"Assalamualaikum," salam Sam sambil memencet bel rumah Dyba itu. Saat ini ia akan meminta maaf kepada Dyba atas sikapnya tadi siang.
"Waalaikumsalam," jawab Nia.
"Wah, pasti lagi marahan nih ya? Pantesan Dyba tadi pulang-pulang mukanya cemberut gitu." Nia sudah bisa menebak dari Sam yang membawa coklat dan boneka. Sam hanya tersenyum kikuk dengan tebakan Nia itu.
"Bun, Sam boleh nemuin Dyba kan?" tanya Sam menatap Nia, Nia mengangguk sambil terkekeh kecil.
"Kamu kayak gak biasa aja ke sini, biasanya langsung nyelonong," canda Nia, Sam yang mendengar itu menggaruk tengkuknya saja.
"Ya udah sana temuin princess bunda, sekalian suruh dia makan, dari tadi dia gak ada makan." Sam membulatkan matanya mendengar itu.
"Bun, tapi Dy istirahat tadi cuma minum jus aja loh," ucap Sam kaget, Nia hanya mengangkat bahunya saja.
"Mood dia turun mungkin karena berantem sama kamu," jawab Nia.
"Ya udah deh, Bun, Sam ke atas dulu ya," ucap Sam sambil beranjak dari depan Nia itu.
"Dasar menantu kampret, untung ganteng," gumam Nia.
***
"Dy," panggil Sam sambil mengetuk pintu kamar Dyba. Sam sudah mengetuk berulang kali pintu kamar Dyba itu tetapi pemiliknya belum membukakan juga. Karena kesal, Sam pun membuka pintu kamar itu, untung gak dikunci. Sam pun menutup kembali pintu kamar Dyba dengan perlahan.
"Dy," panggil Sam sambil berjalan ke arah ranjang Dyba. Ia melihat Dyba yang sedang menggulung tubuhnya menggunakan selimutnya itu. Sam pun duduk di samping Dyba dan mengelus rambut Dyba itu.
"Hei, gak usah sok tidur deh," ucap Sam lembut, ia tau Dyba hanya tidur bohongan karena bola mata Dyba yang bergerak-gerak. Dyba yang sadar aksinya ketauan pun mengerucutkan bibirnya. Sam terkekeh kecil dan mengecup sekilas bibir itu. Dyba langsung membulatkan matanya kaget.
"Maafin sikap aku tadi ya," pinta Sam, Dyba malah memiringkan badannya. Sam yang melihat itu menghembuskan nafas lelahnya.
"Dy, maafin aku," pinta Sam sekali lagi sambil menggerakkan tubuh Dyba itu. Dyba malah menggerakkan badannya seolah agar tangan Sam tidak dapat memegang lengannya lagi.
"Dy, ini aku bawain coklat sama boneka, Dy," ucap Sam agar Dyba mau menatapnya. Sam yang merasa Dyba mengacuhkannya memilih untuk berbaring di samping Dyba dan memeluk tubuh Dyba dari belakang. Tubuh Dyba menegang merasakan pelukan Sam itu.
"Dy, maafin aku, aku tadi gak berniat bentak kamu, aku cuma gak suka kamu deket-deket sama onol-onol itu. Aku gak mau kamu di rebut cowok lain, Dy," gumam Sam sambil membenamkan wajahnya di tengkuk Dyba. Dyba menghembuskan nafas lelah.
"Tapi kamu gak seharusnya nyalahin aku, Sam. Kamu gak seharusnya bentak aku, yang salah Reynold bukan aku," jawab Dyba dengan gumaman juga. Sam tambah mengeratkan pelukannya di perut Dyba dan menenggelamkan wajahnya di tengkuk Dyba itu.
"Ya udah maafin aku kalau aku salah," pinta Sam dengan nada memelasnya. Dyba mengangguk mendengar nada memelas Sam itu. Merasa Dyba yang mengangguk di pelukannya Sam tersenyum manis.
"Makasih, sayang," bisik Sam ditelinga Dyba. Dyba mengangguk saja.
"Dy, kamu gak mau balik badan gitu? Masa aku cuma nampak rambut kamu doang sih?" tanya Sam, Dyba yang mendengar itu membalikkan tubuhnya dan matanya langsung bertatapan dengan mata Sam. Sam meletakkan tangannya di pinggang Dyba dan tangan Dyba diarahkan Sam untuk memeluk lehernya.
"Nah gini kan cantik," goda Sam yang membuat pipi Dyba memerah. Sam mengeratkan pelukannya hingga membuat keningnya dan Dyba menyatu.
"Dy, maafin aku kalau sikap possessive aku buat kamu gak bebas, aku cuma gak mau kamu dimilikinya orang lain. Karena you-" Belum sempat Sam menyelesaikan kalimatnya Dyba sudah menyelanya.
"I'm yours, Sam," ucapan Dyba itu membuat Sam mengecup sekilas bibir pink Dyba itu. Sam tersenyum manis mendengar Dyba mengatakan kalimat itu. Mendapat perlakuan itu Dyba menyembunyikan wajahnya di dada Sam. Ia malu, benar-benar malu.
"Ihh, pacar Sam malu-malu tikus pula lahh," goda Sam sambil mengelus rambut halus Dyba itu.
"Dy, gak mau makan coklatnya?" tanya Sam memecah keheningan diantara mereka berdua. Dyba mendongak dan menggeleng ke arah Sam, Sam mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" bingung Sam.
"Nanti kalau makan coklat malam-malam gendut," jawab Dyba polos.
"Ya ampun makan satu coklat gak bakalan buat kamu gendut sayang, kalau kamu makannya satu truk baru kamu gendut. Kalau kamu gendut pun gak pa-pa, bikin aku tambah gemes sama kamu," ucap Sam sambil mencubit pipi chubby Dyba. Dyba menatap polos Sam.
"Beneran, ya?" tanya Dyba memastikan, Sam pun mengangguk. Melihat itu Dyba langsung melepaskan pelukannya dan mengambil coklat yang di letakkan Sam diatas nakasnya itu. Sam terkekeh gemas melihat tingkah pacarnya yang kadang judes, kadang manja, kadang polos, kadang galaknya nauzubillah itu.
"Dy, makannya duduk," ucap Sam melihat Dyba yang memakan coklatnya sambil berdiri, Dyba menatap Sam.
"Makan di balkon aja ya, sekalian aku bawain makanan ke sini," Sam mengangguk.
"Dy, jangan lupa juga bawa nasi, kata bunda kamu belum ada makan dari tadi siang, bawa nasi kesini, kalau gak mau makan sendiri nanti aku suapin," ucap Sam yang di balas Dyba dengan anggukan.
Setelah merasa Sam sudah berbicara, Dyba meletakkan coklatnya yang baru ia gigit satu gigitan ke atas nakas dan langsung turun untuk mengambil cemilan dan makanannya.
'Dyba, Dyba, apa bedanya kamu gak makan coklat banyak tapi ngemilnya banyak? Dasar kamu itu buat aku pengenn bener-bener milikin kamu seutuhnya,' batin Sam.
Sam mengambil coklat yang di gigit Dyba tadi dan membawanya ke balkon kamar Dyba. Di balkon kamar Dyba ini pemandangannya bagus, mengarah ke belakang rumah Dyba yang menampilkan taman bunga yang kalau malam di hiasi lampu-lampu tumbler warna-warni dan menampilkan langit malam yang saat ini dipenuhi oleh bintang-bintang.
"Sam," panggil Dyba sambil meletakkan camilannya dan makannya di atas meja yang tersedia di sana. Di sana di sediakan dua kursi dan satu meja kecil yang bisa untuk meletakkan makanan. Saat Dyba akan duduk di kursi satunya tangan Sam menarik Dyba agar duduk di depan Sam, tepatnya ditengah-tengah paha Sam.
"Sam." Peringat Dyba, Sam tidak peduli dan malah memeluk perut rata Dyba itu.
"Mana coklat aku tadi?" tanya Dyba, ia membiarkan Sam memeluk tubuhnya, mau ia memberontak bagaimana pun yang namanya Sam tidak akan melepas pelukannya.
"Cari pake mata sayang, di samping piring itu apa?" jawab Sam sebal, Dyba hanya menyengir saja mendengar itu.
"Kamu mau?" tanya Dyba sambil mengarahkan coklatnya ke bibir Sam yang ada di bahu kanannya. Sam menggigit coklat itu.
"Manis kayak kamu," gombal Sam, Dyba malah mencubit tangan Sam yang ada di perutnya itu. Coklatnya sudah habis dan Dyba pun mengambil piring makannya itu.
"Dy, mau lah masa kamu makan sendirian." Sam cemberut. Dyba yang melihat itu langsung menyuapi Sam membuat Sam senang.
"Tadi kamu yang nyuruh aku makan, lah tiba aku makan malah kamu yang minta aku nyuapin kamu, dasar!"
cibir Dyba yang dibalas kekehan kecil Sam.
"Dyba inget di belakang kamu masih ada makhluk nih, jangan kamu makan sendirian aja sedangkan yang dibelakang melongo," kesal Sam, ia sudah membuka mulutnya dari tadi dan Dyba malah tidak menyuapinya lagi. Dyba terkekeh pelan dan kembali menyuapi Sam.
Mereka berdua menghabiskan malam itu dengan senyuman, dengan Dyba yang selalu menyuapi Sam, dan Sam yang selalu mencuri ciuman dari Dyba.
***
TBC...
Warning!! Typo bertebaran...
Jangan lupa vote and comment...
Terima kasih yang udah mau baca dan votment cerita aku...
24 Januari 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Samudera [Selesai]
Jugendliteratur"Aku gak suka kamu senyum sama dia!" "Ya Allah, masa aku gak boleh senyum sama pak Polisi sih? Waktu itu dia natap aku, jadi ya aku senyum lah, gak mungkin juga itu pak Polisi suka sama aku." "Tapi aku gak suka, kamu cuma milik aku, milik Samudera!"...
![Possessive Samudera [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/192984814-64-k603516.jpg)