47

28.4K 1.9K 88
                                        

Sam mencekal tangan Dyba yang melewatinya begitu saja di depannya. Dyba mengibas-ibaskan tangan Sam tanpa menoleh ke arah Sam. Sam tadi setelah dari rumah Dyba ia langsung pergi ke kampus Dyba dan menunggu Dyba di taman fakultasnya.

"Dy." Dyba menghempaskan dengan kuat tangan Sam sampai cekatan Sam terlepas.

Sam dengan cepat berganti posisi di depan Dyba, ia memandang Dyba dengan memelas dan memegang kedua tangan Dyba dengan lembut. "Dengerin aku dulu."

Dyba menoleh ke arah kiri, tidak mau menatap Sam. Dahinya mengerut karena banyak mahasiswi yang memperhatikan dirinya dan Sam.

"Aku masih ada kelas, aku lagi gak mau ketemu kamu dulu. Kamu bisa pulang, aku pergi dulu." Setelah itu Dyba melepaskan genggaman Sam dan langsung pergi begitu saja dari hadapan Sam. Ia tidak peduli akan beberapa tatapan mahasiswi yang melihatnya tadi.

Sam mengacak-acak rambutnya bingung. Waktunya di Indonesia tinggal dua hari lagi, dan ia harus mendapatkan maaf dari Dyba dalam waktu dua hari. Sam keluar dari wilayah kampus Dyba, saat ini ia akan pergi ke rumah Zian. Tadi, sewaktu menunggu Dyba Sam sudah menelfon Zian, menanyakan lelaki itu ada tidak di rumahnya dan jawabannya ada.

Sam membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Di sini dia tidak salah, ini semua hanya salah paham dan Dyba harus mengerti akan itu semua. Memang susah untuk menghilangkan sakit hati Dyba, Sam tau itu. Dulu juga pernah seperti ini hubungan mereka. Gara-gara ada perempuan lain yang mengaku-ngaku ia dihamili oleh Sam membuat Dyba marah selama satu minggu, itu pun Sam benar-benar berusaha sekuat mungkin untuk membujuk Dyba. Dan waktu dua hari Sam tidak yakin bisa menyembuhkan kekecewaan Dyba.

Sam memencet bel rumah Zian yang langsung dibuka oleh lelaki dengan boxer hitam dan kaus putihnya itu. "Datang-datang muka lo kusut amat. Dateng ke rumah temen itu senyum kek, salam kek, lah ini malah kayak baju belum disetrika gitu."

Sam berjalan masuk begitu saja melewati samping tubuh Zian membuat Zian mengumpati sahabatnya itu. "Tamu laknat!"

Zian mendudukkan tubuhnya di samping Sam dan menatap lelaki itu dengan kening yang dikerutkan. "Kenapa sih lo?"

"Minum dulu, Zi, gue haus." Zian menjitak kepala Sam. "Bener-bener tamu laknat lo itu."

Zian meletakkan es jeruk untuknya dan untuk Sam ke atas meja. "Tuh minum, jangan minta aneh-aneh, gue males bikinin. Itu aja gue ambil apa aja yang ada di kulkas." Sam mengangguk. Ia langsung meneguk es jeruk itu dengan cepat.

"Lo minum kayak orang habis nyangkul aja. Kenapa sih lo?"

Sam menyenderkan punggungnya di sandaran sofa itu. "Dy lagi marah sama gue. Sebenernya ini semua salah paham. Di Amrik gue di kejar-kejar sama cewek yang namanya Oline, cantik tapi sayangnya dia ayam kampus. Pertama masalahnya Dyba liat foto gue sama dia, gue di situ lupa ngehapus foto itu karena sibuk mau cepet-cepet nyelesaiin tugas gue biar gue bisa pulang. Kedua itu kemarin, Dyba lagi di rumah gue, di situ gue tidur dan ternyata Oline ada nelfon gue. Gue gak tau apa yang diomongin Oline sama Dy, tapi gue yakin kalau dia ngomong aneh-aneh."

"Yakin?" Sam menatap jengah Zian. "Pasti. Karena waktu di Amrik dia nempel terus sama gue, kalau ada cewek yang deketin gue di sana dia pasti tiba-tiba ngelabrak cewek itu dan bilang kalau dia pacar gue."

Zian berdecak, ia menatap gemas Sam. "Terus lo biarin dia ngaku-ngaku kayak gitu?"

Sam mengangguk. "Gue pikir ya udah biarin aja, gak ada pengaruhnya juga ke gue. Setidaknya dengan gitu gak ada cewek yg mau deketin gue."

Zian menjitak kepala Sam sedikit keras. "Geblek! Kalau lo biarin gitu dia ngerasa lo nerima aja kalau lo dibilang pacar dia."

"Ya gue gak tau bakalan kayak gini, Zi. Nah lanjut cerita. Gue itu kebangun waktu pintu kamar gue ke tutup gitu aja, lumayan kenceng, terus gue juga liat hp gue di karpet padahal gue yakin kalau gue tadi letaknya di nakas. Gue lari ke bawah untuk nemuin Dyba ehh ternyata yang gue temuin malah Dyba pelukan sama bang Agam. Di situ gue emosi, sampe malam juga Dy gak ada WA gue, jadi gue tambah emosi padahal harusnya di situ Dyba yang emosi sama gue. Gue chat dia 'Bagus kamu, pelukan di depan rumahku sendiri dan lebih parahnya sama abangku sendiri.' Gitu Zi."

"Ya Allah, Sam, lo masalah asmara kok tambah bego sih. Gue sebagai cowok aja gerem sama lo apalagi Dyba. Gue yakin Dyba pengen nyakar-nyakar wajah lo."

Sam menghela nafas kasar. "Ya sekarang gue harus gimana, Zi. Dyba belum mau ketemu sama gue sedangkan waktu gue di Indo tinggal 2 hari lagi."

"Rumit sudah. Lo harus berusaha dapatin maaf dia dalam 2 hari itu, kalau enggak dapat maaf gue gak yakin hubungan lo bakalan selamat."

Sam menatap horor Zian. "Lo ngomong dijaga!"

"Ya gimana Sam. Kepercayaan Dyba sama lo udah hilang 10% atau mungkin lebih. Gue tau hubungan LDR itu susah, lo harus bener-bener jaga kepercayaan Dyba, begitu juga Dyba."

"Gue harus gimana, Zi?"

"Datengin rumahnya terus, bawain apa, ada kesempatan jelasin ke Dyba kalau ini cuma salah paham, jangan bertele-tele." Sam mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Tapi, gue numpang tidur dulu di sini. Gue gak enak pulang ada bang Agam."

Zian mengerutkan keningnya. "Lah, kenapa?"

"Semalam gue nuduh dia selingkuh sama Dyba."

Saat ini level geramnya Zian sudah sampai di ubun-ubun. Zian menggeplak kepala Sam. "Bego! Gak ada bukti main nuduh!"

"Ya maaf, gue kan emosi liat Dyba pelukan sama bang Agam gitu aja." Sam mengusap-usap kepalanya yang habis di geplak Zian itu. Geplakan Zian lumayan terasa di kepalanya.

"Istirahat di kamar sana jangan di sini." Sam mengangguk sekali lagi dan langsung pergi ke lantai dua ke kamar Zian.

"Punya temen kadang gak ada akhlak, gak ada otak, minta di geplak."

"Gue masih denger, Zi!"

***

Tbc....
Warning!! Typo berterbaran....
Jangan lupa vote and comment....
Terima kasih yang udah mau baca, vote, and comment ceritaku....

24 Juni 2020

Possessive Samudera [Selesai] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang