"Chels!"
Chelsea mengangkat pandnagannya dari buku sejarah itu. "Kenapa Adyba yang cantik?"
Dyba tersenyum mendengarnya. "Sam sama Zi kemana?"
"Gak tau paling meeting lagi."
"Anjir! Bahasanya meeting, mereka mau tawuran lagi?" Chelsea menatap Dyba malas.
"Kok lo nanya gue sih? Gue itu bukan anggota mereka."
"Iss, gue kan cuma nanya, siapa tau aja lo dikasih tau sama Zian."
"Zian gak ada ngomong apa-apa, emang waktu Sam pergi tadi dia pamit apa sama lo?"
"Dia cuma bilang dia keluar bentar sama Zian. Udah gitu aja, gak ada ngomong mau rapat lah, mau tawuran lah." Chelsea menatap Dyba santai.
"Kalau kayak gitu mungkin mereka lagi ngerokok di warung belakang." Ekspresi Chelsea yang santai itu membuat Dyba mengerutkan dahinya.
"Gak mungkin deh, Sam kayaknya udah lama gak ngerokok Chels."
"Gak mungkin orang yang dulunya ngerokok terus tiba-tiba dengan gampangnya ngelepas rokok gitu aja, Dy. Lo gak ngelarang Sam ngerokok?"
Dyba menggeleng. "Gue cuma kasih dia pengertian aja kalau ngerokok itu gak baik buat kesehatan, kalau memang dia tetep lanjutin ngerokok ya udah itu urusan dia. Intinya gue udah bilangin."
Chelsea menggelengkan kepalanya. "Dan cara lo berhasil gak?"
"Gue sih gak tau berhasil atau enggak yang penting gue udah pernah bilangin dia. Kalau sekarang memang dia ngerokok lagi ya udah."
"Aku gak ngerokok lagi kok, sayang." Dyba langsung membalikkan badannya dan menatap Sam serta Zian yang berjalan kearah mereka berdua.
Sam dengan cepat mencium pipi Dyba dan langsung duduk di sebelah Dyba, sedangkan Zian mengecup puncak kepala Chelsea.
"Kamu dari mana?" Pertanyaan itu langsung di lontarkan Dyba.
"Cuma kumpul-kumpul aja sama Terrell kasian meraka gak aku perhatiin, yang aku perhatiin cuma kamu terus."
"Halah, gombal lo!" Zian langsung membalas ucapan Sam itu.
"Heh kutu kampret! Lo diem aja, orang lagi pacaran ganggu aja lo!'
Dyba mengendus baju Sam tanpa peduli dengan perdebatan kedua orang ini, "Terus kalau kamu gak ngerokok baju kamu kok bau rokok?"
"Oalah, kamu kayak gak tau mereka aja, mereka tadi ngerokok." Dyba hanya mengangguk mendengar itu.
"Chels, lo ngerjain apa sih? Dari gue sama Zian pergi sampe sakarang belum siap-siap juga." Chelsea mengangkat kepalanya sambil mendesah kesal dan menatap tajam Sam.
"Ini yang buat gue dari tadi belum siap, gue baru nulis beberapa kata udah ada aja yang ngajak ngomong, baru nulis berapa kata udah ada aja yang ganggu. Nanti kalau gue gak nyaut dibilang sombong."
Sam cengengesan mendengar itu, "Hehehe, sorry lah, neng, santai aja dong, silahkan di lanjutkan."
"Chels, bukannya sejarah masih untuk lusa ya?" Chelsea yang baru saja menulis terpaksa mengangkat kepalanya lagi.
"Gue baru nulis satu kata, Dyba! Memang masih untuk lusa tapi kalau dikerjain sekarang lebih enak."
Zian yang disebelah Chelsea mengecup pipi gadis itu. "Rajin kali kamu." Pipi Chelsea langsung memerah mendapat perlakuan seperti itu.
"Wah boleh dong, Chels."
Chelsea langsung menatap tajam sahabatnya itu. "Apa lo boleh-boleh?"
Dyba mengeluarkan senyum manisnya, "Ah, masa lo gak peka sih? Boleh dong gue minjem."
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Samudera [Selesai]
Teen Fiction"Aku gak suka kamu senyum sama dia!" "Ya Allah, masa aku gak boleh senyum sama pak Polisi sih? Waktu itu dia natap aku, jadi ya aku senyum lah, gak mungkin juga itu pak Polisi suka sama aku." "Tapi aku gak suka, kamu cuma milik aku, milik Samudera!"...
![Possessive Samudera [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/192984814-64-k603516.jpg)