Dyba dan Chelsea sedang ada di rumah Dyba, mereka menunggu cemas pacar mereka yang belum bisa dihubungi, padahal jam pulang sekolah sudah sekitar 2 jam yang lalu. Mereka berdua bahkan sudah berganti baju dan menghabiskan beberapa bungkus makanan ringan. Memang Chelsea memutuskan untuk menunggu Zian di rumah Dyba dan Chelsea pun sudah berkata kepada Zian.
"Si ..." Chelsea menatap ke arah sahabatnya itu, ia menemukan mata sahabatnya yang menunjukkan kecemasan begitu juga dengan tatapan dia.
"Gue yakin mereka gak pa-pa kok," ucap Chelsea mencoba menenangkan Dyba padahal dirinya sendiri juga cemas.
"Ini sebenarnya yang gue paling gak mau kalau mereka tawuran, mereka yang tawuran kita yang takut. Gue sebenernya pengen gue nyegah Sam biar gak ikut-ikut kayak gini lagi tapi namanya Sam gak bakalan mau," jelas Dyba.
"Lo pikir gue gak nyuruh Zian keluar apa? Udah pernah lagi bahkan awal kita pacaran gue udah nyuruh dia buat jangan ikut tawuran, tapi ya namanya juga Zian sama kayak Sam gak bakalan mau." Dyba mengangguk.
"Ya ampun anak-anak bunda kenapa mukanya cemas gitu sih?" tanya Nia yang melihat wajah Dyba dan Chelsea yang seperti itu. Nia sudah menganggap Chelsea anaknya karena sudah lamanya pertemanan Dyba dan Chelsea.
"Gak papa kok, Nda, cuma nungguin dua kampret itu aja," jawab Chelsea sambil menunjukkan senyumnya.
"Gak usah ditungguin, pulang juga mereka berdua nanti," ucap Nia menenangkan, Dyba dan Chelsea juga berharap sama seperti Nia.
"Bunda ke atas dulu ya," pamit Nia sambil mengecup puncak kepala Dyba dan Chelsea, mereka berdua mengangguk.
Tidak lama setelah Nia berlalu ke atas pintu utama terbuka menampilkan Sam yang sedang dipapah Zian dan Mang Arip, supir keluarga Sam. Melihat itu Dyba langsung berdiri dan membantu kedua orang itu.
"Langsung taruh kamar Dyba aja," cemas Dyba, sebenarnya wajah Sam tidak terlalu babak belur, hanya sudut bibir yang memburu dan pelipisnya yang sedikit robek, tetapi Sam mendapat pukulan kayu di belakang kepalanya jadi Sam tidak bisa menyeimbangkan diri. Sedangkan Zian mendapat luka seperti di wajah Sam.
Sam sudah dibaringkan di kamar Dyba, tidak lama kemudian Dyba datang dengan membawa dua baskom yang berisi air dingin dan dua gelas air. Dyba dengan telaten langsung mengompres luka Sam itu dengan handuk kecil yang sudah ia celupkan di air dingin itu, sedangkan Zian duduk di sofa kamar Dyba dengan Chelsea yang sedang mengompres lukanya juga.
"Kamu ini aku udah bilang gak usah ikut-ikutan tawuran lagi," omel Dyba sambil tetap mengompres luka Sam.
"Dy, jangan ngomel sama aku, pusing tau kepala aku," keluh Sam yang mendengar omelan Dyba, Dyba mendengus mendengar itu.
"Zi, tumben Sam bisa sampe di pukul?" tanya Dyba menatap Zian.
"Biasa pak bos ceroboh, dia gak tau ada anak Navarro yang ngincer dia dari belakang pake balok kayu jadi ya udah deh. Masalahnya yang jadi umpan utamanya itu pak bos makannya pak bos diserang sama sepuluh orang, sedangkan kami diserang kalau enggak dua ya tiga," jelas Zian yang membuat Dyba dan Chelsea menganga. Bayangkan sepuluh orang melawan satu orang? Astagfirullah membayangkan saja membuat tubuh Dyba bergidik sendiri, kalau dia yang ada di posisi Sam sekarang dia bakalan sekarat di rumah sakit.
"Dy, haus," gumam Sam, Dyba langsung memberikan air, Sam menyinyitkan dahinya.
"Dy, gimana aku bisa minum kalau kamu gak bantuin bangunin aku?" Perilaku manja Sam itu membuat Dyba menghela nafas kasar, dengan perlahan-lahan Dyba menarik tangan Sam agar Sam bisa duduk.
"Dy, kepala belakang aku mumet," keluh Sam yang membuat Dyba bingung.
"Terus diapain, Sam?" tanya Dyba bingung.
"Aku juga gak tau, mungkin untuk tidur aja kali ya," jawab Sam juga bingung, ia baru kali ini mendapatkan pukulan balok kayu.
"Mungkin." Mendengar jawaban Dyba itu membuat Sam mulai memejamkan matanya dengan ditemani usapan Dyba di rambut tebalnya. Dyba dengan telaten mengganti kompres Sam. Ia melihat ke arah Zian yang akan tertidur itu.
"Si, ajak aja Zian ke kamar sebelah kasian dia kayaknya capek," ucap Dyba.
"Gak usah, Dy, ngerepotin aja nanti, gue mau pulang aja lah," jawab Zian tidak enak hati.
"Enggak papa, lo tidur aja dulu di kamar sebelah," ucap Dyba kasian melihat Zian yang sepertinya kecapekan.
"Udah ah ayok." Chelsea menarik tangan pacarnya itu dan membawa ke kamar sebelah tepatnya ke kamar tamu.
Setelah Zian dan Chelsea keluar kamar Dyba, Dyba langsung menatap ke arah Sam. Jujur kalau saat tidur seperti ini wajah Sam terlihat begitu tenang, dengan mata yang tertutup padahal biasanya menampilkan sorot mata yang tajam, hidung mancung, kulit putih, alis tebal, bulu mata yang lentik, dan bibir yang entah kenapa masih pink padahal Sam dahulunya merokok.
Dyba mengecup bekas luka Sam membuat Sam sedikit menggeliat merasakan ada yang menyentuh lukanya. Dyba langsung mengelus rambut Sam agar Sam tenang kembali, memang seperti anak kecil tetapi itulah yang membuat Sam menjadi tertidur nyenyak. Sebelum pergi Dyba mengecup sekilas bibir Sam yang terbuka itu, ia terkekeh geli melihat kelakuannya sendiri.
"Anjir gue ketularan virus mesumnya Sam," gumam Dyba terkikik sendiri sambil ia keluar dari kamar.
Dyba membuka pintu kamar sampingnya dengan perlahan, ia melihat Chelsea yang sedang berciuman dengan Zian.
"Ehm," deheman Dyba itu membuat aksi kedua orang itu terhenti. Mereka dengan kompak melihat ke arah pintu dan menggumamkan nama Dyba.
"Gue minjemin kamar tamu buat lo istirahat Zi, bukan untuk lo ciuman sama Chelsea," ucapan Dyba itu membuat Zian menggaruk tengkuknya, Zian menatap mata Dyba meminta maaf.
"Sorry, Dy, sekarang gue tidur." Dyba mengangguk dan Chelsea ikut keluar dari kamar itu.
"Gak nyangka gue ternyata temen gue satu ini bisa mesum juga," ucap Dyba sambil geleng-geleng kepala, mendengar itu membuat pipi Chelsea memerah malu.
"Dy, kita gak masak untuk mereka atau sekalian untuk makan malam gitu?" tanya Chelsea mengalihkan pembicaraan. Dyba menghentikan langkahnya.
"Gue tanya bunda dulu," setelah mengucapkan itu Dyba langsung menaiki tangga lagi untuk bertanya kepada bundanya. Tidak lama Dyba turun dengan Nia.
"Yok kita masak, bunda kira tadi masih jam empat makannya bunda santai-santai aja ternyata udah jam lima toh," ucap Nia baru sadar.
"Bunda keasikan telfonan sama ayah jadinya lupa waktu deh," canda Chelsea yang langsung membuat pipi Nia memerah karena ketahuan.
"Kamu ini kalau ngomong suka jujur lah." Nia tersenyum malu. Dyba dan Chelsea terkekeh mendengar penuturan bundanya itu.
Mereka bertiga pun berkutat di dapur hampir satu jam lebih. Dengan diselingi tawa karena Chelsea yang menceritakan kejadian lucu, atau diselingi curhatan oleh Dyba. Sangking asyiknya mereka tidak sadar bahwa ada yang memperhatikan mereka.
"Sayang."
***
TBC...
Warning!! Typo bertebaran...
Jangan lupa vote and comment ya..
Terima kasih yang udah mau baca dan votment cerita aku...
06 Februari 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Samudera [Selesai]
Genç Kurgu"Aku gak suka kamu senyum sama dia!" "Ya Allah, masa aku gak boleh senyum sama pak Polisi sih? Waktu itu dia natap aku, jadi ya aku senyum lah, gak mungkin juga itu pak Polisi suka sama aku." "Tapi aku gak suka, kamu cuma milik aku, milik Samudera!"...
![Possessive Samudera [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/192984814-64-k603516.jpg)