Dan di sinilah Dyba berdiri, di depan tiang bendera sambil hormat ke arah sang saka merah putih itu. Peluh sudah membasahi wajah manisnya. Sedari tadi bahkan batinnya terus berkomat-kamit menggerutu, ia kesal dengan Bu Elis yang langsung mengambil buku Chelsea yang sedang disalinnya tadi. Ia benar-benar lupa dengan PR itu karena setelah diantar mama Sam ia langsung tertidur di kamarnya, ia juga kesal kepada Chelsea kenapa memberitahunya tiga menit sebelum bel masuk?
"Capek," keluh Dyba sambil menyeka keringat di dahinya dengan tangganya yang bebas, untung saja ini masih sekitar jam delapan jadi matahari belum begitu terik.
"Haus," keluh Dyba lagi, Dyba tidak tahu bahwa dari atas rooftoop sana ada seseorang yang melihatnya.
"Kapan sih jam kimia habis?" gerutu Dyba kesal. Hari ini jadwal kimia tidak tanggung-tanggung, selama lima jam pelajaran hanya diisi oleh kimia, setelah itu tiga jam pelajaran fisika dan dua jam terakhir diisi oleh matematika wajib.
Dyba kaget saat hembusan nafas terasa di pipinya, Dyba langsung menoleh dan menemukan Sam dengan tatapan sendunya. Sam langsung mengelap keringat Dyba dengan tangannya.
"Kenapa bisa di hukum?" tanya Sam sambil tetap mengelap keringat Dyba, Dyba diam membeku padahal baru sehari bahkan belum sampai sehari ia tidak dekat dengan Sam tetapi rasanya sudah seperti sebulan. Alay bukan? Tapi inilah Dyba, Dyba terbiasa dengan adanya Sam di kehidupan sekitarnya.
"Hey, jangan ngeliat aku kayak gitu." Dyba langsung tersadar dari lamunannya, ia menatap wajah Sam dari jarak sedekat ini. Tanpa sadar air matanya sudah menggenang di sudut matanya.
"Ya ampun, Dyba kok malah mau nangis sih? Kamu capek ya? Ya udah ayok duduk dulu." Sam membawa Dyba ke pinggir lapangan, ia mendudukkan Dyba dibawah pohon yang rindang.
"Nih minum," tawar Sam dan Dyba langsung mengambilnya. Ia meminum air itu hanya dengan beberapa tegukan karena tenggorokannya haus. Sam tersenyum tipis dan mengelus rambut Dyba.
"Kamu di sini dulu aku yang gantiin hukuman kamu." Sam berdiri dan berniat untuk berdiri dan hormat bendera. Tetapi, sebelum ia melangkah tangan Dyba sudah memegang tangannya.
"Itu hukuman aku, kamu di sini aja." Dyba langsung berdiri dan berjalan ke arah lapangan lagi.
"Dyba, muka kamu udah pucet, sayang." Sam khawatir melihat wajah pucat Dyba itu dan langsung menghadang jalan Dyba.
"Aku gak papa, Sam, tadi juga udah duduk sama kamu kasih minum kan? Jadi aku sekarang udah gak papa," jelas Dyba dan langsung berjalan kembali ke arah lapangan untuk menjalankan hukumannya lagi.
Sam tidak ingin menghalangi? Bukan, itu salah besar! Sam bahkan kalau bisa menghalangi Dyba supaya tidak menerima hukuman dan membiarkan Sam saja yang menjalankan hukuman itu. Sam diam karena ia sadar saat ini hubungannya dengan Dyba sedang tidak baik-baik saja. Sam takut kalau misalnya ia menghalangi Dyba, Dyba akan semakin marah kepadanya.
Sam terpaksa duduk lagi di bawah pohon itu dan memandang punggung gadis yang dicintainya. Sam duduk disini karena berjaga-jaga takut kalau Dyba nanti pingsan. Sam mengerutkan dahinya karena melihat Dyba yang memegangi pelipisnya, tanpa pikir panjang Sam langsung berlari ke arah Dyba dan ....
Bruk ....
Dyba terjatuh di pelukan Sam dengan wajahnya yang memucat dan keringat yang mengucur dari dahinya. Dengan panik Sam langsung mengangkat Dyba dan berlari ke arah UKS. Ia membuka pintu UKS dengan kakinya sehingga membuat penjaga UKS terkaget. Sam langsung meletakkan Dyba di brankar.
"Heh! Cepet periksa jangan cuma melongo aja, bego! Di ini lo ditugasin untuk ngobatin bukan untuk ngeliatin doang!" bentak Sam kepada adik kelas yang ber-name tag Hana itu. Hana dengan cekatan dan hati-hati langsung memeriksa Dyba.
"Kak Dyba kayaknya cuma kecapean aja, Kak. Kayaknya dia juga kurang tidur semalam sampe kantung matanya aja segitu," jelas Hana sambil menatap takut Sam. Sam menghembuskan nafas lelahnya.
"Ya udah, lo boleh keluar." Mendengar ucapan Sam Hana dengan cepat langsung keluar karena ia tidak tahan dengan kakak kelasnya satu ini. Bukannya Hana tidak tau bahwa sedari tadi Sam melihatnya dengan tatapan tajam saat ia memeriksa Dyba. Dasar kakak kelas nyebelin!
"Dyba," lirih Sam sambil mengamati wajah Sam. Ia baru sadar bahwa ada kantung mata di bawah mata Dyba itu. Ia sedari tadi tidak sadar karena ia hanya fokus pada wajah Dyba yang cantik dan manis itu. Sam mengelus kantung mata itu dan mengecup mata Dyba.
"Maafin aku," lirih Sam sambil mengecup punggung tangan Dyba.
"Engh ...." erangan Dyba itu terdengar. Kepala yang pusing itu langsung menyambut Dyba dari pingsannya tadi. Mendengar itu membuat Sam langsung mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Dyba.
"Dy, maafin aku." Sam langsung saja meminta maaf padahal Dyba belum membuka mata sepenuhnya.
"Sam." Sam langsung menatap Dyba dalam.
"Kok kamu ada lima sih?" tanya Dyba sambil menatap Sam. Sam tersenyum geli mendengar itu.
"Aku cuma satu sayang dan itu cuma untuk kamu," gombal Sam.
"Mau es krim."
"Lah orang baru bangun pingsan itu mintanya air putih bukan malah es krim." Lama-lama Sam bingung dengan tingkah Dyba. Mata Dyba berkaca-kaca.
"Tapi aku mau es krim," lirih Dyba dan Sam mengembuskan napas kasarnya.
"Iya, nanti kita beli es krim. Kamu kenapa kurang tidur semalam?" tanya Sam sambil mengusap pipi Dyba.
"Gak papa kok, cuma gak bisa tidur aja." Dyba tidak ingin Sam makin pede kalau Dyba jujur alasan sebenarnya bahwa ia memikirkan Sam.
"Terserah kamu lah, sekali lagi aku minta maaf ya." Dyba tersenyum dan mengangguk. Melihat itu Sam langsung memeluk erat Dyba.
"Makasih, sayang." Sam berbisik sambil menelusupkan wajahnya di lekukan leher Dyba. Dyba menggeliat geli ditambah lagi Sam terus mencium lehernya.
"Sam geli," rintih Dyba sambil berusaha mengangkat kepala Sam, tetapi Sam malah semakin menelusupkan wajahnya.
"Sam emm..." Dyba menggeliatkan tubuhnya. Ia dengan paksa menarik leher Sam dan menangkup rahang Sam.
"Lain kali kalau liat aku sama cowok tanyain dulu, jangan langsung asal pukul aja." Dyba menatap mata itu, Sam menghembuskan nafas kasar.
"Aku coba, Dy, aku selalu nyoba untuk mendam emosi tapi gak pernah bisa apalagi kalau liat kamu deket sama cowok lain." Sam berkata jujur dan Dyba tersenyum manis.
"Kamu boleh possessive, tapi jangan over possesive kayak gini, kamu tau gak apa yang paling gak disukai cewek?" Sam menggeleng.
"Punya pacar yang possessive-nya kelewatan." Tubuh Sam langsung menegang mendengar itu. Ia langsung menatap dalam mata Dyba.
"Kamu juga gitu?" Tenggorokan Sam rasanya terkecat saat mengatakan itu.
Dyba tersenyum manis.
"Aku udah biasa sama sifat possessive kamu, tapi kalau possessive kamu bakalan kelewatan lebih-lebih-lebih, ya aku gak bakalan tahan juga dan dengan terpaksa aku harus pergi dari kamu walaupun aku sayang sama kamu," jelas Dyba yang membuat Sam langsung menggeleng tegas.
"Enggak kamu gak boleh pergi dari aku! Adyba cuma miliknya Samudera! Adyba gak boleh jadi milik orang lain!" Sam menggeleng panik, ia langsung memeluk Dyba dan menempatkan kepala Dyba di dadanya.
"Makannya kalau gak mau Adyba jadi milik orang lain, sifat possessive kamu itu jangan kelewat batas. Possessive boleh tapi jangan sampai gak ngebolehin aku cuma ngobrol sama cowok, aku perlu punya teman cowok juga, Sam," gumam Dyba sambil menghirup wangi tubuh Sam yang menenangkannya.
"Aku bakalan nyoba, sayang." Dyba mengangguk, Sam mengecup berulang-ulang puncak kepala Dyba.
"Astagfirullah ...."
***
TBC...
Warning!! Typo bertebaran...
Jangan lupa vote and comment ya...
Terima kasih yang udah mau baca dan votment cerita aku...
19 Maret 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Samudera [Selesai]
Teen Fiction"Aku gak suka kamu senyum sama dia!" "Ya Allah, masa aku gak boleh senyum sama pak Polisi sih? Waktu itu dia natap aku, jadi ya aku senyum lah, gak mungkin juga itu pak Polisi suka sama aku." "Tapi aku gak suka, kamu cuma milik aku, milik Samudera!"...
![Possessive Samudera [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/192984814-64-k603516.jpg)