Extra Part - 3

15 2 0
                                        

Mereka duduk dan tertawa bersama, mendengar celetukan Ben dan Kai yang sedang membuat lelucon. Terry tersenyum lebar, ia juga mengusap rambut Alyssa penuh perhatian dan senang melihat semua saudaranya berkumpul.

Momen yang sangat ia nantikan akhirnya bisa dirasakan. Meski hatinya terasa mengganjal akan sesuatu. Tapi itu semua tidak dihiraukannya, Terry terlalu terlena akan kebahagiaan yang ada didepan mata.

"Gimana sama kuliah lo, Ben?" Tanya Steven.

"Gila tugasnya banyak banget! Gue sampe stress," Balas Ben dengan drama.

"Sama. Kerjaan gue juga banyak, bedanya hasil kerjaan gue tetep cakep. Kaya orangnya." Sahut Daniel sambil menyugar rambutnya dengan percaya diri.

Ben membalasnya seakan ingin muntah, Steven menatap Daniel dengan tatapan jijik, sedangkan Alyssa memperlihatkan wajah terkejutnya.

"Gue ngga nyangka lo bisa se-narsis itu kak," kata Alyssa.

"Bukan narsis, Al. Tapi emang kenyataan aja."

Ben memutar bola matanya. "Cakepan juga gue kemana-mana." Gumam Ben.

Terry senyum-senyum melihat interaksi diantara mereka, sampai Steven menoleh ke arahnya.

"Lo kenapa aneh banget hari ini, Ri?"

"Hah? Gue biasa aja." Terry mengalihkan pandangannya.

"Lo beda. Kaya ada yang aneh, betul gak?"

Ben mengangguk setuju. Begitu juga dengan Kai.

"Perasaan kalian aja."

Terry mengambil sepotong melon dan menyuapkannya kepada Alyssa.

"Al, coba bilang 'aa'.."

Sebelum tangan terry mendekati Alyssa, Ben langsung melahap melon itu.

"Kok lo yang makan sih!?"

"Biarin. Alyssa gaboleh disuapin sama orang asing."

"Gue masih sepupu lo ya Ben, kalau lo lupa."

Alyssa terkekeh melihat Ben dan Terry berdebat. Kai yang sedari tadi fokus dengan makanannya, langsung mengambil tindakan cepat untuk menyuapi Alyssa dengan sepotong buah.

"Tuh kan! Kai nyuri start gue." Ucap Terry kesal.

Ben beralih menatap Kai dengan tajam. Sementara, Kai hanya tersenyum polos bak malaikat.

Daniel menggelengkan kepala. "Udah Ben. Jangan terlalu posesif." Tegur Daniel.

Ben masih menatap kesal Terry dan juga Kai. "Mereka berdua harus diawasi ketat kak. Gue ngga percaya sama mereka berdua."

"Kak Ben berlebihan deh," celetuk Alyssa.

"Ayo kita foto!" Ajak Steven mengalihkan pembicaraan sambil mengeluarkan kamera polaroidnya.

"Biar gue yang ngefoto kalian." Kai berdiri dan langsung mengambil posisi.

"Nanti gantian sama gue, Kai." Balas Terry.

Setelah mereka semua mengambil posisi dan bergaya, Kai sedikit mengernyitkan dahinya.

"Loh kok?"

"Lama banget sih lo, pegel nih mulut senyum terus." Dumel Ben karena Kai tidak segera memfoto mereka.

"O-oke oke.. satu.. dua...tiga.."

ceklek

"Bagus engga?" Tanya Alyssa mendekat.

Kai berjalan sambil memegangi kertas polaroid sambil mengibaskannya. Ia menatap Terry dengan ekspresi bingung.

"Ri, lo tadi—"

"Ada apa?" Terry menatap Kai penuh perhatian.

Kai menggaruk pelipisnya sambil memperhatikan kertas polaroid ditangannya yang belum sepenuhnya muncul.

"Ga-gapapa.. gantian lo yang ngefoto ya." Kai menyerahkan kamera itu pada Terry.

"Nah yuk atur posisi dulu," Terry bersikap layaknya photographer profesional.

Setelah mereka semua berpose, Terry langsung menekan tombol dan memfoto mereka.

Tak lama kemudian, kertas polaroid muncul dan mereka semua berkumpul untuk melihat hasilnya.

Ketika dua foto itu dibandingkan, mereka semua terkejut melihat salah satu hasil yang ada.

"Kak Terry.."

"Ry, lo kok ngga muncul disini."

Alyssa dan Ben berkata secara bersamaan. Ditambah dengan Daniel dan juga Steven yang menatap lekat Terry.

Kai pun ikut menatap bingung kepada Terry. Sedangkan, Terry masih membeku memegang kertas polaroid yang mana seharusnya ia ada didalam foto itu.

Namun hasilnya, sama sekali diluar dugaan Terry. Jantung Terry berdegup kencang dan ingatan-ingatan yang lalu kembali berputar di dalam kepalanya. Seakan memaksanya kembali untuk melihat rentetan kejadian nyata yang telah terjadi lalu.

"Kak Terry..."

"Ry..."

"Kak Terry... Bangun kak..."

"Ry, lo gapapa?"

"Kak, bangun kak.. Jangan tinggalin gue.."

"Kak Terry, lo gapapa?"

Suara Ben, Steven, Alyssa bahkan suara Aska berdengung di telinga. Rasa sakit kembali menjalar ke kepalanya, Terry mengerjapkan mata berulang kali berusaha mengusir rasa sakit yang ada.

Sebuah tangan besar memegang pundaknya, seakan memberikan kekuatan. Namun entah keajaiban apa, rasa sakit itu berangsur menghilang.

"Kak Daniel.." Lirih Terry menatap Daniel sambil matanya berkaca-kaca.

"Lo kenapa?"

"Gue.. ngga—"

Terry mengerjapkan matanya berulang kali karena sosok Daniel semakin lama semakin memudar diikuti cahaya putih yang menyilaukan.

Saat cahaya itu padam, Terry membuka matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah atap berwarna putih dan suara mesin detak jantung beserta tangisan seorang lelaki.

"Kak.. Akhirnyaa... Jangan tinggalin gue kak, gue cuman punya lo sekarang." Aska. Lelaki itu memeluk Terry erat sambil menangis.

"A-aska.. mana Kak Daniel?"

Tangisan Aska langsung berhenti. Dengan mata merah, ia menggigit bibir bawah guna menahan tangisnya.

"Kak, Kak Daniel kan sudah.."

Belum sampai Aska menyelesaikan ucapannya. Terry meneteskan air mata lalu menangis keras. Aska menggenggam tangan Terry kuat seolah mereka saling menguatkan.

Beberapa waktu berlalu, setelah keduanya saling tenang. Terry melamun dengan tatapan kosong. Sedangkan, Aska setia menemani Terry disampingnya.

"Aska!"

"Iya Kak?"

"Persiapkan segalanya. Besok mari kita umumkan kabar kematian Obelia bersaudara."

Aska terdiam. Ia melirik Terry yang mengatakan hal itu dengan nada dingin.

"Baik kak."

"Mulai sekarang, Obelia akan berada dalam pengawasan gue. Gue akan jaga Obelia untuk mereka." Kata Terry tegas sambil mengepalkan tangannya.

Aska tersenyum tipis, ia sedikit senang melihat tatapan hidup dari Terry. "Iya kak, gue pasti support lo."

"Untuk nona Alyssa dan tuan Daniel, aku akan melakukan apapun untuk Obelia." Ucap Aska dalam hati.

— The END —

.
.
Terimakasih sudah mengikuti cerita Possessive Brothers sampai akhir🥰
Sampai bertemu di cerita selanjutnya 🙈

- A.W.S

Possessive Brother Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang