Pukul 08.30 pagi.
Suasana pagi di vila masih terasa tenang. Cahaya matahari masuk melalui sela-sela jendela dan membuat ruang makan terlihat terang dengan suasana yang hangat. Salsa sedang sibuk menata masakan di atas meja makan, memastikan semuanya tersusun dengan rapi sebelum mereka mulai sarapan.
Meskipun sedang berada di vila dan tidak berada di rumah sendiri, Lian sudah melengkapi berbagai bahan makanan serta peralatan yang dibutuhkan istrinya. Ia ingin Salsa tetap bisa memasak dengan nyaman selama mereka berada di sana.
Satu per satu hidangan diletakkan Salsa di atas meja. Sesekali ia merapikan posisi piring dan mangkuk, kemudian kembali mengambil makanan lain dari dapur. Pagi itu terasa sederhana, tetapi justru hal-hal kecil seperti inilah yang membuat suasana vila terasa seperti rumah sementara bagi mereka.
Tidak jauh dari meja makan, Syabil berbaring nyaman di dalam baby bouncer. Tubuh mungilnya sesekali bergerak mengikuti ayunan lembut dari bouncer tersebut. Pacifier masih bertengger di mulutnya, sementara kedua matanya yang bulat tampak sibuk memperhatikan segala sesuatu yang ada di hadapannya.
Di atas bouncer tergantung sebuah mainan berbentuk beruang kecil. Mainan itu bergoyang perlahan setiap kali bouncer bergerak, membuat perhatian Syabil terus tertuju kepadanya. Tatapannya mengikuti gerakan beruang kecil tersebut dari satu sisi ke sisi lain, seolah benda sederhana itu merupakan sesuatu yang sangat menarik untuk diamati.
Beberapa saat kemudian, tangan mungil Syabil terangkat. Jemari kecilnya membuka dan menutup berkali-kali, seolah berusaha meraih benda yang menggantung di atasnya. Tangannya memang belum benar-benar mampu mengarah dengan tepat, tetapi ia tetap berusaha dengan gerakan kecil yang terlihat begitu serius.
"Eeh..." ocehnya pelan. Tangannya kembali terangkat. Kali ini gerakannya sedikit lebih tepat hingga jemari mungilnya tanpa sengaja menyentuh mainan tersebut.
Kring...
Suara kecil dari mainan itu terdengar begitu saja. Syabil langsung diam. Gerakannya berhenti selama beberapa detik. Matanya yang bulat membesar, kemudian pandangannya kembali tertuju pada beruang kecil yang baru saja mengeluarkan suara.
Bibirnya masih tertutup oleh pacifier, tetapi ekspresi wajahnya terlihat jelas seperti sedang mencoba memahami dari mana suara tersebut berasal. Kepalanya bergerak sedikit, lalu matanya kembali mengikuti mainan yang masih bergoyang perlahan di atasnya.
Dari meja makan, Salsa yang sedang menata sarapan akhirnya menoleh. Pandangannya langsung tertuju kepada Syabil yang tampak begitu serius memperhatikan mainannya.
Senyum Salsa pun muncul tanpa sadar. "Kenapa, Nak?" panggilnya lembut dari kejauhan.
Syabil tentu saja tidak menjawab. Ia hanya kembali menggerakkan tangannya, seolah ingin mencoba menyentuh mainan itu sekali lagi.
Salsa terkekeh kecil melihat tingkah anaknya. Ia meletakkan makanan yang sedang dipegangnya di atas meja, kemudian memperhatikan Syabil beberapa saat dengan tatapan penuh gemas.
Syabil menggerakkan kedua kakinya kecil-kecil. Bouncer kembali bergoyang pelan, membuat mainan beruang di atasnya ikut bergerak.
Syabil kembali menatapnya lekat-lekat. "Eeh... agu..."
Salsa hanya bisa tersenyum semakin lebar melihat anaknya yang tampak begitu sibuk dengan dunia kecilnya sendiri.
Dari arah tangga, terdengar langkah kaki Lian yang semakin mendekat. Tidak lama kemudian, pria itu muncul dengan rambut yang masih basah dan hanya mengenakan celana pendek. Alih-alih langsung membantu atau bersiap untuk sarapan, Lian justru berlari kecil menghampiri istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
