19

40.1K 2.6K 84
                                        

"Assalamualaikum!" Sam sudah memencet bel rumah Dyba beberapa kali tetapi belum ada yang membukanya juga. Sam mengarahkan pandangannya ke arah kamar Dyba yang gelap itu tandanya Dyba belum pulang sedari tadi.

Tadi Sam sudah mencari Dyba ke McD yang ada di mall itu, tetapi Dyba tidak ada disana juga. Sam mencari-cari Dyba keliling mall itu, mulai dari tempat make up, baju, tas, sepatu, bahkan pakaian dalam pun sudah dimasuki Sam untuk mencari seorang Dyba.

"Assalamualaikum, Bunda!" Sam memencet bel rumah itu lagi dan tidak lama terbuka dengan menampilkan wajah bi Irah yang dipenuhi keringat.

"Maaf, Den, bibi gak denger, tadi juga lagi di belakang untuk nyiramin tanaman. Den Sam kesini mau ngapain? Non Dyba kan belum pulang, Den Sam mau nyari saya?" Mendengar pertanyaan bi Irah membuat Sam menggelengkan kepalanya sopan.

"Enggak, Bi, saya mau nyari Dyba. Saya pikir Dy udah pulang. Dy dari tadi beneran belum pulang, Bi?"

Bi Irah menggelengkan kepalanya, "Saya dari tadi di rumah dan gak ada non Dyba pulang."

Mendengar itu Sam memijit pelipisnya pelan, "Ya udah deh, Bi, saya tunggu di dalam aja, gak pa-pa kan?"

"Ya gak papa atuh, Den, masa gak boleh sih. Ayo sini masuk." Sam mengangguk dan mengikuti bi Irah untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu.

"Den Sam, mau dibikinin apa? Jus atau apa?"

"Terserah bibi aja, nanti kalau bibi ke sini untuk nganterin minum Sam gak ada berarti Sam di kamar Dyba ya, Bi." Bi Irah mengacungkan jempolnya mendengar itu. Bi Irah pun berjalan ke belakang untuk membuatkan minum Sam.

"Anak satu itu kemana sih? Udah pergi gak bilang mau kemana, pake ngambek pula!" Sam bergumam sendiri sambil melihat foto Dyba yang masih balita yang terpajang di dinding rumah itu.

Karena merasa bosan di ruang tamu ini sendiri Sam pun memutuskan untuk naik ke kamar Dyba. Sam membuka pintu secara perlahan dan langsung disambut harum parfum Dyba. Wangi khas seorang Dyba yang selalu Sam ingat, strawberry.

Sam duduk di tepi kasur Dyba sambil melihat-lihat isi kamar Dyba, foto polaroid mereka berdua yang tergantung di dinding, boneka-boneka yang Sam berikan tertata rapi di sudut kamar, meja belajar yang harusnya dipenuhi banyak buku pelajaran malah diisi banyak novel, dan disudut kanan ada walk in closet untuk tempat baju-baju Dyba, dan tak lupa kamar mandi.

"Anjir, bonekanya lupa kan gue beli!" Sam menggerutu sendiri karena baru ingat bahwa niat awalnya tadi ia akan membelikan boneka untuk Dyba.
Sam berjalan ke arah jendela karena mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah Dyba, seketika Sam langsung mengeraskan rahangnya melihat pemandangan yang ada di depannya.

Adyba Bailey Khenzi keluar dari mobil seorang musuh bebuyutannya, Reynold Zaki Johnson. Sam membuka pintu kamar Dyba dengan kasar tidak peduli bahwa ada bi Irah yang bisa saja jantungan karena bantingan pintu kamar Dyba itu. Sam berjalan dengan langkah lebar dan tergesa-gesa untuk menghampiri gadis cantik yang sayangnya nakal itu.

"Adyba." Tubuh Dyba menegang mendengar suara itu, tapi sedetik kemudian tubuh Dyba mulai santai lagi. Reynold yang ada di samping Dyba hanya mengulas senyum sinisnya untuk Sam. Dyba membalikkan tubuhnya dan tersenyum manis ke arah Sam.

"Kamu masuk gih, bibi udah nyiapin makanan gak enak kalau enggak di makan." Dyba mengangguk saja mendengar ucapan Sam itu, ia kemudian menatap Reynold kembali.

"Makasih ya, Rey, udah mau nganterin gue." Reynold tersenyum manis dan mengusap puncak kepala Dyba.

"Sama-sama, Dy, kalau misalnya gak ada yang nganterin lo bisa telfon gue aja, nomor gue juga udah lo save kan?"

"Ehhh, iya." Dyba menjawabnya dengan gugup karena ia pikir Reynold tidak akan membahas tentang ini.

"Dyba, masuk, nanti masakannya dingin gak enak loh."

"Rey, gue masuk dulu ya, sekali lagi terima kasih."

Tiga kesalahan Adyba!

***

"Kamu tau kesalahan apa yang udah kamu perbuat?" Dyba mendengar pertanyaan itu dari tadi tetapi ia hanya duduk santai sambil membuka instagramnya saja.

"Adyba, aku lagi ngomong sama kamu!" Untung saja saat ini rumah Dyba sedang tidak ada orang, bi Irah tadi izin ke minimarket untuk membeli sesuatu.

"Lah iyalah kamu ngomong sama aku, masa kamu ngomong sama boneka." Sam tambah geram melihat kelakuan Dyba yang super duper santai itu. Sam dengan kasar menarik ponsel yang ada di genggaman Dyba.

"Apa-apaan sih kamu, Sam!" Suara Dyba sudah tidak bisa dikontrol lagi, suara Dyba meninggi melihat kelakuan Sam yang seenak bokongnya saja.

"Kamu yang apa-apaan? Udah tau aku ngomong sama kamu, kamu malah ngabaikan aku!" Dyba berdiri dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Sam, ia menjinjitkan kakinya agar bisa menatap lurus mata Sam.

"Aku yang salah? Iya aku salah! Terus kamu mau apain aku?" Dyba mendesis persis di depan wajah Sam. Sam paling tidak suka apabila ada orang yang menatap lurus mata dia apalagi kalau sedang dalam keadaan emosi seperti sekarang.

"Udah tau salah malah gak minta maaf." Sam memajukan wajahnya hingga iris mata hitamnya seakan-akan menembus iris mata biru Dyba yang teduh itu.

"Aku harus minta maaf? Enggak ah, males, mendingan kamu aja yang minta maaf!" Sam menarik tangan Dyba agar tubuh Dyba semakin mendekat ke tubuhnya.

"You say sorry or punisment waiting you, Adyba!" Sam menekan seluruh kata-katanya itu.

"Enggak ada dua-duanya! Males aku ngikutin orang kayak kamu, egois, semuanya yang kamu perintah harus diikutin! Nggak pernah ngertiin perasaan aku yang gak suka kamu kekang terus! Kamu cuma jadi pacar aku Sam belum jadi suami aku, kamu jadi pacar aja kayak gini gimana nanti kalau ke jenjang rumah tangga? SEMUANYA HARUS AKU IKUTIN SAMPE KAMU SURUH AKU MINUM RACUN PUN HARUS AKU IKUTIN, IYA?!" Dyba berteriak di depan wajah Sam, Sam diam tak berkutik tetapi tangan Sam tetap memeluk erat pinggang Dyba dan sesekali mengelus punggung Dyba.

"Kenapa kamu diam? Jawab! Siapa tadi yang ngajak teriak-teriak lebih dulu? Siapa tadi yang ngomong pake nada keras duluan? Siapa? Jawab! Jadi cowok jangan cuma biasa teriak tapi kalau udah dibalas teriakannya menciut gitu aja!" Sam mencengkram pinggang Dyba mendengar perkataan Dyba yang seakan menjatuhkan harga dirinya. Merasakan cengkraman Sam Dyba malah terkekeh pelan.

"Dasar! Cowok apa yang kayak gini? Bukannya jawab malah mau main fisik? Iya terus aja kayak gituin biar pinggangku biru!" Mendengar itu Sam langsung tersadar dan melepaskan cengkeramannya di pinggang Dyba, Sam menatap lurus kedua mata biru indah milik Dyba.

"Diam aja! Kamu bisu seketika atau gimana? Kok gak bisa jawab pertanyaan aku, atau suara kamu hilang ditelan bumi? Heh ja- hmppp ..."

Dyba menghentikan perkataannya karena ciuman paksa dari Sam, ciuman yang pasti Dyba rasakan saat Sam sedang murka. Dyba memukul dada, lengan, punggung, bahkan perut Sam sudah ia cubit agar ciuman itu terlepas. Sakit rasanya, bagaimana tidak? Sam menggigit bibir Dyba agar lidahnya bisa masuk ke dalam mulut Dyba. Dyba sudah tidak memberontak lagi dan membiarkan Sam terus menciumnya tanpa ada balasan, ia tau sebenarnya kalau ia memberontak pun tidak akan terjadi apa-apa juga, sebenarnya sia-sia memberontak saat Sam sedang emosi, buang-buang energi.

Sam melepaskan ciumannya itu dan menatap Dyba dengan pandangan sendu, Sam mengucapkan satu kata yang membuat Dyba entah harus bagaimana.

"Kita putus!"

***

TBC...
Warning!! Typo bertebaran...
Jangan lupa vote and comment...
Terima kasih yang udah mau baca dan votment cerita aku...

10 April 2020

Possessive Samudera [Selesai] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang