18

46.2K 2.6K 37
                                        

"Enak, Dy?"

Pertanyaan Nia yang ambigu itu membuat kedua remaja ini diam tak berkutik. Sam dan Dyba saling berpandangan, apa bunda tau yang kita lakuin? Itulah benak kedua orang ini, Sam dan Dyba meneguk ludahnya secara kasar. Nia menatap keduanya dengan kening yang berkerut.

"Kenapa kalian malah bengong? Dyba bunda tanya sama kamu, enak gak susunya? Soalnya itu bukan susu yang biasa kamu minum." Penjelasan Nia membuat kedua orang itu ini menghela nafas lega, Dyba langsung merubah raut wajahnya.

"Enak kok, Bun, Dy pikir aja susu biasanya soalnya rasanya gak jauh beda." Nia hanya mengangguk mendengar itu. Nia mematikan kompornya dan berjalan ke arah putrinya dan mengelus rambut Dyba.

"Kamu udah agak enakan?"

Dyba mengangguk dan tersenyum manis kepada Nia. "Dy udah gak papa kok, Bun, bunda masak apa? Baunya sampe ke kamar Dy loh."

"Lah, Sam gak ada ngomong sama kamu kalau bunda masak bubur sama opor ayam kesukaan kamu?" Dyba menggeleng dan Nia menatap Sam, tetapi Sam hanya menyengir saja.

"Kan bunda gak ada bilang suruh Sam ngomong ke Dyba kalau bunda masak bubur sama opor ayam."

"Oh iya, Dy, bibir kamu kenapa bengkak?"

Deggg ....

Dyba dan Sam dibuat gelagapan mendengar pertanyaan Dyba, Nia sebenarnya memperhatikan bibir Dyba sedari tadi yang merah dan membengkak.

"Ah, anu, Bun, tadi susunya masih agak panas, terus Dy langsung minum gitu aja jadi ya bengkak deh bibir Dy." Alasan Sam itu ternyata dipercaya oleh Nia.

"Makannya pelan-pelan, sayang, di liat dulu apa susu itu masih panas atau enggak." Dyba mengangguk kaku menjawab itu.

"Bun, ayamnya dah masak kan? Dy laper ini." Dyba mencoba mengalihkan pembicaraan yang agak sensitif ini.

"Anak bunda ini laper toh, bentar bunda ambilin dulu. Sam gak mau makan sekalian? Kalau mau ambil aja sendiri soalnya bunda gak tau porsi kamu."

"Tenang aja, Bun, kalau masalah makan." Nia terkekeh palm mendengar itu, Nia pun mengambilkan makan untuk putrinya.

"Kamu kenapa ngajak kebawah kalau bibir aku bengkak?" Dyba mengatakan itu dengan berbisik.

"Yakan aku pikir bunda gak bakalan perhatiin bibir kamu."

"Tau ah, bete aku sama kamu!"

***

"Si." Chelsea menoleh ke arah Dyba yang sedang cemberut itu, entah kenapa padahal baru saja Dyba memasuki kelas dan langsung duduk ditempat Zian.

"Kenapa sih lo, Dy?" Dyba menggeleng dan mengerucutkan bibirnya, Chelsea menghembuskan nafas kesal.

"Kalau gak kenapa-kenapa ngapain lo teriak gitu Dyba yang cantik?"

"Gak tau juga gue, gue ngeliat Sam bawaannya pengen mukul dia aja."

"Wahh jangan-jangan lo hamil ya, Dy? Ya Allah, lo masih sekolah Dyba!" Chelsea berkata dengan suara toa yang membuat perhatian siswa ke arah mereka berdua tidak terkecuali kedua lelaki yang ada di tengah pintu tuh itu.

"Anjir lo! Suara lo bisa gak dikecilin dikit gitu? Gue gak hamil bangkek! Sama siapa juga gue hamil?" Dyba kesal dengan sahabatnya yang bersuara toa ini, bisa-bisanya Chelsea menuduh dia hamil, mau hamil sama siapa gue? kucing?

"Sam lo jangan ke sini dulu, kalau lo ke sini lo bakalan jadi lemper sama Dyba." Sam langsung menghentikan langkahnya dan menatap bergantian Chelsea dan Dyba, bahkan Zian pun ikut menghentikan langkahnya disebelah Sam.

Possessive Samudera [Selesai] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang