Chapter 17.2 - MBH

34.6K 1.3K 9
                                        

Brianca keluar dari ruangan James. Ia dapat merasakan jika tubuhnya saat ini bergetar hebat. Ia berjalan dengan sangat cepat hingga tak memperhatikan sekelilingnya.

"Sweety? Hei, lihat aku." Brianca menundukkan kepalanya ketika mendengar suara orang yang begitu dikenalnya.

Siapa lagi jika bukan Liam?

Brianca merasa jika Liam ini bagaikan malaikat pelindungnya, entah perasaan Brianca saja atau bukan, ia merasa Liam selalu saja datang disaat yang tepat. Brianca memang membutuhkan teman untuk bercerita saat ini. Namun, ia juga tidak ingin jika ada yang melihatnya disaat air matanya sudah berkumpul dan bisa tumpah kapan saja.

Liam menarik tangan Brianca dan membawa Brianca masuk kedalam mobilnya. Sedangkan, Brianca hanya diam saja, ia masih tidak berani menaikkan kepalanya karena sedaritadi ia sedang berusaha menahan agar air matanya tidak mengalir.

Liam masih menatap Brianca dengan tatapan iba. Ia tahu jika wanita itu sedang berusaha tidak terlihat rapuh didepan orang lain. Sekali lagi, Liam begitu merasa ingin melindungi Brianca bagaimanapun caranya.

Liam menarik Brianca kedalam dekapannya. Ia memeluk Brianca dan mengelus kepala serta pundak Brianca agar wanita itu dapat merasa sedikit ketenangan. Bagi Liam, Brianca itu seperti gelas kaca yang begitu mudah hancur ketika tidak dirawat dengan baik.

"Menangislah, jika kau ingin menangis. Jangan ditahan. Aku siap untuk selalu memberikan pundakku untukmu." ucap Liam.

Seketika, air mata Brianca tumpah dengan begitu derasnya. Ia gagal. Ia gagal mempertahankan topengnya agar tetap berada ditempatnya. Topeng itu kini seolah terhempas dari wajahnya sehingga kini menampilkan sosok Brianca sesungguhnya. Sosok Brianca yang begitu lemah.

Ia sungguh malu mengetahui dirinya sedang menangis dipelukan pria yang bahkan pria tersebut bukanlah siapa-siapanya. Tapi, jika Brianca diizinkan untuk jujur. Ia sungguh berterimakasih kepada Liam karena ia seolah selalu mengerti dengan keadaannya.

Ketika Liam merasa jika tubuh Brianca sudah tidak bergetar lagi, ia mengurai pelukannya. Ia memegang dagu Brianca lalu mengarahkan wajah Brianca agar mau bertatapan dengannya.

"Katakan, apa yang telah dia lakukan padamu?" tanya Liam. Brianca dapat melihat kilatan kemarahan diwajah Liam.

Brianca tetap bergeming, Ia tidak tahu harus mengatakan kejujuran atau kebohongan. Melihat Brianca yang tetap saja diam, Liam membuang nafasnya dengan berat.

Liam mengarahkan tangannya ke pundak Brianca. Ia menepuk-nepuk pundak Brianca seolah memberikan kekuatan pada pemilik pundak tersebut.

"Baiklah, kalau kau tidak mau bercerita tidak masalah, aku tidak akan memaksamu." ucap Liam akhirnya. Brianca hanya tersenyum menanggapi ucapan Liam.

"Kau mau kemana setelah ini?" tanya Liam.

"Pulang."

"Baiklah, aku antar."

"Tidak perlu, kami tidak lagi tinggal di penthouse James."

"Lalu?"

"Sekarang kami tinggal di mansion yang diberikan oleh orangtua James." jelas brianca.

"Oke, kalau begitu kau arahkan saja. Aku akan tetap mengantarmu."

Jika, Liam sudah berkata demikian, Brianca tahu jika penolakan tidak berlaku dalam kamus Liam. Jadi, Briancapun mengiyakan dengan pasrah.

Brianca langsung masuk kerumah setelah mengucapkan terima kasih kepada Liam. Liam hanya menatap pundak Brianca yang berjalan semakin jauh dengan tatapan iba serta penuh rasa sayang.

MY BASTARD HUSBANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang