39

28.1K 1.9K 161
                                        

"Gue cowoknya, emang kenapa?"

Tubuh Dyba menegang, ia kenal suara itu. Dengan perlahan ia membalikkan tubuhnya dan langsung menemukan seorang lelaki dengan kaos hitam polos dan celana jeans hitam tengah bersandar di pintu ruangan kelasnya. Samuderanya telah kembali!

Tanpa memperdulikan Satria, Dyba dengan cepat berlari ke arah Sam dan menubruk tubuh jangkung itu. Ia membenamkan wajahnya di dada Sam. Dyba berbisik, "I miss you so much, Beb!"

Sam terkekeh geli. Ahh, wanita di pelukannya ini semakin menggemaskan saja. Ia mengecup puncak kepala Dyba. "Miss you too, honey."

Sam menatap Satria yang menganga melihatnya dan Dyba. Sam menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa lo? Gak percaya kalau gue pacarnya Dyba?"

"Sial!" Satria mengumpat pelan. Kalau seperti ini berarti kesempatannya untuk mendekati Dyba tidak ada lagi. Ia merasa kalah telak dengan Sam. Tubuhnya dengan Sam bahkan masih tinggian Sam. Ia mengakui bahwa Sam merupakan sosok yang pas untuk Dyba.

Satria berdiri, ia melangkah ke arah Sam. "Maaf, gue gak tau kalau Dyba udah punya cowok. Gue gak pernah liat lo selama ini soalnya."

Sam mengangguk. Tangannya tetap mengelus rambut Dyba yang masih memeluknya. "Gue kuliah di luar negeri, dan hari gue baru dikasih libur."

"Oh." Hanya itu respon yang bisa diberikan Satria. Satria menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Gue pergi dulu."

Sam hanya mengangguk. Setelah mendengar pintu belakangnya di tutup, Sam mengelus punggung Dyba. "Hey, masih mau pelukan terus nih?"

"Iya." Jawaban polos dari Dyba itu membuat Sam terkekeh. Ia mengelus naik turun punggung dan rambut Dyba. "Pulang dulu, nanti di rumah peluk aku sepuas kamu deh."

Dyba melepas pelukannya, ia mengerucutkan bibirnya sambil menatap Sam. Sam menarik bibir itu. "Itu bibir monyong-monyong gitu kenapa? Minta dicium?"

Dyba memukul lengan Sam, ia menatap Sam dengan sebal. "Baru datang malah rese!"

"Hahaha, maaf atuh, sayang. Pulang?" Dyba mengangguk. Ia diam saja saat tubuhnya dirangkul Sam. Banyak mahasiswi yang melihat ke arah mereka. Tidak, lebih tepatnya ke arah Sam. Sam begitu mempesona untuk saat ini. Entah kenapa, Dyba sendiri bahkan bingung. Aura yang dikeluarkan Sam berbeda.

Dyba mengerutkan keningnya, ia menatap Sam heran. "Kamu bawa motor?"

"Iya, gak papa kan?"

"Gak papa sih, cuma tumben aja gitu."

Sam menggaruk hidungnya yang tidak gatal. "Aku tadi baru aja sampai. Jadi, dari bandara langsung letakin koper di apartemen habis itu langsung ke sini jemput kamu. Aku takut macet kalau pakai mobil, makannya jadinya pakai motor."

Dyba membulatkan matanya. "Jadi, kamu belum pulang ke rumah?" Sam hanya menyengir untuk menjawab itu.

Dyba menaiki motor sport Sam itu dengan bantuan bahu Sam. Tanpa mempedulikan situasi setelah naik Dyba langsung memeluk erat tubuh Sam. Wajahnya ia benamkan di punggung tegap itu. Sudah lama Dyba tidak menghirup wangi tubuh Sam. Sam terkekeh, sepertinya gadisnya ini begitu merindukannya.

Sam mulai melajukan motornya membelah jalanan padat ini. Untungnya ia tidak mengalami jet leg. Ia mengarahkan motornya untuk ke daerah apartemennya. Ia akan mengajak Dyba seharian penuh di sana. Bermanja-manja ria, membayangkan saja sudah membuat Sam senyum sendiri. Sam mengelus tangan Dyba yang melingkar di perutnya itu.

"Kamu mau makan dulu gak?"

Merasakan Sam berbicara padanya Dyba memajukan tubuhnya. Wajahnya sejajar dengan pipi Sam. Dyba berteriak, "Apa?"

"Kamu makan makan gak?"

"Hahaha, iya, kamu tambah ganteng." See, tidak nyambung sama sekali. Mendengar itu Sam mendengus. Ia mencoba berteriak sekali lagi. "Dyba, kamu mau makan dulu apa enggak?"

"Iya, aku juga sayang kamu."

Astaghfirullah, ingatkan Sam untuk memberitahu Dyba agar mengorek telinganya itu. Sam bertanya apa dan jawaban Dyba apa. Tanpa bertanya lagi Sam membelokkan motornya ke warung ayam geprek, salah satu makanan kesukaan Dyba.

Dyba mengerutkan keningnya. Ia melepas pelukannya sambil menatap sekitar. Motor Sam sudah dimatikan. "Ngapain ke sini?"

Sam melepas helm-nya. "Kamu aku tanyain apa jawabannya apa. Ya udah langsung aku bawa ke sini aja."

Dyba menatap Sam dari spion motor. "Emang kamu nanya apa sama aku?"

"Tiga kali aku nanya padahal. Kamu mau makan dulu atau enggak. Ehh, jawabannya malah apa." Pipi Dyba memerah malu. Ia benar-benar tidak mendengar apa yang dibilang Sam, ia menjawab itu pun dengan asal saja.

"Turun dulu, aku juga laper." Dyba akhirnya mengangguk.

Sam langsung menggandeng tangan Dyba untuk masuk ke warung itu. "Rame banget, Sam." Sam melihat ke arah jam tangannya. "Iyalah, jam makan siang, sayang."

Mereka mengambil tempat duduk di pojokan, bukan apa-apa karena tempat itu dekat dengan kerupuk. Dyba, warung, dan kerupuk tidak bisa dipisahkan. Dyba langsung saja mengambil kerupuk setelah duduk di kursi itu.

"Ayam geprek 2 pake nasi, sama es teh dua, Mas."

Sam mencomot satu kerupuk dari tangan Dyba yang membuat perempuan itu mendelik kesal. "Tinggal ambil sendiri kenapa, kenapa harus ambil punyaku gitu?"

"Beda rasanya, sayang."

"Ah, terserah kamu lah."

Sam terkekeh pelan, ia mengacak-acak rambut terurai Dyba itu yang membuat Dyba menatap tajam Sam. Dyba menelan kerupuk yang ada di mulutnya dulu kemudian ia duduk menghadap ke arah Sam. "Kuliahnya lancar?"

Sam langsung mengangguk. "Lancar jaya."

"Alhamdulillah kalau gitu. Aku beneran gak nyangka kamu di sini aja. Emang libur apa?"

"Libur karena memang udah jatahnya libur."

Dyba memicingkan matanya. "Kamu gak bolos, kan?"

"Enak aja!" Sam mengeluarkan ponselnya, ia menunjukkan beberapa foto ke arah Dyba. "Di sana pemandangannya bagus-bagus, Dy. Kapan-kapan pokoknya kamu harus ke sana deh."

Dyba mengambil ponsel Sam. Ia berdecak kagum saat pemandangan musim gugur itu. "Bagus. Jadi pengen ke sana aku."

"Kapan-kapan." Dyba mengangguk. Dyba masih sibuk menggeser foto-foto itu sampai satu foto menyita perhatiannya. Baru saja akan bertanya kepada Sam, tetapi makanan mereka sudah datang. Dyba mengurungkan niatnya, mungkin nanti ia akan bertanya kepada Sam.

Mereka makan dalam keheningan. Beberapa saat pun semua makanan ludes tak bersisa. Dyba menatap Sam yang saat ini tengah meminum es teh miliknya itu.

"Sam." Sam menatap Dyba sambil tetap minum. Bibirnya serasa terbakar, tiga bulan di sana ia tidak pernah makan pedas sama sekali. Dan sekarang bibirnya terasa tebal.

"Foto cewek di galeri kamu itu siapa?"

Deggg ....

***

Tbc...
Warning! Typo bertebaran....
Jangan lupa vote and comment....
Terima kasih untuk yang udah baca, vote, and comment cerita aku....
Untuk seminggu ke depan aku gak bisa up dulu yaa, maaf bangett. Beneran cuma seminggu kok, gak bakalan lama-lama.

26 Mei 2020

Possessive Samudera [Selesai] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang