Part 7

157K 5.1K 22
                                        

I found her first, that's why she should end by my side.

***Nathan Dirga Wijaya***

Pria yang menyapa May waktu keluar dari lift duduk diam di depan Tante Rara yang sedang sibuk bicara sambil sesekali tertawa dengan kelima pria berjas hitam yang datang bersamanya. Dia mencoba melakukan reka ulang saat May berbalik melihatnya dan tangannya refleks memegang pria lain saat tahu kehadirannya. Bukan hanya gerakan spontan May yang menarik perhatiannya, tapi juga tatapan pria yang bersamanya.

"Aku mau dia." Ucapan Nathan membuat semua orang terdiam dan menoleh ke arahnya. "Perempuan yang baru saja meninggalkan tempat ini," lanjutnya.

Tante Rara dan yang lainnya kebingungan dengan maksud Nathan yang tiba-tiba. Seorang berdasi kupu-kupu yang sedari tadi berdiri di samping Tante Rara berbisik sesuatu kepadanya, lalu dia pun mengangguk paham saat mendengar bisikan pria itu.

"Maksudmu B1? Dia sudah tidak bekerja di sini lagi," kata Tante Rara.

"Bukan. May."

"May atau B1 itu orang yang sama. Dia sudah berhenti."

Nathan mengerutkan dahinya, "Kenapa?"

"Dia melanggar aturan yang kami buat dan seorang pelanggan mengajukan komplain karena B1 tidak mau melayaninya lagi." Tante Rara memberi penjelasan.

"Lagi?" Ulang Nathan.

"Ya. Aku tidak mengerti dengan anak itu, banyak yang ingin membayarnya mahal tapi dia hanya ingin melakukannya sekali pada setiap pelanggannya."

"Lalu pria yang komplain itu?"

"Jika B1 tidak melanggar aturan kami, mereka tidak akan bertemu lagi."

"Kata itu, lagi!" Suara Nathan sedikit bergetar.

Tante Rara bingung, " maksudnya? Kata yang mana?"

"Jadi pria itu pernah tidur dengan May?"
Tanya Nathan dingin.

"Sepertinya iya, di pertemuan pertama mereka," jawab Tante Rara ragu karena melihat perubahan di wajah Nathan. "Karena itu memang pekerjaannya," tambahnya.

Nathan menyeringai sinis, "Itu bukan komplain, hanya sebuah alasan membuatnya berhenti di sini. Pria itu menginginkan lebih darinya jika pernah tidur dengannya."

Itu yang pernah dialami Nathan, dia hanya ingin mencoba namun ketagihan.

Karena orang dicarinya tidak ada, Nathan meninggalkan ruangan itu tanpa ucapan permisi. Salah seorang yang bersamanya tadi mengikuti dari belakang. Tiba di depan lift, dia menoleh ke arah orang itu.

"Pram, kamu temani orang-orang itu dan jelaskan apa yang terjadi." Nathan menarik napas, "Aku tidak ingin terjadi masalah dengan mereka."

Pram mengangguk, "Mobilnya akan segera...."

"Tidak. Kali ini aku naik taksi, kamu tinggal dan bersenang-senanglah dengan mereka," ujar Nathan saat lift terbuka di depannya.

***

Edward memaksa May masuk di jok tengah kemudian mengikutinya. May memeriksa pergelangan tangannya yang memerah setelah Edward melepaskannya lalu menggerakkan jemarinya satu persatu memastikan tidak ada tulang yang patah. Tangannya baik-baik saja walaupun sedikit perih. May segera berbalik mencoba membuka pintu mobil dari arah berlawanan Edward memaksanya masuk. Terkunci. Padahal May sudah membuka kunci pengamannya.

"Pria itu, apa dia salah satu pelangganmu?" Tanya Edward.

May menghentikan usahanya membuka pintu dan berbalik ke arah Edward. "Apa pedulimu? Aku sudah tidak punya pelanggan karenamu," ucap May jengkel.

Between Love & ObsessionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang