180. siraman

119 20 13
                                        

Sejak pagi rumah keluarga Aksara sudah dipenuhi kesibukan karena dekorasi siraman yang sejak semalam dipersiapkan kini telah selesai menghiasi halaman rumah, beberapa hidangan mulai tersusun rapi di meja, dan orang-orang yang membantu persiapan acara hilir mudik memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Nay dan Nadira yang sejak tadi sudah selesai dirias akhirnya berjalan berdampingan menuju kamar El dengan langkah cepat.

Sementara Nadira beberapa kali menarik tangan kakaknya karena sejak tadi rasa penasarannya tentang bagaimana penampilan El tidak berhenti muncul.

"Kak Nay," kata Nadira sambil mendongakkan wajah dan mempercepat langkahnya, "abang sudah siap belum?"

Nay menoleh sekilas sambil membetulkan sedikit bagian rambut Nadira yang tadi bergerak ketika adiknya terlalu banyak menoleh ke kanan dan kiri. "Harusnya sudah."

"Kalau belum?"

Nay mengangkat bahu sambil tersenyum jahil. "Ya kita tungguin."

Nadira mengernyitkan dahi. "Ngapain?"

Nay meliriknya dengan senyum yang semakin lebar. "Gangguin."

Wajah Nadira langsung berubah antusias, lalu ia mengangguk cepat sambil menggenggam tangan Nay lebih erat. "Aku mau."

Nay tertawa kecil. "Aku tahu."

"Abang nanti marah nggak?"

"Kalau kita berdua?"

Nadira berpikir sebentar sebelum akhirnya menggeleng. "Nggak."

Nay mengangguk puas. "Nah."

Begitu sampai di depan kamar El, Nay langsung mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, tetapi sebelum jarinya benar-benar menyentuh permukaan kayu, Nadira sudah lebih dulu membuka pintu dengan cepat.

"ABANG!"

El yang sedang duduk di depan cermin langsung menoleh dengan sedikit terkejut, sementara salah satu orang yang membantu merapikan pakaiannya ikut menoleh ke arah pintu ketika suara Nadira memenuhi kamar.

Nadira berdiri di ambang pintu dengan mata membesar, kemudian perlahan berjalan masuk sambil menatap El dari ujung kepala sampai kaki. "Abang ganteng."

El memandang adik bungsunya cukup lama sebelum akhirnya terkekeh kecil. "Iya."

Nay yang masuk beberapa langkah di belakang Nadira langsung mendengus sambil menutup pintu. "Sombong banget jawabnya."

El menoleh ke arah Nay dengan alis terangkat. "Terus harus jawab apa?"

"Terima kasih."

El mengangguk pelan. "Terima kasih."

Nay menyipitkan mata sambil berdiri di samping kursi El. "Sekarang telat."

El menghela napas pendek sambil menggelengkan kepala. "Baru masuk sudah mulai."

Nadira yang masih berdiri di depan El kembali memperhatikan pakaian abangnya, kemudian memiringkan kepala ke kanan dengan ekspresi serius. "Bang."

El menoleh. "Apa?"

"Nanti abang disiram pakai air dingin?"

El langsung memejamkan mata.

Nay yang berdiri di sampingnya seketika menutup mulut untuk menahan tawa. Orang yang membantu persiapan El ikut tersenyum kecil.

"Nadira," kata El sambil membuka matanya perlahan dan menatap adiknya dengan wajah pasrah

"dari sekian banyak pertanyaan yang ada di kepala kamu, kenapa itu yang kamu tanyakan?"

Nadira mengangkat bahu dengan wajah polos. "Aku pengin tahu."

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang