34. My Holiday

179 7 6
                                        

Disini ia biasa mencurahkan isi hatinya. Di makam ayahnya lah Aksa biasa berbagi suka dan duka. Ia tak tahu harus berbagi cerita kepada siapa.

"Yah... Maafin Aksa. Aksa belum bisa jadi kakak yang baik. Aku gagal buat didik Arya. Ayah pasti kecewa disana..." Kata Aksa sambil memegang nisan yang bertuliskan nama ayahnya itu. "Selama ayah hidup, Aksa belum bisa bikin ayah bangga. Tapi sekarang Aksa udah berhasil wujudin kemauan ayah, yaitu bikin ayah bangga. Andai aja ayah masih hidup, pasti sekarang ayah bisa liat aku udah berubah..."

🌸🌸🌸

Semenjak kejadian kemarin, Aeni mama Aksa jatuh sakit. Asmanya kembali kambuh. Tetapi sekarang kondisinya sudah agak mendingan. Sehingga tidak perlu untuk dirawat di rumah sakit.

"Arya, dari mana aja kamu?" Tanya Aksa dengan nada tinggi.

"Main."

"Kamu nggak liat mama lagi sakit. Kamu malah keluyuran main ke warnet. Kamu nggak tahu mama sakit gara-gara mikirin kamu. Kamu itu seharusnya belajar jangan main terus. Kamu nggak kasihan sama mama yang udah banting tulang buat bayarin sekolah kamu?"

"Bang, otak aku itu nggak sepinter otak Abang. Percuma aku belajar juga nggak akan ada yang masuk," ucap Arya dengan cuek. Anak itu sama sekali tidak menyadari kesalahannya. Ia hanya memikirkan kepuasan untuk dirinya sendiri.

"Jangan ngeles mulu kamu. Bilang aja kamu males buat belajar. Mau jadi apa kamu nantinya kalo kamu kerjaannya cuma males-malesan sama main game terus!" Aksa benar-benar kesal dengan kelakuan adiknya itu. Rasanya ia ingin meninju anak itu sekarang juga.

"Ada apa ini kok ribut-ribut?" tanya Aeni yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.

"Ma, kak Aksa ngomel-ngomel. Dia nyalahin aku kalo aku kerjannya cuma males-malesan," bocah itu sengaja berbicara seperti itu agar dibela oleh ibunya.

"Aksa, kamu nggak boleh gitu sama adek kamu. Kamu nggak bisa sepenuhnya nyalahin adekmu. Ini semua juga gara-gara kamu yang nggak bisa ngajarin adek sendiri tapi kamu malah ngajarin anak orang lain," ucap Aeni.

"Mama jangan terlalu ngemanjain dia. Dia jadi kayak gini mah, suka ngebangkang."

"Halah, kamu juga dulu sukanya ngebangkang. Apa kamu nggak inget?" Ucap Aeni dengan penuh penekanan.

"Cukup ma.. " Aksa memilih pergi karena tidak ingin bertengkar lebih parah dengan ibunya.

Selalu saja apa yang ia perbuat tidak pernah benar di mata mamanya. Setiap tindakan yang ia lakukan pasti selalu salah. Mamanya pasti akan selalu membela adiknya, walaupun adiknya bersalah. Rasanya ia benar-benar seperti di anak tirikan.

🌸🌸🌸

Hari ini adalah hari liburan pertama bagi mereka. Walaupun ini masih pagi, hujan sudah turun dengan cukup deras. Gadis itu memandang air hujan yang turun. Suasananya benar-benar sangat tenang dan damai.

Keana tidak pernah lupa untuk belajar. Gadis itu sekarang sedang membuka buku kimianya. Rencana liburan kali ini akan gadis itu gunakan untuk belajar. Bukannya memikirkan tujuan untuk berwisata, gadis itu lebih memilih untuk belajar. Baginya belajar adalah makanan sehari-harinya.

Drrtttt.... Drrtttt...

Dering ponselnya membuat gadis itu tidak fokus untuk belajar kemudian memilih untuk membuka ponselnya.

Girls To Be a Queen :

Mona (Moana)
Hai guys... Liburan mau pada kemana nih... Nggak ada rencana buat liburan bareng? Mumpung belum UN kita refresh otak dulu

My Introvert Boy [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang