Sudah hampir enam bulan berlalu sejak kejadian di apartemenku yang mengubah segalanya. Hubunganku dengan Sam semakin erat.
Kami belajar saling memahami dengan lebih dewasa, dan aku mencoba mengerti dengan mencoba menaruh posisiku di posisi orang tuaku.
Walau begitu, aku masih belum berhasil meluluhkan hati Papa. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya lewat telepon dan pesan, tapi selalu tak direspons. Mama... ya, Mama sudah kembali bersikap seperti biasa—menanyakan kabarku, mengirim foto makanan, tapi selalu menghindari topik tentang Sam. Aku tahu, hatinya juga masih berat.
Beberapa bulan terakhir Sam cukup sering keluar kota untuk business trip. Mengecek proyek-proyek baru yang sedang berjalan.
Awalnya dia sempat keberatan dengan jadwal-jadwal business tripnya, mungkin karena trauma dari kejadian kami sebelumnya. Tapi aku selalu menenangkannya, mengatakan bahwa dia tidak perlu khawatir.
Dan perlahan dia mulai terbiasa dengan ritmenya. Meskipun rindu, kami tetap rutin saling memberi kabar, video call tiap malam, dan kadang dia mengirimi foto-foto konyolnya dari lokasi proyek untuk membuatku tersenyum.
Hari ini aku duduk di sebuah restoran bandara bersama Niko. Kami sedang menunggu Tata yang kembali ke Jakarta untuk liburan.
"Aku kangen banget sama Tata," kataku sambil menyeruput es lemon tea. "Rasanya kayak udah lama banget dia nggak ke Jakarta."
Niko menyender santai di kursinya. "She texted me last night, katanya pengen makan sate padang begitu sampai, padahal di Medan Sate Padang yang otentik lebih banyak dari pada Jakarta, tapi dia lebih suka Sate Padang di Jakarta. Classic Tata."
Aku tertawa kecil. "Of course. That girl is obsessed with food."
Niko memandangku sebentar. "You look better now, by the way. Lebih tenang. How's everything with your parent and Sam?"
Aku tersenyum. "We're good, Nik."
"Kamu udah terbiasa?"
Aku mengangguk. "Yeah. Aku udah nggak terlalu keberatan lagi sih. Dulu sempat kepikiran, takut kejadian yang dulu keulang, but now... He trusted me more. And I've grown, you know?"
Niko tersenyum. "I can see that. You're smarter than before, Na."
"Aku masih nggak ngerti," Lanjut Niko. "Sudah hampir enam bulan, dan Papamu masih ngambek kayak anak kecil?"
Aku menghela napas. "He's just... disappointed, I guess. Tapi aku tetap kirim pesan tiap minggu, kadang cuma tanya kabar, kadang aku kirim foto proyekku juga. Tapi dia cuma bales seperlunya. I just wish things were okay with my parents. Papa masih sama sekali nggak mau angkat telponku."
"How about your mom?"
"Ngobrol seperti biasa. Tapi everytime I mention Sam, dia langsung ganti topik."
Niko mengangkat bahu, "Well, at least she talks to you. Give them time. Sometimes, acceptance comes slowly. But they love you, and they'll come around eventually."
Aku mengangguk pelan. "I hope so. Aku cuma pengen mereka lihat Sam the way I do. He's not just some old guy I fell for. He's... home."
Niko menatapku serius, "Tapi kamu yakin kan hubungan kalian bakal works?"
Aku tersenyum kecil. "More than ever. Sam... he's been amazing, Nik. Dia makin sibuk beberapa bulan ini, keluar kota mulu. Tapi every time he comes home, he makes me feel like I'm the only thing that matters."
"Sounds romantic," kata Niko sambil menyeruput kopinya dan menepuk punggung tanganku. "You know what? Dulu aku pikir candaanku soal kamu naksir Sam cuma candaan biasa but, Babe, you're totally crushing on a guy in his fifties! But now... I think you found someone who actually deserves you. Meskipun... he's kinda old."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Sam
RomanceAnna Wijaya, seorang wanita berusia 27 tahun yang ceria dan bersemangat, baru saja pindah ke sebuah apartemen di Jakarta. Di seberang lorong, tinggal tetangga barunya yang misterius, yang dikenal sebagai Samuel Hennessy. awalnya, Anna hanya mengangg...
