai memerah. Ia berusaha untuk menahan tangisnya karena perasaan rindu dan kesepian yang datang menghampiri.
"Ayo kak, disini" kata Aska menunjukkan jalan.
Terry melihat batu nisan yang berjejer lima dan ditengah-tengahnya adalah princess mereka. Alyssa Milana Obelia. Terry bersimpuh di tengah-tengah batu nisan itu dan menangis keras.
"Kenapa kalian meninggalkanku!? Kalian semua kejam.." Terry menumpahkan perasaannya yang selama ini ia pendam.
Aska yang mengerti hal itu memberikan ruang bagi Terry dan diam-diam menghapus air matanya.
Beberapa menit berlalu, setelah Terry sedikit tenang. Ia mulai menebarkan bunga satu per satu untuk mereka.
"Kak Daniel, sekarang gue ngerti gimana rasanya jadi pemimpin yang harus bertanggungjawab atas semuanya. Obelia bakal gue jaga buat lo." Kata Terry menatap sendu nisan yang bertuliskan Daniel Milano Obelia.
Sementara Aska ikut duduk disamping Terry menebarkan bunga untuk Daniel. "Tuan, tiga tahun ini saya menggantikan posisi anda dan menjaga apa yang telah anda jaga selama hidup anda. Saya mengerti semua kekhawatiran dan beban yang anda rasakan. Anda sangat hebat tuan, anda benar-benar idola yang sangat saya kagumi. Terimakasih sudah menyelamatkan saya kala itu. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari Obelia dan pernah melayani anda." Aska menumpahkan perasaannya selama ini.
Terry menepuk pundak Aska dan tersenyum tipis. "Kak, Aska sekarang jadi bagian Obelia. Dia adik gue, jadi sekarang gue ngga sendirian. Tolong sampaikan permintaan maaf gue ke Alyssa ya."
Setelah dari pemakaman, mereka berdua kembali ke rumah Alyssa. Keduanya duduk di ruang tengah termenung dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Terry kembali mengingat dan mengenang masa-masa dimana mereka menghabiskan waktu bersama. Masa ketika dirinya selalu dimarahi oleh Daniel, ketika dirinya berdebat dengan Ben, dan ketika dirinya curhat dengan Steven.
Terry menarik napasnya dalam. Padahal ia baru saja bertemu Alyssa dan kembali merasakan hangatnya persaudaraan mereka. Namun, kini ia ditinggalkan sendiri.
Ada rasa menyesal di dalam diri Terry. Mengapa saat itu ia tidak menarik Daniel keluar dan memaksanya untuk tidak ikut ide gila Ben.
"Kak Terry," panggil Aska.
Terry spontan menoleh. "Ada apa?"
"Sekarang kita akan melakukan apa?" Aska terdiam sesaat sebelum melanjutkan bicara. "Tiga tahun ini, banyak para media yang mencari informasi mengenai Tuan Daniel. Dan sudah ada beberapa rumor yang menyebar tentang berita kematian mereka. Sampai kapan kita akan menutupinya?"
"Sebentar lagi, Aska. Gue masih ngga mampu untuk berdiri menggantikan Kak Daniel secara resmi. Posisi itu hanya cocok untuknya, lo tau itu kan."
Aska mengangguk sebagai tanda setuju.
"Nanti kita bicarakan lagi sama Theo untuk masalah ini."
"Iya kak."
Setelah itu, keduanya menikmati hari dan mengenang masa-masa ketika Obelia bersaudara sering bertengkar, berdebat bahkan memperebutkan perhatian Alyssa. Masa yang sungguh singkat namun sangat bermakna bagi Terry maupun Aska.
.
.
Gimana extra part nya?🙈
Adakah yang kangen Ben, Steven sama Daniel?
Terimakasih sudah membaca sampai akhir💕
- A.W.S
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Brother
Mystery / Thriller[MAIN STORY END] Alyssa memiliki 3 kakak laki-laki yang sangat posesif. Masing-masing dari mereka memiliki cara untuk melindungi adik bungsunya. Mereka memiliki kisah yang rumit. Semuanya memiliki rahasia yang mereka simpan dan mereka bagikan kepada...
