63. Revealed

224 8 0
                                        

Saat berdansa, tiba-tiba tangan Keana ditarik oleh seseorang. Ia terkejut hingga hampir terjungkal. Gadis itu di bawa ke taman dekat dengan gedung itu.

"Aksa...?"

"Key... Selamat ya, kamu berhasil dapet nilai UN tertinggi."

"Makasih Sa. Selamat juga buat kamu, nilai kita kan cuma selisih 0,5 doang."

Aksa dan Keana tampak tersenyum bersama di tengah keramaian acara itu. Para murid sedang sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga tidak ada yang tahu jika mereka berdua sedang berada di sana.

"Key... Ada yang mau aku omongin sama kamu..."

Keana mengerutkan dahinya, karena tidak mengerti maksud dari omongan Aksa. Jantungnya berdebar semakin kencang. Begitu juga Aksa yang terlihat tampak gugup malam ini.

"Aku... Aku... Sayang sama kamu. Kamu mau jadi pacarku?" Kata Aksa sambil mengeluarkan bunga mawar merah yang ia berikan kepada Keana. Jelas Keana tampak kaget dengan ucapan Aksa barusan. Debaran di dadanya terasa semakin kencang. Ia menerima mawar merah dari Aksa.

"Aku... Nggak bisa Sa... Maaf...." Bunga mawar yang Keana pegang ia kembalikan lagi pada Aksa. Gadis itu tidak bisa menerima Aksa untuk menjadi pacarnya karena ia teringat janjinya dengan Selly. Walaupun ini adalah momen yang paling ia tunggu-tunggu selama ini. Tetapi ia harus rela mengorbankan perasaannya. Keana tak dapat membendung air matanya lagi.

Aksa menahan tangan gadis itu yang ingin pergi. "Tapi, kenapa Key?"

Keana langsung melepaskan tangan Aksa yang memegang pergelangan tangannya. Gadis itu segera pergi memasuki gedung untuk mengambil tasnya. Ia berlari dengan air mata yang terus membasahi pipinya. Gadis itu sudah tidak peduli lagi dengan make-upnya yang luntur.

"Key... Lo dari mana aja? Gue daritadi cariin lo tau."

Pertanyaan Gaven sama sekali tidak di gubris oleh Keana. Gadis itu segera meninggalkan pesta padahal acaranya belum selesai. Kedua sahabatnya itu masih menikmati acara dansa. Gaven langsung mengejar Keana yang keluar dari gedung. Gaven langsung mencengkram tangan gadis itu.

"Biar gue anter. Nggak baik cewek pulang sendiri."

Keana langsung memeluk Gaven. Gadis itu menangis di pundak Gaven. Gaven juga paham dengan perasaan Keana walaupun ia tidak tahu permasalahannya apa.

"Kalo lo mau nangis, lo boleh nangis sepuasnya di pundak gue..."

Di dalam mobil, Keana sudah menceritakan apa yang sedang ia alami pada Gaven. Gaven mengerti bagaimana dengan perasaan Keana. Ketika ia harus memilih sahabat atau orang yang ia cintai sendiri. Karena Gaven pun pernah mengalami hal yang sama dengan Keana. Kini perasaan gadis itu sudah agak lega.

"Key... Sebenarnya ada yang mau gue omongin sama lo?"

"Soal? Pasti lo mau tau tentang Mona kan?"

"Ini nggak ada sangkut pautnya sama Mona Key...."

"Terus..?"

"Gue sebenernya... Gue suka sama lo."

Keana tampak tertawa mendengarkan omongan Gaven. Gadis itu merasa geli sendiri dengan ucapan Gaven barusan.

"Kok lo malah ketawa si!"

"Gue tau... Pasti lo ngomong kayak gini ke gue buat persiapan nembak Mona kan?"

Gaven tampak sebal dengan gadis itu. Kenapa selama ini ia tidak pernah peka dengan perasaan Gaven yang selalu ada di saat ia sedang bersedih. Yang selalu membantu Keana memberi motivasi untuk dirinya.

Cittttt...... Gaven mengerem mobilnya dengan mendadak sehingga membuat mereka berdua terpental ke depan.  Keana tampak begitu kaget. "Gaven... Lo apa-apaan sih. Kalo kita berdua mati gimana? Lo jangan konyol deh."

"Gue serius Key... Gue sayang sama lo. Gue jatuh cinta sama lo." Gaven menatap mata Keana dengan penuh keyakinan. Sorot matanya begitu tajam, hingga membuat Keana ngeri. Gadis itu jadi bingung untuk berbicara apa. Ini semua di luar dugaannya, padahal Keana berfikir jika Gaven selama ini menyukai Mona. Tetapi kenapa kini Gaven malah mengungkapkan perasaannya padanya.

"Emm... Gav... Sorry sebelumnya... Tapi Gue..."

"Gue tau kok Key jawabannya. Lo pasti bakal nolak gue kan, gue tau cinta lo cuma buat Aksa."

"Sorry Gav... Tapi gue emang lagi nggak mau pacaran. Gue mau fokus ke kuliah dulu," Keana tampak tidak enak untuk menolak Gaven yang selama ini sudah sangat baik kepadanya. Walaupun ia belum lama berteman dengan Gaven, baginya Gaven adalah salah satu teman terbaiknya.

"Gav... Gue udah anggep lo kayak kakak gue sendiri. Gue sayang sama Lo tapi sebagai kakak..."

"Iya Key... Gue ngerti kok... Yang penting kita tetep temenan kan. Anggep aja barusan gue nggak ngomong apa-apa."

Suasana di mobil tampak canggung. Keana jadi kikuk sendiri dengan keadaan ini.

🌸🌸🌸

Mona dan Kinan tampak menangis tersedu-sedu melihat sahabatnya kini akan berangkat ke Australia untuk berkuliah. Pagi ini, Keana akan berangkat ke Australia diantar dengan kedua orangtuanya. Gadis itu tidak punya pilihan lagi untuk berkuliah disana. Tujuannya satu, agar Keana dapat melupakan Aksa. Gadis itu mengerti bahwa bahagia tidak harus dengan orang yang kita cintai, cukup melihat orang lain bahagia dengan apa yang kita lakukan sudah membuat Keana bahagia. Gadis itu harus bisa mengikhlaskan Aksa untuk sahabatnya itu.

"Key... Kenapa lo tiba-tiba banget sih ngabarin ke kitanya... Kita kan jadi nggak sempet jalan-jalan dulu..."

"Iya maaf... Soalnya gue takut ntar lo berdua kepikiran terus nangis-nangis lagi..."

"Key... Lo serius mau kuliah di Aussie. Mending lo pikirin lagi deh..."

"Keputusan gue udah bulat Mon, Nan..."

"Ntar kita jarang ketemu dong Key..."

"Kita kan masih bisa video call-an."

"Tapi kan nggak asik..."

Mohon perhatian pesawat Garuda JT-C3302 tujuan Jakarta-Quicsburg sebentar lagi akan take off. Mohon para penumpang untuk segera memasuki pesawat.

Bunyi suara aplikator pesawat sudah berdengung. Ketiga gadis itu sedang berpelukan dengan erat seperti Teletubbies. Mona dan Kinan tak henti-hentinya menangis.

"Key.... Lo hati-hati ya... Jaga diri lo baik-baik disana."

"Iya Key... Lo jangan lupain kita berdua ya. Cepet pulang ya Key..."

Keana tampak terharu dengan kedua sahabatnya yang perhatian dengannya. Tiba-tiba Gaven datang di bandara. Padahal Keana sama sekali tidak memberitahu kepadanya. Hanya kedua sahabatnya yang tau jika ia akan berangkat ke Aussie sekarang.

"Gaven? Kok lo tau gue disini?"

Mata Gaven langsung menuju ke arah Mona. Mona lah yang memberi tahu jika hari ini Keana akan berangkat ke Australia.

"Key gue boleh peluk lo?"

Mereka berdua tampak berpelukan untuk terakhir kalinya. "Gue seneng lo bisa kuliah di sana. Walaupun hati gue sedih. Jaga diri lo baik-baik ya."

"Iya Gav... Thanks ya... Maaf kalo selama ini gue selalu ngerepotin lo."

"Lo sama sekali nggak ngerepotin kok."

🌸🌸🌸

"Loh kak Aksa nggak ikut?" Tanya Arka pada Aksa yang sekarang berada di kafe. Aksa tampak bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Arka.

"Ikut kemana?"

"Kata kak Aura, kak Key sekarang mau berangkat ke Aussie. Kak Aura juga sekarang lagi di bandara buat anterin kak Key?"

"Apa?!"

🖤🖤🖤 TO BE CONTINUE 🖤🖤🖤

My Introvert Boy [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang