5. Punishment

377 36 21
                                        

"Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, kita hanya perlu memperbaikinya untuk menjadi lebih baik" ~Aksa Ravindra.

Hari Senin adalah hari yang paling dibenci oleh para siswa. Ditambah lagi dengan adanya upacara yang menjadikan para siswa menggerutu.

Keana tak pernah terlambat jika berangkat ke sekolah. Ia selalu datang pukul 06.30, tapi saat ditengah jalan ban mobilnya bocor alhasil ia harus menaiki angkot untuk sampai ke sekolahnya. Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 07.15, itu artinya upacara sudah dimulai.

"Aduhhh... kenapa sih gue bisa apes banget! Mana ini ada upacara lagi!" Gumam Keana di dalam angkot.

Ia harus rela berdesak-desakan di dalam angkot karena tidak ada pilihan lain. Awalnya Keana berniat untuk naik taksi, tapi setelah 15 menit menunggu tidak ada satupun taksi yang lewat jalan itu. Akhirnya ia terpaksa naik angkot. Dan benar saja, gerbang SMA Pentara sudah ditutup. Iapun harus menunggu diluar sekolah sampai upacara selesai.

Gadis itu sekarang sudah berada di ruang BK untuk dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya itu.

"Keana Chalondra kenapa kamu terlambat?" Tanya Bu Zena, guru BK di SMA Pentara.

"Maaf Bu, tadi ban mobil saya bocor saat di jalan. Terus saya naik angkot dan angkotnya itu jalannya lama bu jadi saya terlambat," ujar Keana dengan suara gemetar karena ini pertama kalinya ia terlambat dan masuk ke BK.

"Ya sudah, lain kali jangan diulangi lagi. Kamu ini kan salah satu murid yang berprestasi, harusnya kamu harus bisa menjadi contoh untuk teman-teman kamu."

"Iya Bu, sekali lagi saya minta maaf."

"Ibu akan berikan kamu hukuman untuk mengepel seluruh koridor kelas X."

"Nggak bisa dikurangin Bu hukumannya? Koridor kelas X kan luas Bu," pinta Keana dengan memelas.

"Atau kamu mau di ganti sama bersihin semua toilet di SMA ini?"

"Nggak Bu, saya pilih ngepel koridor saja."

"Ya sudah, kalau sudah selesai kamu segera lapor ke saya."

"Baik Bu," ujar Keana sambil menyalami tangan Bu Zena dan meninggalkan ruang BK.

🌸🌸🌸

"Eh Mon, Keana nggak masuk?" Tanya Ditto.

"Tau tuh, dia nggak ngasih kabar ke gue. Gue WA juga nggak di bales," ujar Mona. "Apa jangan-jangan dia masih marah terus males masuk sekolah? Ah tapi kayaknya nggak mungkin deh, anak itukan paling semangat kalo suruh sekolah," batin Mona.

"Ehh malah ngelamun... Gimana sih Mon! Apa jangan-jangan Key sakit?"

"Nggak tau juga sih."

"Guys, tau nggak pelajaran fisika hari ini kosong soalnya guru-guru mau ada rapat buat persiapan UNBK nanti."

Seketika kelas ricuh dan para murid bersorak ria.

"Hah? Serius lo Win?" Tanya Ridho teman sebangku Aksa.

"Iya serius, orang Bu Dina sendiri kok yang bilang ke gue. Tapi kita disuruh ngerjain LKS hal 12 dikumpulin!" ucap Windy.

"Yahhh sama aja dong kalo gitu. Nggak jadi seneng deh gue," gerutu para murid.

🌸🌸🌸

Keana terus mengepel lantai itu dengan dongkol. Ia terus menggerutu didalam hati. Ditambah lagi dengan para adek kelas yang kurang ajar kepadanya.

"Ya ampun, setengahnya aja belum ada. Ini mau selesai kapan coba," gerutu gadis itu.

"Sendirian aja kak? mau aku bantuin nggak ngepelnya," goda adik kelas yang masih kelas X.

"Daripada ngepel lantai mending ngepel hatiku aja kak," gombal salah satu adik kelas sambil tertawa cekikikan.

"Diem lo semua! gue sumpelin lo pake kain pel satu-satu!" Omel Keana sambil memelototi mereka.

"Ihhh cantik-cantik kok galak banget sih kak... Kaburrr...."

"Dasar adik kelas nggak tahu malu. Berani banget kurang ajar sama seniornya. Awas aja kalo ketemu lagi, gue unyel-unyel tuh bocah!" gerutu Keana. "Aduhhh... capek banget, rasanya kaki gue mau patah."

Ingin rasanya Keana menghentikan aktivitas ngepelnya. Tapi ia takut jika hukumannya akan ditambah. Sudah setengah jam lebih ia mengepel, kurang seperempat bagian lagi ia akan selesai. Koridor ruang kelas X memang sangatlah luas karena terdapat ruang laboratorium dan ruang perpustakaan.

"Ehh jangan di injek dong, itukan lantainya masih basah baru gue pel," omel Keana karena terdapat jejak sepatu dilantai.

"Sorry, gue nggak tau," ujar cowok yang baru keluar dari perpustakaan itu.

"Lo lagi, lo lagi... Kenapa sih kalo ada lo gue pasti apes," omel Keana pada Aksa.

"Lo bisa ngepel kan?" Tanya Aksa.

"Maksud loh? Lo nggak liat apa gue udah ngepel dari ujung sana sampai sini."

"Coba lo liat ke belakang."

Ternyata banyak terdapat jejak sepatu tak lain dan tak bukan adalah jejak sepatunya sendiri.

"Lo salah teknik, ngepel itu jalannya kebelakang bukan kedepan. Kalau gini kapan bersihnya? Sini biar gue contohin," ujar Aksa sambil merebut gagang pel itu dari genggaman Keana.

Cowok itu kemudian memperagakan teknik mengepel lantai yang benar. Keana hanya diam, ia tak tahu harus ngomong apa. Ia malu karena ketahuan tak bisa mengepel lantai. Memang ini pertama kalinya ia mengepel lantai.

"Nih pel-pelannya, malah ngelamun," ujar Aksa sambil memberikan pel-pelan itu pada Keana. Ia segera pergi meninggalkan gadis itu tanpa berucap lagi.

Keana masih tetap mematung di sana sambil memegangi gagang pel itu. Ia merasa seperti dipermalukan oleh cowok itu.

"Nyebelin banget sih tuh cowok!" Umpat Keana dengan menghentakkan kakinya ke lantai.

Akhirnya setelah hukumannya selesai Keana segera ke ruang BK untuk lapor pada Bu Zena dan mengambil tasnya yang disandra. Setelah itu ia segera masuk ke kelasnya.

Ini sudah waktunya istirahat, sehingga para siswa berjalan memenuhi koridor. Keana menjadi sorotan para siswa karena rambutnya yang acak-acakan dan sambil menggendong tas. Tetapi ia tak mempedulikannya, ia terus berjalan untuk menuju ke kelasnya.

Gadis itu segera mencari tas Mona lalu segera duduk sambil merebahkan kepalanya di atas meja. Rupanya kelas sepi karena sedang waktunya istirahat, Monapun tak ada dikelas. Ia tak menyadari bahwa Aksa juga ada di situ sambil membaca buku. Tak terasa mata Keana terpejam saking capeknya.

🌸🌸🌸

Mona sudah berada di kantin bersama dengan Selly dan Kinan.

"Ehh girls, kalian tau nggak Keana kemana?" Tanya Mona kepada dua sahabatnya itu.

"Nggak tau, emang Key nggak masuk?"

"Nggak, daritadi gue WA juga nggak dibales."

"Masa sih! tumben-tumbenan tuh anak."

"Jangan-jangan dia masih marah kali Mon, gara-gara kemarin pas di cafe."

"Gue sih sempet mikir gitu sih, tapi kayaknya nggak mungkin deh. Soalnya tuh anak kan paling semangat kalo suruh sekolah."

"Iya juga sih!"

"Tapi kalo sakit kok nggak ngabarin ke kita. Biasanya dia kan selalu titip surat ke kita."

"Nah, maka dari itu."

"Apa jangan-jangan dia lagi liburan sama keluarganya terus lupa ngasih surat?"

"Tau ah, pusing gue mikirin Kekey!"

Semangat Key ngepelnya!


🖤🖤🖤 TO BE CONTINUE 🖤🖤🖤

ENJOY GUYS....

My Introvert Boy [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang