"Permisi ..." Ketiga orang itu menoleh ke arah pintu yang terbuka menampilkan seseorang dengan seragam polisi.
"Iya, kenapa, Pak?"
"Saudara Nino sudah terbukti bersalah, kami sudah memeriksa semuanya dan hasilnya positif. Saudara Nino bukan hanya terlibat tiga kasus besar itu tetapi juga terlibat kasus memperjualbelikan senjata yang seharusnya tidak diperjualbelikan dan mengirimkan TKI ilegal." Sam semakin membuatkan matanya mendengar itu.
"Baik, terima kasih informasinya, Pak."
"Sama-sama, Pak." Polisi tadi keluar dari ruangan Sam. Papa Sam melihat Sam dengan sendu.
"Pulang ya sayang." Sam akhirnya mengangguk.
Flashback off...
"Kalau gue tanya ini lo jangan tersinggung dan jangan pernah apa-apakan cewek gue di dalam." Nino mengangguk semangat.
"Gimana caranya lo keluar padahal kasus lo besar dan lo cuma dipenjara dua tahun aja?" Nino terkekeh pelan.
"Kamu kayak gak tau polisi sekarang aja lah sayang, semua dengan uang itu cepat." Sam mengangguk, kenapa ia tidak berpikir bahwa saat ini semuanya terasa dengan mudah hanya dengan uang?
"Jadi mau balik ke sini? Rumah ini terbuka lebar untuk kamu."
"Biarin gue berpikir dulu." Nino mengangguk.
"Sekarang lepasin cewek gue dengan keadaan tanpa lecet sedikitpun. Kalau ada lecet gue gak akan sudi lagi untuk menginjakkan kaki di rumah ini."
Nino mengangguk dan memanggil nama seseorang yang langsung datang dengan mamanya Dyba di sebelahnya.
Sam memicingkan matanya karena lengan Dyba seperti dicengkeram oleh lelaki itu.
"Jangan kasar lo sama cewek gue!" Dengan cepat pula lengan Dyba dilepaskan dari cengkraman itu. Dyba dengan cepat berlari ke arah Sam dan berlindung di balik punggung pemuda itu.
"Oom tunggu kamu Sam untuk gabung ke sini lagi." Sam tidak menjawab dan langsung membawa Dyba keluar.
"Sam."
"Nanti aja sayang aku jelasin." Dyba langsung terdiam mendengar itu. Ia mengikuti langkah Sam agar keluar dari rumah besar yang sayangnya menyeramkan ini.
***
"Bunda." Nia tersenyum melihat anaknya yang pulang dengan selamat tanpa ada luka satupun. Dyba langsung berhambur ke pelukan sang bunda.
"Kamu gak papa kan, sayang?"
"Gak pa-pa kok, Bun, untung aja Sam tadi datang." Nia tersenyum, ia melihat ke arah belakang Dyba.
"Sam mana, sayang?"
"Langsung pulang, Nda, dia kayaknya lagi ada masalah."
"Ya udahlah, sana kamu masuk jangan lupa shalat terus berdoa supaya kejadian kayak tadi gak terulang." Dyba mengangguk.
Dyba berjalan dengan lesu ke arah kamarnya, ia masih memikirkan sebenarnya ada hubungan apa Sam dengan orang tadi. Tapi tiba-tiba sekelebat bayangan tadi muncul.
Flashback on...
Dyba membenarkan roknya setelah keluar dari kamar mandi. Ia tersentak saat melihat seorang lelaki yang kira-kira berumur 20 tahunan di hadapannya. Lelaki itu tampak asing, dengan jas hitamnya ia memandang Dyba dengan senyum manis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive Samudera [Selesai]
Teen Fiction"Aku gak suka kamu senyum sama dia!" "Ya Allah, masa aku gak boleh senyum sama pak Polisi sih? Waktu itu dia natap aku, jadi ya aku senyum lah, gak mungkin juga itu pak Polisi suka sama aku." "Tapi aku gak suka, kamu cuma milik aku, milik Samudera!"...
![Possessive Samudera [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/192984814-64-k603516.jpg)