Chapter 36.1 - MBH

33.2K 1.3K 44
                                        

"James, kopimu." ucap Brianca sambil menaruh kopi di atas meja kerja James.

James mengangguk tanpa menatap Brianca. Ia terlihat begitu sibuk dengan dokumen-dokumen yang bertumpuk di mejanya.

"James, bilang apa?"

James mendongakkan kepalanya menatap Brianca, "Heh?" tanyanya.

"Bilang apa?" ulang Brianca sambil melirik ke kopi buatannya.

"Kau ini, bicara apa sih? Kenapa tidak jelas sekali." runtuk James karena tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Brianca.

Brianca memutar kedua bola matanya jengah, "kau tidak berniat mengucapkan terima kasih atas kopi yang sudah kubuatkan untukmu?"

"Oh iya, terima kasih." ucap James dengan setengah hati.

Brianca tersenyum, lalu menjawab, "Sama-sama, James."

***

Jam sudah menunjukkan waktunya makan siang. Tapi, James tetap saja tidak bisa melepaskan pandangannya dari laptop dan dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya.

Pria itu terlihat sangat tampan ketika dalam posisi serius seperti itu.

"James, sudah waktunya makan siang!" entah sudah keberapa kali Brianca mengingatkan hal itu. James tetap saja tidak mengubrisnya.

"Kau makan saja duluan."

Huft. Brianca benar-benar kesal.

Pria itu menyuruhnya untuk makan seorang diri? Sungguh mengenaskan hidupnya jika makan seorang diri. Tapi, mau bagaimana lagi, perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Jadi, Brianca memutuskan untuk meninggalkan James.

"Aku akan makan dikantin. Kau tunggu saja disini ya. Nanti, aku bawakan makanan untukmu. Bye, James." ucap Brianca lalu ia berlalu begitu saja. Tidak peduli James menjawab ucapannya atau tidak.

***

Brianca sedang makan dikantin. Ia sengaja memilih duduk dipojok ruangan agar orang-orang tidak melihatnya.

Namun, ternyata dia salah. Ia malah menjadi pusat perhatian. Brianca yakin, saat ini, ia pasti terlihat seperti wanita jomblo yang kesepian.

Saat sedang asik mengunyah makanannya. Tiba-tiba saja, ada orang yang menaruh makanannya di hadapan Brianca sehingga mau tidak mau Brianca menongak untuk menatap orang tersebut.

"Boleh aku duduk disini?" tanya orang tersebut.

Brianca mengedar pandangannya kesekeliling. Ia memang melihat keadaan kantin yang sangat ramai sehingga mungkin memang tidak ada tempat duduk lagi selain dihadapan Brianca.

"Kau bertanya padakukan?" tanya Brianca memastikan.

"Tentu, nona."

"Silakan," jawab Brianca.

"Perkenalkan, namaku Johanes. Namamu?" tanya orang tersebut sambil menjulurkan tangannya.

Brianca menjabat tangan pria yang bernama Johanes tersebut. "Brianca," ujarnya.

Brianca merasa risih karena pria itu menyantap makanannya sambil terus memperhatikan Brianca secara terang-terangan.

MY BASTARD HUSBANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang