21

177 21 0
                                        

Zahra tak habis pikir. Perkataan dari Syukron tadi. Membuatnya benar-benar terkejut. Apa iya dia suka dengannya? Tapi kenapa harus terang-terangan?

"M-maksudnya?" Tanya Zahra dengan sedikit tak mengerti.

"Apa tadi kurang jelas ra?" Tanya Syukron.

"Aku suka sama kamu!" Lanjutnya.

Tangan yang sudah mengepal. Deru nafas yang sudah sedikit memburu. Keadaan seperti ini yang membuat Azam sulit untuk dimengerti. Ini benar-benar dugaannya. Ternyata memang Syukron benar-benar menyukai Zahra.

Tapi, apa iya dibicarakan terang-terangan seperti ini? Apa ia tidak bisa memendam sedikit saja?

Zahra lagi-lagi mencoba mencerna perkataan Syukron. Zahra harus menjawab seperti apa? Perasaannya terhadap Syukron memang benar-benar tidak ada. Bahkan, hanya memanggap teman biasa saja.

Tapi, jika ditolak mentah-mentah. Pasti Syukron akan sakit hati nantinya.

"Gimana ra?" Tanya Syukron yang sudah siap memerima jawaban dari Zahra.

Pertanyaan sulit dari Syukron membuat Zahra tak tahu harus menjawab seperti apa.

"Zahra butuh waktu. Assalamualaikum." Zahra pergi keluar perpustakaan. Lebih baik ia menghindari Syukron terlebih dahulu.

Kenapa Zahra harus menghindar? Bukannya jika tidak mempunyai perasaan terhadap Syukron. Harusnya ia bisa menolaknya.

Azam melihat Syukron yang terus menatap ke arah pintu perpustakaan. Mungkin ia sedikit kecewa, karena perkataannya tidak langsung dijawab oleh Zahra.

Syukron pun keluar perpustakaan. Akhirnya Azam keluar dari persembunyiannya itu. Bagaimana bisa Syukron mempunyai rasa kepada Zahra?

Apalagi Aldi? Bisa saja ia pun mempunyai perasaan terhadap Zahra? Jelas-jelas Aldi yang selalu memaksa Zahra. Bagaimana mungkin ia tidak mempunyai perasaan. Jika ia tak mengganggui Zahra terus.

Kenapa semua harus ke Zahra? Kenapa salah satu tidak ke Aisyah?

"Harusnya kamu gak pergi gitu aja ra. Harusnya kamu ngomong sesuai hati kamu. Kalo kamu tidak suka dengan Syukron. Saya harap sih begitu." Batin Azam dengan penuh harapan.

Azam keluar dari perpustakaan. Ia mulai menuju ke arah belakang sekolah. Sesampainya disana. Azam mendudukan dirinya dikursi panjang. Ia menyandarkan kepalanya.

Perkataan Syukron sudah membuatnya gelisah. Apalagi jika nanti Zahra mempunyai perasaan yang sama? Semuanya mungkin tambah rumit.

Kenapa Syukron bisa mempunyai rasa sama Zahra? Ia dibilang cukup sopan dan sedikit tertutup.

Azam harap ketika nanti keputusannya, ia bisa melihatnya secara langsung. Ketika Zahra bisa memberikan jawabannya kepada Syukron. Jika jawabannya iya. Berarti ia harus mundur. Tapi, jika jawabannya tidak. Syukurlahh..

Zahra berlari menuju ke belakang sekolah. Sudah sampai disana. Ia berdiri mematung.  Sekilas bayangan ucapan Syukron terlintas dipikirannya.

Ia harus bagaimana? Jawaban apa nanti yang siap diucapkan untuknya? Lagian, kenapa Syukron bisa memberikan pernyataan seperti itu. Apa sudah lama ia mempunyai perasaan terhadapnya?

"Aaaaa!!!!!!!" Zahra dan Azam sama-sama berteriak. Zahra sedikit membulatkan matanya. Suara itu..

Azam dan Zahra sama-sama saling melirikkan mata. Azam menautkan halisnya ketika Zahra berada tak jauh dari dirinya. Kapan Zahra kesini? Kenapa ia tidak sadar?

Ada Azam disini? Tapi, kenapa ia tidak sadar?

"Azam ngapain disini?" Tanya Zahra sembari menunduk.

"Harusnya saya yang berbicara seperti itu. Saya terlebih dulu berada disini." Ucap Azam.

"Ooh.."

"Kenapa ada disini? Di belakang sekolah lagi. Gak takut?" Tanya Azam memfokuskan pandangannya ke depan.

"Enggap papa. Kenapa harus takut?"

"Bisa aja Aldi mengganggu kamu. Di tempat seperti ini ketika kamu sendiri." Azam masih memfokuskan pandangannya. Yang tak melirik Zahra sekalipun.

"Kenapa tertuju kepada Aldi? Zahra gak mau bahas dia." Ucap Zahra yang sekilas melirik Azam.

"Kenapa?"

"Bukannya sering dekat? Kok bahas Aldi langsung nolak gitu." Azam kini melirik sekilas ke arah Zahra yang sedang menunduk itu.

"Zahra permisi. Assalamualaikum." Ucap Zahra yang meninggalkan Azam.

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." Azam hanya melihat kepergian Zahra.

____

Aldi pulang ke rumahnya. Ia membaringkan dirinya disofa ruang tamu. Sekilas terbayang ketika Zahra menghentikan ucapannya dengan jari telunjuk Zahra.

Jelas terlihat jika perasaan Zahra memang benar-benar untuk Azam. Tapi, kenapa ia tidak boleh Azam tahu? Justru lebih bagus jika Azam tahu.

Harapan sudah tak ada lagi bagi Aldi. Zahra sosok pertama yang sudah membuat Aldi mulai jatuh cinta kepadanya. Tapi belum ada perjuangan sama sekali bagi Aldi. Tetapi perasaannya harus terhapus begitu saja.

Ia sudah terluka oleh dua wanita. Apalagi Zahra. Sosok wanita yang jarang sekali seperti ia. Wanita yang berhati baik. Mungkin diluaran sana bila bertemu dengannya pasti akan terbuat nyaman.

Aldi hanya berpasrah diri. Kemungkinan besar hati dan pikirannya akan sama dengan kenyataan. Pikirannya ingin memiliki Zahra. Namun kenyataannya tidak.

Lagian, mana mau Zahra dengannya. Cowok menyebalkan. Suka cuek dan pemaksa. Tidak seperti Azam, yang lebih paham dengan ilmu agama.

Aldi mengacak-acak rambutnya. Sedikit kecewa jika ia harus mundur. Tapi apa Azam juga mempunyai perasaan yang sama dengan Zahra? Jika memang begitu. Kamu harus ikhlas Al. Mau tidak mau kamu harus mundur.

Cara apa yang bisa bikin hati Aldi tenang jika sudah seperti ini. Apa mungkin nanti malam ia akan pergi ke club? Rasanya tidak mungkin. Untuk Zahra yang sudah tahu jika ia sedang berada di club saja. Rasanya ia sudah terlalu buruk di mata Zahra.

Aldi bangkit. Ia membawa jaket dan tasnya untuk menuju ke kamarnya. Sudah sampai di kamarnya. Ia menjatuhkan dirinya di kasurnya.

Pikiran terus mengarah kepada Zahra. Aldi tak tahu harus seperti apa. Ia bangkit lagi. Dan menuju ke arah dapur. Tenggorokannya sangat kering. Ia merasa haus.

Aldi menuangkan air ke dalam gelas yang ia pegang. Lalu ia meminumnya. Ia mendudukan dirinya dikursi yang ada di dapur.

Ia melamunkan diri.

"Aden Aldi kenapa ya?" Tanya bibi Suti yang melihat Aldi melamun di dapur.

Lalu bi Suti menghampiri Aldi.

"Aden kenapa melamun di dapur?" Tanyanya dengan ramah.

Aldi terkesiap. Ia pikir ia sudah tak di dapur lagi.

"Enggak papa."

"Mau bibi bikinin makanan?"

"Gausah." Aldi meninggalkan bi Suti. Ia menuju ke kamarnya lagi. Lebih baik ia tidur. Sangat lelah rasanya jika terus berpikir tentang Zahra.

Fatimah Azzahra Ramadhani (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang