Chapter 6 - MBH

36.9K 1.4K 32
                                        

Ting. Mereka sudah sampai dilantai dimana penthouse James berada.

Kalian perlu tahu! Brianca tidak menyangka jika Liam memiliki akses untuk masuk ke penthouse James juga. Ia pikir hanya dirinya yang memiliki akses tersebut.

Brianca tersentak ketika melihat James yang sudah berdiri didepan mereka. James saat ini sedang bertelanjang dada. Sekilas Brianca dapat merasakan jika James melirik ke tangan Liam yang masih mengenggam tangannya.

"Hai, bro!" sapa Liam kepada James.

James tersenyum. Namun senyum tersebut adalah senyum meremehkan. 

"Kau membawa jalan wanita murahan ini?"

***

Brianca merasa ada sesuatu yang menggores hatinya setelah mendengarkan ucapan yang keluar dari bibir suaminya tersebut. Rasanya begitu sakit.

Ia tidak paham kenapa James selalu dengan mudahnya mengatai dirinya wanita murahan.

Oh tidak!

Sial!

Brianca baru sadar jika tangan Liam masih menggenggam tangannya. Liam gila! Bagaimana bisa dia dengan santainya menggenggam tangan istri orang didepan suami sahnya?

"Masuklah ke kamarmu, sweety!" ucap Liam dengan nada memerintah seperti biasa.

Brianca merasa jika saat ini ia ingin sekali menendang bokong Liam dengan sangat keras. Setelah tadi, ia dengan santainya menggenggam tangan Brianca didepan James sekarang bahkan ia menyebut nama panggilan yang dikhususkannya buat Brianca didepan James.

Brianca berjalan dengan gontai menuju kamarnya. Tidak. Ia tidak menuruti perintah Liam hanya saja ia sudah tidak tahan dengan tatapan tajam yang diberikan James kepadanya.

Brianca membaringkan tubuhnya dikasur dan menutup matanya berusaha tidak memasukan kata-kata yang diucapkan James tadi kedalam hati. Walaupun rasanya sangat sulit.

Liam menaruh paperbag yang isinya adalah barang-barang yang ia belikan untuk Brianca di sofa yang ada diruang tamu. Lalu ia juga mendaratkan bokongnya dengan indah di sofa tersebut.

"Whoaa! Kau bahkan tidak sekamar dengannya, James!" ucap Liam saat James sudah berdiri tepat didepannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Aku tidak sudi sekamar dengannya." ucap James lalu membuang tatapannya yang pada awalnya menatap Liam dengan tajam kearah lain.

Ia sangat kesal dengan Liam. Ia bahkan tidak mengerti kenapa Tuhan memberikannya sahabat seperti Liam. Namun, tidak bisa dipungkiri walaupun Liam selalu berhasil dengan mudah membuat James dan yang lain kesal dalam waktu yang singkat namun ia juga orang yang baik karena ia yang selalu hadir pertama kali disaat teman-temannya sedang merasa sedih ataupun sedang memerlukan bantuan. 

"Aku tidak mengerti bagaimana caranya kau bisa menahan hasratmu padahal kalian tinggal satu atap. Lihatlah dia sangat menggoda. Ouh! Jangan bilang jika kau sekarang g..." 

"AKU TIDAK GAY! SHUT UP, LIAM!" bentak James. 

Liam bukannya diam, ia malah tertawa terbahak-bahak karena sangat menyukai pada saat melihat teman-temannya kesal dengannya. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa merasa sangat puas jika melihat temannya kesal karenanya. 

MY BASTARD HUSBANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang