Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

to the bone

39 4 0
                                        

Sudah seminggu berlalu sejak malam yang kacau itu. Apartemen terasa jauh lebih sunyi, meskipun Sam kini lebih sering menginap di tempatku. Papa dan Mama sudah kembali ke Medan tepat sehari setelah memergokiku dan Sam.

Mereka kembali ke Medan hanya memberi kabar singkat lewat Mama—yang bahkan tak menyinggung sedikitpun soal hubungan kami. Hening itu lebih menyakitkan daripada amarah.

Hari ini, giliran Tata yang harus kembali ke Medan. Aku, Sam, dan Niko mengantarnya ke bandara. Perjalanan di mobil sebagian besar diisi diam. Hanya sesekali Niko melontarkan komentar santai, berusaha menjaga suasana tetap ringan.

Di bandara, kami bertiga berpelukan sebelum Tata masuk ke area keberangkatan. Pelukannya erat, dan saat ia menarik diri, matanya menatapku dalam.

"Titip my Dad ya," ucap Tata, suaranya lembut. "And... I'll try to talk to your parents. Mungkin mereka cuma butuh waktu."

Aku menggenggam tangannya. "Thank you, Ta. Seriously, thank you for everything."

Tata tersenyum, lalu menatap Sam. "And you dad, jangan nyakitin dia. You've got one hell of a woman."

Sam hanya mengangguk penuh hormat. "I know. I'm the lucky one."

Tata melambai terakhir kali sebelum melangkah pergi, meninggalkan kami berdiri di tengah keramaian bandara.

Kami kembali ke kantor setelah mengantar Tata. Di dalam mobil, aku lebih banyak diam, menatap ke luar jendela sambil memutar ulang percakapan terakhir dengan Mama dan ekspresi Papa yang belum bisa kulupakan semenjak hari itu, yang terus-terusan terputar di kepalaku. Hati kecilku lelah, tapi bersikeras untuk tetap bertahan. Sam duduk di sampingku, tangannya menggenggam tanganku erat tanpa berkata apa-apa. Keheningannya justru menenangkan.

Begitu kami hampir sampai di kantor, Niko—yang sepertinya sudah cukup jengah melihat wajah muramku beberapa hari ini—langsung menarik napas panjang lalu menatapku dengan ekspresi datarnya yang khas. "Okay enough, aku nggak tahan liat kamu kayak mayat hidup terus. Kita keluar malam ini. Ada restoran baru yang katanya enak banget, rame di TikTok. Let's go."

Aku menggeleng. "Nggak mood, Nik..."

Tapi sebelum aku sempat menyusun kalimat penolakan yang lebih panjang, Sam menyela dengan nada lembut namun tegas, "Come on, Anna. Let's go. You need this. We need this."

Tatapan Sam membujukku lebih dari kata-katanya. Ada harapan kecil di sorot matanya—seolah dia ingin aku mencicipi sedikit kebahagiaan lagi, meski sejenak. Dan karena cinta punya cara aneh mengalahkan logika, aku akhirnya menyerah dan mengangguk.

***

Niko membawaku dan Sam ke Restoran yang dia temukan dari rekomendasi Media Sosial.

Restoran itu cantik. Lampu-lampu gantung temaram menggantung rendah di atas meja, dan interior kayunya yang hangat terasa seperti pelukan dalam bentuk tempat makan. Kami duduk di sudut ruangan, cukup jauh dari keramaian. Niko sibuk memesan makanan dan mencoba menjadi MC pribadi, melontarkan candaan dan komentar konyol yang sesekali membuatku tertawa kecil.

Tapi saat makan malam mulai tenang dan Niko larut dengan HP-nya, Sam menggeser duduknya mendekatiku. Tangannya menyentuh lembut punggung tanganku di atas meja. Tatapannya lembut namun dalam.

"I love seeing you smile again," katanya lirih.

Aku menatapnya. "Aku masih ngerasa semua ini kayak mimpi. Maksudku, kita... semua yang terjadi. Kadang aku takut bangun."

Sam tersenyum pelan, matanya penuh rasa yang hangat. "Then let's not wake up. Stay in the dream with me."

Aku tertawa kecil, mataku basah tapi bukan karena sedih. "You're cheesy."

Dear SamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang