"Dy, wajah kamu kenapa kusut gitu?" tanya Gean heran menatap wajah adiknya yang bisa dibilang seperti zombie. Kantung matanya itu loh, sudah bisa menampung air.
"Bang, Dy berangkat sama abang ya," pinta Dyba menatap melas Gean, Dyba tidak memperdulikan pertanyaan Gean tadi. Difki, Nia dan Gean mengerutkan keningnya mendengar permintaan Dyba itu.
"Lah kenapa, sayang? Sam gak jemput kamu?" Dyba menggeleng malas saat mendengar mamanya berkata nama Sam. Gean yang merasa ada yang aneh pun menganggukkan kepalanya.
"Abang bakalan nganter kamu, apasih yang enggak buat adik Abang yang kayak zombie ini?" gemas Gean sambil mengacak-acak rambut Dyba. Dyba mengerucut bibirnya karena mendengar dia yang dikatakan seperti zombie dan rambutnya menjadi acak-acakan lagi.
"Bang, udah kan?" Gean mengangguk, melihat itu Dyba langsung menarik tangan Gean.
"Bun, Yah, Dyba pergi dulu, Assalamualaikum," salam Dyba sambil mengecup punggung tangan Difki dan Nia yang diikuti oleh Gean.
"Gean nganterin Dy dulu ya, Yah, Nda, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, sayang," jawab kedua orang itu bersamaan.
Setelah keluar dari ruang makan Dyba langsung meninggalkan Gean di belakangnya. Ia merasa kalau ia jalan dengan Gean seperti pengantin baru lebih tepatnya seperti siput, lambatnya nauzubillah.
Baru membuka pintu utama Dyba langsung disuguhi pemandangan yang membuat moodnya langsung turun lagi. Wajah seorang Sam tepat berada di depan wajahnya dengan senyum manisnya. Dyba yang melihat itu memutarkan bola matanya dan kembali lagi masuk ke dalam rumah. Gean yang berada tidak jauh dari Dyba mengerutkan keningnya.
"Lah kenapa masuk lagi, Dy?" tanya Gean heran sedangkan Dyba hanya melongos duduk di sofa, Gean melihat ke arah belakang Dyba dan menemukan wajah Sam.
"Hai, Bang!" sapa Sam dan Gean hanya mengangguk. Gean mendekati Sam dan berbisik kepada pemuda itu.
"Ada masalah sama putri kerajaan?" Sam hanya tersenyum sekilas dan mengangguk.
"Biasa bang, masalah anak muda," jawab Sam sambil menggaruk tengkuknya.
"Tapi kayaknya yang ini lumayan parah ya sampai dia gak mau liat muka lo?" Sam hanya tersenyum tipis saja, Gean yang melihat itu menepuk bahu Sam.
"Kayaknya untuk saat ini biarin dia sendiri, biarin dia nenangin diri dulu, Sam." Sam mengangguk.
"Sebenarnya mama juga udah bilang gitu, tapi Sam gak bisa gak ketemu Dy sehari," jujur Sam.
Sebenarnya ia tadi berniat untuk bolos ke tempat nongkrong biasanya kalau tidak ke sekolah, tetapi bolos di ruangannya atau rooftoop bersama teman-temannya. Tapi entah kenapa kurang dari satu meter sampai sekolah terbayang wajah Dyba dan Sam langsung memutar arah menuju ke rumah Dyba.
"Tapi kayaknya lo harus ngecoba dulu, biarin dulu Dy nenangin diri, sekitar dua atau tiga hari lagi lo minta maaf deh sama dia. Biarin dua atau tiga hari ini gue yang ngantar-jemput dia ke sekolah, ikhlas gue tiga hari jadi babu," ucap Gean melas, Sam tersenyum tidak enak kepada Gean.
"Maaf ngerepotin jadinya, Bang. Kalau kayak gitu Sam pergi dulu ke sekolah. Makasih, Bang." Gean tersenyum mendengar itu lalu menepuk pundak Sam.
"Tenang aja adik ipar." Senyum Sam langsung mengembang sempurna mendengar itu.
"Ya udah bang, Sam duluan, Assalamualaikum." Gean mengangguk dan menatap mobil Sam yang sudah hilang dari pekarangan rumahnya.
"Dybaaaaa!" teriak Gean menggelegar di mansion itu, tidak lama setelah itu Dyba langsung ada disamping Gean.
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Samudera [Selesai]
Teen Fiction"Aku gak suka kamu senyum sama dia!" "Ya Allah, masa aku gak boleh senyum sama pak Polisi sih? Waktu itu dia natap aku, jadi ya aku senyum lah, gak mungkin juga itu pak Polisi suka sama aku." "Tapi aku gak suka, kamu cuma milik aku, milik Samudera!"...
![Possessive Samudera [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/192984814-64-k603516.jpg)