Sam uring-uringan saat mengingat besok hari finalnya tiba. Hari yang akan mengubah hidupnya dari seorang pemuda menjadi seorang suami yang harus memberikan dan membawa istrinya dan anak-anaknya kelak ke jalan yang benar. Bukan Sam belum siap, tapi ia masih takut. Ah, memikirkan perasaannya sendiri membuat Sam bingung.
Empat hari ini Sam benar-benar tidak ada menemui Dyba. Bahkan video call pun paling lama hanya lima belas menit karena pasti ada yang mengganggunya. Dan di matanya Dyba semakin cantik, semakin menarik, dan gadisnya itu akan berubah menjadi perempuannya untuk besok hari.
Agam yang sedari tadi melihat adiknya guling-guling di kasur itu menahan tawanya. Ia sengaja tidak masuk, hanya menyandar di pintu kamar dan melihat adiknya yang uring-uringan itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Adyba Bailey Khenzi binti Difky Purnama Khenzo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Sah!" Sam terlonjak kaget saat mendengar teriakan itu. Ia menoleh dan menatap tajam saat melihat Agam yang bersandar di pintu kamarnya itu.
"Kampret lo!"
Agam tertawa, ia berjalan ke ranjang Sam dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur itu. Agam menoleh ke samping, menatap adiknya yang mendahuluinya ini. "Lo udah ngulangin itu ada mungkin seratus kali dari pagi sampai sekarang masih jam dua siang, Sam. Segitu gugupnya kah?"
"Iyalah, Bang. Besok itu pasti banyak orang dan malu-maluin kalau gue lupa teks-nya."
Agam mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Kalau udah jadi suami jangan nyakitin Dyba. Dyba pernah cerita lo itu posesif banget, kurangin posesif lo, Dy juga gak bakalan ke mana-mana. Lo gak posesif sama dia, kalau dia jodoh lo bakalan jadi. Dan nyatanya sekarang jadi, kan? Kalau bisa nikah itu sekali seumur hidup, apapun nanti yang bakalan terjadi di rumah tangga lo jangan pernah ngucapin kata talak. Kalaupun memang gak bisa dibicarakan dengan kepala dingin sama kalian berdua, bicarain sama orang tua Dy atau enggak sama papa mama."
Sam tersenyum. "Gue juga gak mau bang nikah dua kali. Gue mau sampai tua nanti gue tetap sama Dy. Dy itu udah tau gimana sifat gue, luar dalam gue dia udah tau itu dan tetep bertahan sama gue. Itu yang buat gue yakin untuk ngelangkah lebih lanjut dan harus ngelewatin lo."
"Gue gak masalah lo lewatin sebenernya karena memang calon lo udah ada di depan mata. Apalagi calon lo kayak Dy gue bakalan suka-suka aja. Satu pesan gue, jangan pernah nyakitin Dyba, dia cewek baik-baik."
"Iya, Bang, gue bakalan jadi suami yang baik untuk dia nantinya."
Agam sekarang menyampingkan tubuhnya dan menatap dengan serius adiknya itu. "Jujur sama gue, lo udah pernah ngapain aja sama Dy?"
Sam meneguk ludahnya mendengar pertanyaan Agam. "Bang, bentar ya gue kebelet."
Baru saja akan berlari ke kamar mandi, baju belakang Sam sudah ditarik Agam agar Sam tidak kabur. Agam menatap tajam Sam. "Jangan bilang lo udah buat anak orang udah gak perawan?"
"Astaghfirullah, kenapa semua orang nanyain kayak gitu ke gue sih?"
"Ya kan gue cuma nanya. Jawab pertanyaan gue makannya."
Sam menghela nafas kasar. "Gue gak sebejat itu ngambil sesuatu yang berharga dari gadis gue. Gue mau ngelakuin gitu sadar diri, Bang, gue cuma pacar bukan suaminya. Cukup bibirnya aja yang gue icip." Kata-kata yang terakhir itu diucapkan Sam dengan pelan.
Agam memicing mendengar perkataan Sam yang terakhir. "Coba lo ulangi kata-kata yang terakhir!"
Sam menunduk. "Gue icip bibirnya."
Agam memukul lengan Sam dengan keras. "Kan gue udah mikir pasti lo udah apa-apain Dy. Kapan, di mana pertama lo ambil?"
"Di taman, waktu gue sama dia berantem. Kelas sebelas semester satu, tanggal 17 Oktober, kalau gak salah sekitar jam setengah empat sore."
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Samudera [Selesai]
Teen Fiction"Aku gak suka kamu senyum sama dia!" "Ya Allah, masa aku gak boleh senyum sama pak Polisi sih? Waktu itu dia natap aku, jadi ya aku senyum lah, gak mungkin juga itu pak Polisi suka sama aku." "Tapi aku gak suka, kamu cuma milik aku, milik Samudera!"...
![Possessive Samudera [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/192984814-64-k603516.jpg)