Happy reading
****
Dara menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, sekarang dia melihat ada orang yang sedang adu jotos di lapangan sekolah, matanya tak berkedip sama sekali melihat kejadian itu, Dara benci keributan, dia tidak suka jika ada orang yang hanya mengandalkan otot sebagai
bentuk kekuasaan. Dara melihat siswa-siswa berbondong-bondong untuk menonton kejadian itu, tapi Dara tidak ingin melihatnya sama sekali karena bagi dia hal itu sama tidak berguna untuk di tonton.
Dara kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas, dia melihat seluruh isi kelas kosong tak
ada siswa yang tersisa di dalamnya,
Dara menghela napasnya lalu dia masuk ke dalam kelas. Dia duduk di kursinya, lalu dia membuka tasnya mengeluarkan novel dan mulai membacanya.
Keheningan seperti ini membuat dirinya nyaman dan tenang.
"Dara, gue mau ngomong sama loh" sapa suara seorang cowok yang kini tengah menatapnya, Dara
bahkan tidak sadar ketika cowok itu masuk ke kelasnya. Dara menaikkan tatapannya dari novel ke arah cowok yang barusan menyapanya, Dara
mengerutkan keningnya wajah cowok tersebut tak asing di ingatannya.
"Gue mau negabahas masalah kita," ucapnya, lalu Bastian duduk di depan Dara.
"Masalah apa?" tanya Dara penasaran.
"Ya udah sini loh duduk disebelah gue, ntar kedengaran sama orang-orang lagi."
Dara menuruti permintaan Bastian, duduklah dia di sebelah Bastian. "Mau ngomong apa?"
"Sejak pernikahan kemaren kita belum pernah negabahas masalah ini. Gue minta maaf karena gue udah berani nerima permintaan itu buat nikahin loh, gue tau keputusan gue kemaren gak masuk akal."
"Gak perlu minta maaf, semuanya udah kejadian." gumam Dara tanpa menoleh.
"Gue punya pacar, dan kita pacaran sejak gue SMP kelas tiga. Gue sayang banget sama pacar gue, dan gue gak tahu apa yang akan gue lakuin kalo dia tahu semuanya." jelas Bastian dengan serius.
"Gue juga, loh tahu kan gue pacarnya Bagas dan gue juga gak tahu jika suatu saat Bagas tahu kalo gue sama loh udah nikah. Pasti dia bakal marah dan sakit hati banget, kalo pacarnya udah menikah sama cowok lain." balasnya.
"Gue berharap kita bisa jaga rahasia ini sampai waktu yang tepat kita bisa ceritain semua ini kepada pasangan kita masing-masing."
"Iya, gue janji gak kan pernah bilang sama siapa pun."
"Tapi gue masih bingung apa yang akan kita lakuin setelah ini"
"Iya kita jalanin aja dulu, sampai kita menemukan solusi yang tepat untuk pernikahan kita."
Bastian mengangguk, keduanya saling menatap. Tanpa sadar jarak mereka begitu dekat dan kepala Bastian seolah-olah ingin mencium Dara.
Sepasang suami istri itu sepertinya sedang terbuai dengan lamunan, tanpa sadar jaraknya semakin mendekat.
"Astaghfirullaha'llazim"
Ucapan itu membuat Bastian dan Dara terkejut, keduanya menoleh. Menemukan Sarah yang sedang berdiri diambang pintu, untung saja dia cepat datang kalo tidak mungkin akan terjadi sesuatu hal yang tidak terduga kepada pengantin baru.
Dara menghelain nafas. "Ya ampun Sarah gue pikir siapa, bikin jantungan aja loh." ucap Dara lega
"Sarah, gue pikir orang lain."
"Kalian berdua lagi ngapain, berduaan dikelas gak ada orang sama sekali."
"Kita gak ngapain-ngapain kok cuma ngobrol aja." ucap Dara gugup
"Iya Sarh jangan salah paham dulu, gue sama Dara cuma mau ngobrol aja kok gak macem-macem" gumam Bastian panik.
"Iya kenapa harus takut, kalo pun terjadi sesuatu sama kalian berdua gak jadi masalah kan, toh kalian udah pasutri."
Dengan kompak Bastian dan Dara memotong ucapan Sarah. "Beb, udah jangan bahas itu. Kalo ada yang denger bisa heboh kan."
"Iya sorry, oh ya kebetulan kalian disini. Gue mau tanya gimana sama hubungan kalian selanjutnya, mau pisah atau mau lanjut?"
Bastian dan Dara saling pandang. "Gue juga gak tau beb, tapi jelas kita jalanin dulu yang sekarang karena saat ini belum mendapatkan solusi buat masalah kita."
"Kalo menurut gue ya mendingan kalian lanjutin hubungan ini, gak ada masalah kan. Kalo gue perhatiin kalian juga cocok banget."
"Apaan sih loh gak jelas, udah gue mau keluar. Sumpek juga lama-lama disini, kelasnya kecil banget."
"Udah sono, siapa juga yang mau deket-deket sama loh"
"Mulai deh pasutri baru berantem, sehari aja akur kayaknya gak bisa banget."
"Ih Sarah."
"Gimana pun Bastian dia tetap suami loh, loh harus hormati dia." bisik Sarah
"Serius?" tanya Dara sudah tak sabar mendengar jawaban Sarah.
"Iya, gak boleh ngelawan suami ntar dosa. Loh mau dosa karena ngelawan suami?"
"Ih gak lah."
"Makanya jadi istri yang baik suaminya, karena kunci syurga ada disuami."
"Ah masa?"
"Gue serius, coba loh tanya yang lebih pengalaman pasti jawabanya gak jauh beda dari gue."
"Ya deh, seorang Sarah jomblo akut mengerti soal rumah tangga." Dara terkekeh.
"Ya gue heran banget, kenapa kebanyakan yang jomblo selalu memberikan kata motivasi yang keren udah gitu bener lagi?" tanya Sarah.
"Gak tahu gue, tapi emang iya kebanyakan gitu."
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Imperfect love
Teen FictionCinta menyatukan dua insan. Menyatukan dua hati yang saling mencintai. Apa jadinya kalo jika di satukan sama orang yang gak pernah kita inginkan. Bastian dan Dara murid di Sekolah Trisatya, mereka dikenal sebagai murid yang selalu bersaing untuk me...
