22

38.4K 2.3K 41
                                        

"Sam, sumpah rasanya aku mau mati!"

Nafas Dyba masih belum beraturan karena teriak-teriak saat di jalan tadi. Bagaimana tidak? Seorang Sam membawa mobilnya dengan kecepatan 130 km/jam dengan banyak motor yang ada di belakangnya. Untung saja jalanan sedang sepi, kalau tidak mungkin Sam sudah menabrak beberapa mobil dan menjadikannya kecelakaan beruntun. 

"Tapi seru kan?" Dyba langsung melotot kesal.

"Seru-seru gundulmu itu seru! Jangan kayak gitu lagi ih aku jadi pengen muntah." Ekspresi jahil Sam tadi langsung berubah menjadi ekspresi cemas.

"Kamu gak papa kan? Atau sekarang kita langsung pulang aja?" Dyba menggelengkan kepalanya.

"Enggak papa kok, tadi mual juga gara-gara kamu bawa mobilnya kenceng banget, rasanya udah gak ada gravitasi lagi." Mendengar itu Sam langsung menghembuskan nafas lega.

"Ya udah, sorry ya, sayang. Ini kamu jadinya mau masuk ke apartemen aku dulu atau mau langsung pulang?"

"Terserah kamu, pokoknya aku masih pengen pesenan aku di cafe tadi."

"Siap buk bos, kita masuk dulu yuk!" Sam langsung keluar dan berlari untuk membukakan pintu mobil untuk Dyba.

"Ih, kamu mah aku buka sendiri juga bisa, gak perlu kamu bukain kayak gitu."

"Gak papa biar romantis." Setelah mengucapkan itu Sam langsung menggandeng tangan Dyba untuk masuk ke dalam apartemen miliknya.

Sam sudah memiliki apartemen ini sejak kelas 10, ia menabung dari uang jajan dan uang yang papanya berikan setiap bulannya. Bukannya papanya tidak memberikannya apartemen sendiri, tetapi Sam hanya mau membeli apartemen sendiri katanya biar enak saja. Papa dan mamanya bahkan sudah membelikannya apartemen di kawasan yang lebih elit daripada apartemennya yang sekarang tetapi Sam hanya akan pergi ke apartemen itu apabila ia akan berkumpul dengan teman-teman Terrelnya.

"Sam, emang yang tadi siapa sih?" Dyba duduk di sofa itu sambil meletakkan tasnya di meja dan ia menyenderkan tubuhnya di sofa dengan kasar.

Sam yang baru saja kembali dari dapur dan membawakan dua gelas jus jeruk itu langsung menjawab,"Oh, biasa anak Navarro."

"Kamu gila ya bawa mobil secepet itu, kamu pembalap, ya?"

Sam membawa kepala Dyba ke arah dadanya, ia mengelus rambut gadis itu, "Ya dulu aja sih, sekarang jarang-jarang lagi, mama gak ngebolehin lagi aku jadi pembalap."

Dyba langsung menegakkan punggungnya. "Berarti kamu dulu pembalap?"

Sam mengangguk. "Pembalap nasional lebih tepatnya, tapi aku waktu itu masih dalam kategori junior."

"Gak percaya aku sebenarnya, tapi ngeliat kamu bawa mobil tadi aku percaya sih."

"Udah sini nyender lagi." Sam melebarkan pahanya dan membiarkan Dyba duduk di tengah pahanya, ia membawa tubuh Dyba agar bersandar ke arahnya.

"Aku sayang sama kamu." Dyba mendongak dan tersenyum manis.

"Aku juga." Sam mengecup sekilas bibir pink Dyba itu.

"Iss, kamu mah nyari kesempatan dalam kesempitan!"

***

Sam dan Dyba sudah sampai di rumah Dyba pada pukul 08.00 malam. Mereka berdua menghabiskan waktu di apartemen Sam hanya untuk maraton film saja, walaupun Sam sering mencuri kesempatan untuk mencium Dyba itu.

"Assalamualaikum." Dyba membuka pintu rumahnya dengan perlahan, ia tidak menemukan seseorang pun di ruang tamu.

"Gak ada orang, Dy?"

Possessive Samudera [Selesai] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang