56. Lunch

180 10 2
                                        

Mona sekarang berada di mobil bersama Gaven. Gaven melirik arlojinya yang menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Lo nggak papa kan pulang malem?" Tanya Gaven.

"Nggak papa kok, kan gue bilangnya mau belajar kelompok. Pasti nggak bakal dimarahin."

"Mon... Emang Keana suka sama Aksa udah lama?"

"Udah... Gue kasian sama Kekey, padahal dia tulus banget suka sama Aksa. Tapi Aksanya nggak pernah peka sama perasaan Keana. Padahal Keana itu cewek yang sulit jatuh cinta."

Gaven terdiam mendengar ucapan Mona. Rasanya ada rasa sakit di hatinya saat Mona berkata seperti itu.

"Bukannya Aksa itu deket sama  cewek yang kemarin di kafe?"

"Selly? Selly itu dulunya sahabat kita."

"Hah?" Mata Gaven langsung melotot mendengar perkataan Mona. Bagaimana bisa ada cinta segitiga dalam persahabatan mereka?

Akhirnya Mona menceritakan semua kejadian yang mereka alami. Dari Selly yang dulunya begitu baik, hingga berubah seratus delapan puluh derajat dari kepribadiannya yang dulu.

"Terus kenapa Keana nggak cari yang baru?"

"Kenapa lo tanya gitu? Jangan-jangan lo suka ya sama Kekey?" gurau Mona.

Ucapan Mona benar-benar membuat Gaven salah tingkah. Muka cowok itu terlihat memerah seperti tomat.

"Apaan sih Mon..."

"Udah lo nggak usah bohong sama gue. Kalo lo mau gue bisa kok bantuin lo biar deket sama Kekey."

"Hah? Beneran?"

Mona hanya menganggukkan kepalanya. Baginya kebahagiaan sahabatnya sangatlah penting daripada ia harus melihat sahabatnya terus menderita.

🌸🌸🌸

"Key, gimana? Kamu jadi terima tawaran papi?" Tanya Herman.

Sebenarnya Keana tak ingin kuliah jauh dari kedua orangtuanya. Tetapi apa boleh buat, mungkin itu salah satu cara untuk melakukan Aksa.

"Terserah papi. Key nurut aja," Kata Keana dengan wajah lesu.

"Nah gitu dong, ini baru anak papi" kata Herman sambil memeluk putrinya itu.

Keana langsung membalas pelukan Herman. Gadis itu benar-benar rindu dengan pelukan hangat dari seorang ayah. Selama ini, papinya selalu sibuk bekerja sehingga jarang memperhatikan gadis itu.

Gadis itu segera memasuki kamarnya. Ia membuka timeline yang sudah ia buat sejak SMP.

"Seminggu lagi gue ujian, gue pokoknya harus bisa. Semangat Key, walaupun nggak ada yang nyemangatin," katanya sambil melihat tulisan itu.

Seketika, pandangan gadis itu tertuju pada album foto berwarna biru. Gadis itu tersenyum melihat foto-fotonya beesama sahabat-sahabatnya. Ia geli sendiri melihat wajah polos mereka. Seketika itu air mata Keana pecah. Ia teringat masa-masa senang dan sedih bersama para sahabatnya itu.

"Nggak kerasa ya... Bentar lagi kita bakal pisah. Gue nggak bisa lihat lo lagi Nan, manusia paling bucin yang pernah gue kenal. Gue nggak bisa lihat Mona yang selalu cerewet. Dan lo Sel, walaupun lo udah tega sama gue, tapi gue sayang banget sama lo. Gue rela lepasin Aksa buat lo asal persahabatan kita nggak rusak."

Air mata gadis itu benar-benar pecah. Ia tidak bisa menahan tangisnya. Gadis itu benar-benar rindu dengan hangatnya persahabatan mereka bertiga. Semua itu berubah saat mereka mulai mengenal cowok.

My Introvert Boy [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang