Lestarikan budaya vote & comment.
Enjoy your reading.
🙂🙂🙂
May akhirnya bisa tidur nyenyak di kost-nya setelah hukuman dua minggunya kelar. Dia bisa memeluk guling, bukan lagi tubuh hangat Edward yang selalu berakhir panas. May tidak bisa membayangkan jika kelak Edward menikah, istrinya pasti kelelahan setiap malam.
Berjam-jam dihabiskan May hanya untuk tidur. Rans mengantarnya pulang pukul delapan pagi dan langsung menenggelamkan dirinya dalam selimut usang di kost-nya, dan kini malah dibangunkan oleh ketukan pintu yang tiada henti dari luar.
Rasa sesal menjalar di pikiran May karena memaksa diri bangun membuka pintu. Baru saja lepas dari kandang macan, sekarang seekor serigala bertandang ke kost-nya.
"Ada apa?" Mata May masih belum sepenuhnya terbuka saat melihat Nathan di depan pintu kamarnya.
Pria itu tidak menjawab, dia mendorong pintu hingga May sedikit bergeser memberinya jalan masuk. Yah, tamu tidak diundang memang kadang tidak tahu sopan santun.
"Kamu dari mana saja? Nomor hp tidak aktif, di kost juga selalu kosong." Suara Nathan menyelidik.
"Menghindarimu," jawab May ketus.
"Selama ini tinggal di mana? Aku khawatir sesuatu terjadi padamu."
"Tinggal di tempat aku bisa sembunyi darimu."
"Kita akan segera menikah May, kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini. Ibuku uring-uringan karena kamu harus segera fitting gaun pengantin." Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kecewa May acuh tak acuh dengan pernikahan mereka.
"Dia bilang aku tinggal terima beres, cukup jaga diri biar janinku tidak kenapa-kenapa. Aku tinggal duduk di pelaminan, kan?" Ejekan May membuat telinga Nathan memanas.
"Kamu tetap terlibat dalam beberapa hal." Suaranya rendah, bersabar dengan segala ocehan May. "Bagaimana dengan ibu dan adikmu? Apa mereka sudah tahu kabar pernikahan kita?"
"Jangan hubungi mereka! Biar aku yang bicara. Aku tidak bisa mempercayakan keluargaku padamu."
"Kamu bisa percaya padaku jika mau, hanya saja sikapmu yang selalu menjauh mendorongku berbuat...."
"Langsung saja bilang tujuanmu menemuiku," sela May. Dia tidak mau buang-buang waktu mendengar Nathan. "Katakan kemudian pergi!"
Pria itu menggeleng tidak percaya May masih dingin padanya. "Aku rindu padamu, aku khawatir karena tidak ada kabar darimu dua minggu."
"Selain itu?"
"Sepertinya kamu tidak mood hari ini." Nathan membuang napas," besok aku akan menjemputmu?"
"Untuk?" May malas bicara banyak.
"Ke butik. Ibuku sudah memesan beberapa gaun, tinggal pilih salah satunya."
"Hanya itu?"
"Mengabaikanku seperti itu tidak akan membuatku mundur, May. Ingat rencana pernikahan kita harus diketahui ibumu dalam tiga hari. Jika bukan kamu yang mengatakannya, aku yang akan ke sana."
"Kalau tidak ada lagi, pergilah."
Nathan tersenyum sinis. Sikap dingin May menyakiti harga dirinya. Dia mendekati May yang sedari tadi berdiri bersandar di dinding sambil bersedekap.
"Akhir-akhir ini, bibir manismu selalu mengeluarkan kata ketus sedangkan aku mati-matian menahan diri tidak masuk ke dalamnya," ucap Nathan mengusap bibirnya. May hanya bisa memberikan tatapan menghina karena kedua tangannya langsung dicekal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Love & Obsession
General FictionEROTIC MATURE (21+) Niatnya hanya bersenang-senang tapi malah menyiksa diri. Dia, perempuan yang kupilih secara acak, hanya untuk semalam, menjadi mimpi buruk bagiku jika tidak memilikinya. Dia harus memilih, tersiksa di sisiku atau mati di sisi ora...
