"Om, Sam memutuskan untuk tidak pernah bergabung lagi di kelompok ini!" Nino langsung bangkit dari duduknya, ia menatap tajam Sam.
"Kamu masih suka main-main ya ternyata Sam, kamu mau kalau pa-"
"Gak usah ngancam pakai pacar Sam, Om. Pacar Sam gak tau apa-apa, kalau memang om mau bertindak lagi Sam akan 24 jam bersama Dyba."
"Sam ka-"
"Kalau om memang nganggap Sam sebagai anak om, harusnya om gak pernah maksa Sam kayak gini. Tanpa Sam masuk ke kelompok ini, Sam bakalan tetap nganggap om sebagai papa kedua untuk Sam. Om itu pernah berjasa untuk Sam, kalau gak ada om mungkin Sam gak bakalan dapatin kasih sayang mama papa lagi. Sam masih bisa bantu oom kok, tapi tidak dengan jadi petinju dan enggak masuk ke kelompok ini lagi. Sam bakalan terus memberontak kalau om tetap maksa Sam untuk masuk ke kelompok ini lagi, tapi Sam bakalan tetap nganggap om sebagai papa kedua Sam kalau om gak maksa Sam untuk masuk ke kelompok ini dan gak pernah ganggu kehidupan Dyba." Nino terdiam mendengar itu.
Sam duduk di samping Nino, ia tersenyum tipis. "Om, tolong ngertiin Sam, oom tetap jadi ayah bagi Sam kok."
Nino menghembuskan nafas kasar, ia selalu tidak tega dengan anak lelaki yang satu ini. Dengan ragu ia menatap Sam. "Tapi serius ya kamu masih anggap om sebagai ayah kamu?"
Sam mengangguk sebagai jawaban, mungkin inilah yang sebenarnya di butuhkan dari awal, berbicara baik-baik dengan Nino dan dengan itu barulah Nino akan mengerti.
***
Dyba berjalan was-was ke arah pintu balkonnya yang sedari tadi di ketuk. Dengan perlahan ia menyibak gorden pintu itu untuk melihat siapa yang mengetuk pintunya. Perasaannya semakin was-was saat melihat punggung tegap dengan berbalut hoodie hitam. Tapi, sepertinya ia mengenal punggung tegap itu.
"Sam?" Dengan bisikan Dyba memanggilnya.
Mendengar ada pergerakan, orang itu membalikkan badannya dan tersenyum manis. "Hai, sayang."
Dengan cepat Dyba membuka pintu balkonnya dan menatap tajam Sam. Ini sudah jam sebelas malam dan Sam masih dengan santainya mengetuk pintu balkon kamarnya.
"Ngapain masih di sini?" Pertanyaan ketus itu langsung menyambut Sam, baru saja Sam akan mengucapkan selamat malam kepada gadisnya ini tetapi pertanyaan ketus lah yang ia dapatkan.
"Mau main ke rumah pacar lah."
"Gak tau apa ini udah jam berapa?"
Sam melirik jam tangannya dan menggidikkan bahu. "Masih jam sebelas pun."
"Sebelas pun gundulmu itu, udah malam Sam. Udah sana balik!" Sam mengangkat bahunya dan malah berjalan ke arah ranjang Dyba.
"Sam!" Sam mengacuhkan mendengar geraman gadisnya itu. Ia membaringkan tubuhnya ke kasur empuk itu.
"Dasar kampret! Datang gak bilang-bilang, pergi gak bilang-bilang, punya masalah di pendam sendiri." Sam menoleh cepat ke arah Dyba yang sedang menggerutu itu, ia merasa bersalah.
"Dyba aku gak ber-" Jari telunjuk Dyba sudah menempel di bibir Sam.
"Pulang sana aku mau tidur!" Sam menggeleng, ia melepaskan jari Dyba dari bibirnya dan malah menarik selimut Dyba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Samudera [Selesai]
Novela Juvenil"Aku gak suka kamu senyum sama dia!" "Ya Allah, masa aku gak boleh senyum sama pak Polisi sih? Waktu itu dia natap aku, jadi ya aku senyum lah, gak mungkin juga itu pak Polisi suka sama aku." "Tapi aku gak suka, kamu cuma milik aku, milik Samudera!"...
![Possessive Samudera [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/192984814-64-k603516.jpg)