Pekerjaan May di minggu pertama cukup lancar dan tidak menganggu aktifitas yang lain. Edward memberinya ijin tetap pergi kampus di hari Kamis dan Jumat. Walhasil, semua berkas pengajuan seminar hasil May lancar jaya. Pria itu pun tidak keberatan saat May menjaga Trisha Sabtu dan Minggu. Sedikit surprise bagi May karena permintaannya tidak pernah ditolak.
Awalnya May sempat beranggapan jadi pekerja multifungsi. Karena Empat hari tersebut di bawah kendali Edward, mungkin May akan disuruh bersih-bersih atau mencuci pakaian tapi ternyata tidak. Rumah pria itu sangat bersih dan rapi. Kalaupun sekarang mulai berantakan, itu karena ulah May. Dia juga sempat mengira-ngira akan jadi tukang masak dadakan, tapi berhubung karena si empunya rumah pernah mencoba masakannya, yang terjadi malah sebaliknya. Sarapan dan makan malam selalu tersaji untuknya selama beberapa hari ini.
May dan Edward jarang bertemu. Mungkin pria itu sibuk dengan pekerjaannya hingga lebih banyak menghabiskan waktu di luar. May baru menyadari kehadiran Edward saat tengah malam terbangun karena igauan pria itu dalam tidur atau karena pelukannya yang serasa meremuk tulang rusuk. Saat May terbangun, sarapan sudah siap sedangkan kokinya menghilang. Ketika pulang kampus atau jaga Trisha sore hari, makan malamnya sudah di meja. Bisa dibilang, May hanya menemani Edward tidur. Hm..., atau malah sebaliknya karena dia selalu tidur duluan sebelum pria itu pulang.
Tiga malam tanpa terjadi apa-apa adalah suatu pencapaian luar biasa bagi May. Bayangkan, dia di rumah Edward hanya tidur dan makan tanpa bekerja dan tetap dibayar sesuai perjanjian. Kalau ada yang menganggapnya makan gaji buta, terserah. Itu adalah bonus bagi May karena Edward bukan orang yang mudah diajak kerjasama saat May bekerja. Pria itu tidak mudah ditaklukkan. Sikapnya yang suka mendominasi dan cenderung memimpin malah makin sulit membuatnya menuju puncak. Saat dia memegang kendali, ritme permainan ada di tangannya dan May bisa kehabisan tenaga sebelum pria itu mendapatkan keinginannya. Karena itu, May tidak mau lengah saat menghadapinya.
May berdiri di depan pintu apartemen Edward lalu melihat jam tangannya sejenak, pukul 7 malam. Dia membuang napas pelan. Terlambat Dua jam dari yang disampaikan ke Edward. Natasha baru pulang setengah Tujuh padahal janjinya jam 4 sore. Entah kenapa May merasa khawatir pulang telat. Mungkin karena ini malam terakhirnya di minggu pertama. Dia hanya berharap Edward sedang tidak di apartemen seperti biasa.
Pelan-pelan May memasukkan kode password Edward. Sekali lagi dia menghembuskan napas sebelum memutar gagang pintu. Setelah May melewati batas pintu, dia bisa merasakan aura kehadiran Edward. Kali ini, May menarik napas dalam.
Edward mengalihkan pandangannya dari tv ke May saat memasuki ruang utama. May jelas melihat pandangan tajam pria itu. Kakinya berhenti Tiga langkah dari posisi Edward. Satu, Dua, hingga detik kelima cahaya mata itu akhirnya berubah jadi teduh lalu terbentuk sebuah senyuman di bibirnya.
"Kamu terlambat pulang, sayang."
"Nat... Natasha molor Dua jam," ujar May ragu. Dia seakan tersihir dari ekspresi Edward yang tiba-tiba berubah.
"That's ok, sayang. Tapi tidak yang kedua." Senyum masih terukir di bibirnya tapi itu malah terlihat mengerikan. "Mandi dan ganti baju sana lalu kita makan malam bersama."
"Aku tadi sudah...."
"Ayo buruan, sayang. Aku yang dari tadi menunggumu dan sejak dulu kamu selalu membuatku menunggu," potong Edward dan kini senyumnya menghilang.
"Baiklah." May memilih patuh.
May menyalakan shower kemudian membasahi puncak kepalanya hingga ujung kaki. Dia keramas lalu menyabuni permukaan kulitnya. Pikirannya sesaat melayang ke tatapan Lima detik Edward yang berubah jadi senyuman. Entah itu ilusi atau bukan, tapi senyum itu seakan sihir hitam yang membuat bulu romanya berdiri. May menggeleng tiga kali menghilangkan segala pikiran negatifnya.
Dia membuat shower mengalir makin deras agar pikirannya kembali segar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Love & Obsession
General FictionEROTIC MATURE (21+) Niatnya hanya bersenang-senang tapi malah menyiksa diri. Dia, perempuan yang kupilih secara acak, hanya untuk semalam, menjadi mimpi buruk bagiku jika tidak memilikinya. Dia harus memilih, tersiksa di sisiku atau mati di sisi ora...
