busted

172 4 1
                                        

Sam memelukku erat sambil mengusap rambutku dengan lembut. "I'm sorry... I'm really, really sorry," bisiknya berulang kali, nadanya penuh penyesalan.

"Please, Anna... just try to understand me once. Just once," katanya, masih dengan pelukannya.

Aku melepaskan diri perlahan dari pelukannya, menatap matanya yang berkabut cemas. "Aku tau aku salah," suaraku pelan tapi tegas, "karna nggak kasih tau orang tuaku dari awal kalau aku berhubungan dengan pria yang seumuran mereka. Tapi justru karena itu aku mau jujur sekarang. I want to prove that I love you. That this isn't some identity crisis, or whatever people think it is."

Sam mengembuskan napas panjang. "Anna... please. You have to see this from my side too. I'm your dad's best friend. And I'm dating his only daughter. That's not an easy place to be."

"Aku nggak peduli Sam!" potongku, suaraku meninggi. "Kamu yang bilang sendiri kan? Kalau orang tuaku nolak, kamu bakal berlutut sampai mereka kasih restu."

Sam menatapku, frustrasi. "That was different! If you weren't Richard daughter, maybe I could be brave. Maybe I could go all in. But you're... you're his daughter. His little girl."

Aku menahan napas, dadaku sesak. "So what? Aku mencintaimu, Sam. I love you. With everything I have."

Sam menunduk, suara pelan dan penuh ketakutan, "I'm scared, Anna. I'm scared they'll take you away from me. Send you far away. What if I never see you again?"

"Dasar bodoh," kataku dengan suara bergetar. Air mataku jatuh satu per satu. "Aku sudah dewasa, Sam. I can choose who I love. And I choose you. I want you. I'm sure of us. I'm not running away from anything-I'm running to you."

Wajah Sam melembut. Ketakutan di matanya mulai mencair. "God, you're everything to me... and I've been such a coward."

Dia menarikku lagi ke pelukannya. "I'm sorry. I'm so sorry for being a coward. Let's do it, Anna. Let's tell them. Together."

Aku menatapnya, mataku masih berkaca. "Are you sure?"

Sam mengangguk mantap. "Yes. I'm sure. I'm done hiding. I'm just... scared of losing you. You're all I have now."

Lalu, tanpa kata-kata lagi, bibir kami saling menemukan. Lembut, penuh emosi, penuh janji yang tidak terucap tapi terasa begitu nyata.

Tanganku masih melingkar di leher Sam, ciuman kami dalam, emosional, hingga-

Klik.
Pintu apartemenku terbuka tiba-tiba.
Suara tawa yang sangat familiar langsung menghantam udara.

"Padahal tante nggak perlu traktir aku loh-"
Tawa itu terhenti.

Kami refleks menjauh satu sama lain. Aku menoleh cepat ke arah pintu. Di sana, berdiri Niko... bersama Mama, Papa, dan Tata.

"Interesting..." suara Niko terdengar datar, matanya membulat terkejut, begitu juga wajah ketiga orang yang bersamanya.

Semua membeku.

Lalu... Brak!

Papa melangkah cepat, tangannya mengepal dan bug! - tinjunya mendarat tepat di rahang Sam.

"Papa, stop! Stop it!" teriakku panik, mencoba menarik tubuh Papa menjauh dari Sam yang nyaris jatuh tapi masih berdiri.

Sam tidak melawan. Tidak mengangkat tangan. Hanya berdiri, menahan napas, menunduk menerima.

"Berani-beraninya kamu sentuh anakku!" bentak Papa, marahnya meledak.

"Papa, please!" aku menahan lengan Papa. "Please, listen to me!"

Aku memeluk Sam dari samping, melindunginya. "Tunanganku yang sebenarnya itu bukan Niko. It's Sam. Sam is the man I love!"

Semua membisu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 08 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dear SamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang