Entah mengapa waktu begitu cepat, bahkan tidak terasa bahwa hari ini Sam akan berangkat menuju Amerika. Sedaritadi bahkan Dyba tidak melepaskan pelukannya dari Sam. Sam menghela nafas kasar, tetapi tangannya tetap mengelus rambut Dyba dengan lembut.
"Aku janji bakalan balik, Dy." Dyba mengangguk di pelukan Sam.
"Janji gak bakalan ngelirik bule di luar sana!"
Sam mengecup puncak kepala gadisnya itu. "Tenang aja, sayang."
"Sebenernya aku gak butuh janji kamu, aku butuh bukti selama lima tahun ke depan kalau kamu masih bisa setia sama aku."
Sam menangkup pipi Dyba dan menatap dalam mata itu. "Lima tahun itu kamu juga pake untuk kuliah kamu aja dulu, jadi psikolog kan maunya?"
"Iya."
"Nah, makannya kamu juga fokus ke kuliah aja dulu, lima tahun itu sebentar kok."
Dyba menggumam di dada Sam. "Sebentar gundul mu itu."
Sam terkekeh, ia mengecup berkali-kali puncak kepala Dyba. "Aku gak gundul, sayang."
"Kamu nanti berangkat jam empat?" Sam mengangguk dan mengelus pipi Dyba.
"Aku gak bakalan hilang dari kamu. Kalau aku kayak gitu kamu boleh santet aku nantinya. Mau di sini terus?" Dyba mengangguk. Saat ini mereka berdua sedang berada di rooftoop rumah Sam.
"Aku bakalan pulang kalau bisa setahun dua kali kok, kalau ada libur aku sempatin deh untuk balik ke Indonesia. Terus nanti aku bakalan telfon kamu lima jam sekali."
"Gila aja kamu nelfon lima jam sekali!" Sama terkekeh pelan, ia mengecup pipi Dyba dengan lama.
"Jangan aneh-aneh ya, Sam."
"Iya, sayang."
***
"Ma, Sam berangkat dulu, ya." Nita mengangguk. Ia memeluk putra bungsunya ini. Nita tidak mengantarkannya karena masih ada urusan di Indonesia.
Sam beralih menatap Dyba. Mata Dyba yang berkaca-kaca itu membuat Sam langsung memeluknya dengan sayang.
"Aku bakalan ngunjungin kamu kok kalau nanti libur, gak usah nangis, sayang. Kamu jelek kalau nangis." Dyba tambah menangis di pelukan Sam.
"Aku nunggu kamu di sini, jangan macem-macem di sana!"
"Iya, sayang."
Dengan berat hati akhirnya Dyba melepaskan pelukannya. Ia mendongak untuk melihat Sam.
"Bye, Sam!" Sam mengangguk. Ia mengecup puncak kepala gadisnya itu.
"Sam, ayo!" Perkataan dari papanya membuat Sam langsung menggeret kopernya meninggalkan kedua wanita yang ia sayangi itu.
Sam menatap kebelakang, ia melihat Dyba yang mengisi di pelukan mamanya. Hatinya bergetar, ia sebenarnya takut dengan hubungan jarak jauh, entah ia yang akan khilaf atau Dyba yang akan khilaf. Entah ia yang akan mendapatkan kesepian dan menemukan pengganti Dyba atau bahkan sebaliknya. Ini bukan masalah LDR beda kota, tetapi ini LDR beda negara dan juga beda benua. Yang Sam harapkan hanya satu, mereka sama-sama bisa menjaga hati dan perasaan.
***
Tiga bulan sudah Sam tidak ada di samping Dyba. Tetapi, Sam selalu menghubungi Dyba saat waktu luang. Bahkan, kemarin saat kelas sedan berlangsung Sam juga melakukan video call dengan Dyba untuk menunjukkan kalau Sam tidak berbohong.
Dan dua bulan belakangan Dyba hanya bermain dengan Chelsea dan Zian. Dyba tidak mau berteman dengan orang baru, ia muak saat tau alasan mereka berteman hanya karena fisik dan kekayaan semata. Dan lebih beruntungnya, Chelsea juga mengambil jurusan psikologi.
"Dy, gimana Sam?" Dyba menatap Zian sambil tetap mengunyah makanannya.
"Baik-baik aja, gak ada masalah, kayanya dia cepat beradaptasi dengan lingkungan sana."
"Alhamdulillah. Lo berdua baik-baik aja, kan?"
"Alhamdulillah, baik kok."
"Dy." Dyba mengangkat kepalanya dan menatap Zian. "Apa?"
"BangSat masih ngejar-ngejar lo?" Hanya anggukan yang diberikan Dyba.
Dyba memang dikejar-kejar oleh kakak tingkatnya. Namanya Satria Aldi, jadi mereka sering memanggilnya BangSat. Mahasiswa hukum semester 4 yang dari awal kuliah selalu mengejar Dyba. Dyba selalu menghindar, tetapi yang namanya Satria tidak pernah menyerah sama seperti Reynold pada jaman SMA dulu.
"Jangan deket-deket sama dia, Dy. Tanpa lo ketahui pasti di sekitar lo ada mata-mata Sam."
"Tau kok, ada satu orang dikelas yang selalu liatin gue terus. Gue ke toilet dia ngikut, sekarang aja anaknya ada dibelakang lo."
Zian memutar tubuhnya dan langsung menemukan seorang gadis dengan kepangan dan kaca mata yang bertengger di hidungnya. Nampak seperti anak cupu, tapi Zian tau itu bukan lah gadis biasa apalagi seorang gadis cupu.
***
Dyba memutar bola matanya saat wajah BangSat sudah ada di depannya saja. Dosen bahkan baru saja keluar dari kelas, tetapi si BangSat sudah duduk di bangku depan Dyba.
"Dy, ada waktu gak?"
Dyba menggeleng, ia tetap memasukkan beberapa bukunya itu ke dalam tasnya tanpa memandang Satria. "Maaf, Bang, gue lagi capek mau pulang aja."
Dyba akui Satria merupakan sosok cassanova di kampusnya. Satria ganteng, tajir, ramah, anak hukum lagi. Satria cowok yang tidak pernah menyerah selama 3 bulan ini untuk mendekati Dyba. Padahal, respon yang diberikan Dyba selalu negatif, selalu menolak Satria, tapi entah kenapa cowok itu tidak menyerah juga.
"Ya udah, gue antar pulang aja, ya?"
Dyba menatap jengah Satria. "Gak usah, Bang. Gue pulang sama Zian dan Chelsea aja."
Satria menatap sendu Dyba. Ia menahan tangan Dyba yang sudah akan beranjak dari tempatnya. Dyba menghempas tangan itu dan Satria meringis pelan. "Sebegitu gak adanya ya ruang di hati lo untuk gue?"
Dyba menghela nafas pelan. Ia menatap Satria dengan senyuman ramahnya. "Gue dah pernah bilang sama lo, Bang, ada hati yang gue jaga. Gue dah punya cowok."
"Terus kemana cowok lo? Kenapa dia gak pernah jemput lo?"
"Dia la-"
"Gue cowoknya, emang kenapa?"
***
Tbc...
Warning! Typo bertebaran....
Jangan lupa vote and comment...
Terima kasih bagi yang udah mau baca, vote, and comment ceritaku...
Maaf kalau pendek.
Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf kalau aku ada salah sama kalian. Selamat hari raya idul Fitri 1441 H bagi yang merayakan.
23 Mei 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Samudera [Selesai]
Teen Fiction"Aku gak suka kamu senyum sama dia!" "Ya Allah, masa aku gak boleh senyum sama pak Polisi sih? Waktu itu dia natap aku, jadi ya aku senyum lah, gak mungkin juga itu pak Polisi suka sama aku." "Tapi aku gak suka, kamu cuma milik aku, milik Samudera!"...
![Possessive Samudera [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/192984814-64-k603516.jpg)