Chapter 27 - MBH

35.8K 1.4K 119
                                        

Brianca memainkan jari-jarinya dan sesekali ia memilin gaunnya berharap dengan melakukan hal tersebut dapat menghilangkan kegelisahan di hatinya. Walau nyatanya, hal tersebut tidak berhasil sama sekali.

Ia memberanikan diri untuk melirik ke arah James. Pria itu sedang fokus dengan jalanan. Tapi, Brianca dapat melihat rahang kokohnya yang mengeras, sepertinya pria itu sedang marah besar.

Huh. Brianca membuang nafasnya dengan berat lalu ia memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.

"Seharusnya kau tidak memukul Liam seperti itu," ucap Brianca dengan sangat pelan.

"Aku memukulnya karena dia menyentuhmu. Tapi, kau malah membelanya, heh?"

"Oh iya! Aku lupa, kau seorang jalang. Wajar, bila kau senang di sentuh oleh banyak pria."

Deg. Mendengar ucapan James yang begitu tajam membuat jantung Brianca rasanya berhenti berdetak saat itu juga.

Air mata sudah bergenang begitu saja dan apabila Brianca mengedipkan matanya sudah dapat di pastikan jika air matanya akan tumpah.

"Kau menangis? Dasar lemah." ucap James lagi.

Sungguh, Brianca tidak ingin menangis saat ini. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya namun tidak bisa, ia gagal. Air matanya mengalir dengan begitu deras tanpa permisi terlebih dahulu kepada Brianca.

"Kau pasti menangis karena ingin aku mengasihanimu 'kan? Basi. Dengar! Aku muak melihat tangisanmu itu."

Brianca memejamkan matanya, ia berusaha untuk menahan emosinya yang sebentar lagi ingin meledak.

"Jalang sepertimu tidak pantas untuk menangis. Ck!" 

Tidak. Brianca sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.

"Dengar, Mr. Rodriguez yang terhormat! Aku tahu, aku wanita lemah, wanita cengeng bahkan wanita yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dirimu yang serba beruntung itu. Kau punya segalanya yang aku tidak punya. Orang tua, sahabat bahkan harta yang berlimpah. Tapi, dengan segala yang kau miliki bukan berarti kau boleh menghinaku sesuka hatimu."

Brianca menarik nafas panjang. Bahkan, air matanya berhenti begitu saja dikalahkan dengan rasa emosinya saat ini.

James hanya bisa terpaku mendengarkan ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut wanita di sampingnya. James memutuskan untuk memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Persetan, dengan tanda dilarang stop yang ada di bahu jalan tersebut. Ia bisa mengurusnya dengan mudah.

"Jika aku boleh memilih, aku akan memilih untuk tidak pernah bertemu denganmu. Bahkan, rasanya lebih baik aku mati dibandingkan harus terus berhadapan dengan makhluk sepertimu."

"Huh. Rasanya begitu bodoh ketika aku mempercayai ucapanmu semalam. Aku pikir kau telah berubah namun nyatanya, aku salah." sambung Brianca lagi.

Tanpa pikir panjang, James menarik Brianca dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya, lagi.

Sungguh, James tidak tahu apa yang menguasai dirinya hingga sudah kedua kalinya tubuhnya seolah bergerak sendiri untuk memeluk Brianca.

James dapat merasakan tubuh Brianca yang bergetar lagi. Sepertinya, tangisan wanita yang saat ini berada dalam dekapannya pecah. James sadar, perkataannya tadi pasti menyakiti Brianca.

James juga tidak tahu kenapa ia bisa sebegitu marahnya ketika Liam memeluk Brianca bahkan kemarahannya bertambah ketika Brianca malah membela Liam.

James merasa ada yang salah dalam dirinya. Ada perasaan dimana ia tidak suka jika Brianca disentuh oleh pria lain. Mungkinkah, saat ini, James mulai terbiasa dengan keberadaan Brianca di dekatnya?

MY BASTARD HUSBANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang