55

169 19 0
                                        

Keesokan harinya Zahra merasa enak dengan tubuhnya. Kepalanya juga sudah tidak pusing. Ia hari ini bisa mengajar para santri-santri nanti. Waktu terlalu masih pagi, langit pun masih terlihat sedikit gelap. Waktu menunjukan pukul 05:00. Jadi masih dalam suasana subuh.

Zahra lupa, kemarin ia mempunyai pekerjaan sangat banyak. Kemarin kan ia sempat tidak enak badan. Jadi ia meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kantor untuk menyelesaikannya sebelum matahari terbit nanti.

Ia juga sudah mandi dan sudah rapih. Sekarang ia pergi ke kantor. Setelah sampai dikantor. Ia membuka pintu kantor. Matanya membulat. Ia melihat Azam sedang duduk ditempatnya sembari memejamkan matanya.

"Apa ia tidur?"  Batin Zahra.

Ya, mungkin Azam dibilang sedang tidur. Tapi kenapa ia bisa tertidur disini? Mungkin ia merasa ngantuk, jadi ia tertidur dikantor ini. Bagaimana ini? Zahra ingin menyelesaikan pekerjaannya. Tapi disini terdapat Azam. Bila hanya berdua disini. Bukan mahram. Bahkan, jika ada yang melihat mereka berdua disini. Pasti akan berfikir yang macam-macam. Lebih lagi Aisyah bila melihatnya.

Tetapi pekerjaannya harus diselesaikan sekarang. Karena itu juga cukup penting. Ia memutuskan untuk mengerjakan dikamarnya saja.

Zahra berjalan dengan langkah perlahan. Ia tidak mau jika Azam mendengar suara langkah kakinya dan terbangun nanti. Zahra sudah berada dimejanya. Kini ia sedang mencari-cari kertas beserta buku-buku miliknya. Tapi ia cukup terheran. Kertas dan buku-buku itu tidak ada dimejanya.

Zahra mulai panik. Bagaimana bisa hilang? Kemarin ia menaruhnya dimeja. Tapi tak ia bereskan, apa dibuang pikirnya?. Tapi tidak mungkin. Jika dibuang pasti orang yang membuangnya baca terlebih dahulu apa itu penting apa tidak.

Sudah sibuk mencari-cari. Mungkin suaranya sedikit terdengar. Hingga Azam membalikkan tubuhnya. Ingin berganti posisi. Tapi, jika ia menghadap ke samping kiri. Dirinya akan terjatuh.

Dengan cepat Zahra melangkah menuju meja Azam. Dan mengambil sarung milik Azam yang ada dimejanya itu. Ia menahannya dengan sarung milik Azam.

"Hmm.. untung saja tidak jatuh."  Batin Zahra.

Ia juga mungkin akan panik jika Azam terjatuh dalam posisi tidurnya. Kenapa lelaki ini bisa-bisanya tidur disini? Jelas-jelas ia mempunyai kamar. Kenapa tidak tidur dikamarnya?.

Zahra menghela nafas. Ia sudah tak tahan. Lengannya sudah terasa pegal. Tapi bila ia lepas, Azam mungkin akan terjatuh. Zahra sebisanya untuk menahan lengannya yang terasa cukup pegal itu. Agar ia bisa melindungi Azam.

Zahra sedikit melirik Azam. Ia cukup sakit ketika melihat wajah lelaki yang ia sukai itu. Pikirannya tak mungkin akan terjadi. Jadi, ia harus bersikap biasa saja mulai sekarang. Tak ada yang harus diharapkan lagi pada sosok lelaki yang ada di depannya.

Ia juga sedikit tersenyum. Melihat wajah tampan lelaki di hadapannya. Wajahnya terlihat tampan meski ia sedang tertidur pulas.

Tiba-tiba Azam membuka matanya. Ia terkejut ketika melihat sosok Zahra di depannya. Sontak Zahra pun langsung mengalihkan pandangannya. Ia juga sedikit menjauh dari keberadaan Azam.

Azam mengusap wajahnya. Apa ia sedang bermimpi? Sehingga ia melihat Zahra berada di depannya. Tapi ia sedikit melirik ke arah samping. Ternyata benar itu Zahra. Ia sedang tidak bermimpi. Zahra pun menunduk, malu ketika Azam berhasil membuka matanya tepat saat ia memperhatikan wajah Azam.

Azam melihat jam dinding dikantor. Ternyata sudah pukul 05:20. Tapi kenapa ia bisa tertidur dikantor? Sekilas terbayang jika ia menyudahi shalat subuhnya. Dan menuju ke arah kantor untuk mengambil tasbihnya yang tertinggal dimejanya. Lalu setelah itu ia berdzikir, dan tertidur disana.

Azam lagi-lagi mengusap wajahnya. Kenapa ia bisa-bisanya tertidur dikantor ini. Azam dan Zahra sama-sama mendiamkan diri. Mau menyapa rasanya sedikit canggung. Tapi, Azam harus memberanikan diri untuk meminta penjelasan bagaimana Zahra bisa berada di dekatnya.

"Afwan, kenapa berada disini?" Tanya Azam sedikit canggung. Pasalnya mereka tak pernah berjarak sedekat ini.

"Afwan jika mengganggu. Tadi Ustadz Azam tertidur dikursi. Zahra lagi sibuk mencari kertas dan buku-buku Zahra. Melihat Ustadz Azam ingin pindah posisi. Tapi posisi itu nanti akan membuat Ustadz terjatuh. Maka Zahra cepat-cepat mengambil sarung yang ada dimeja. Terus menahan kepala Ustadz dengan sarung itu." Jelas Zahra.

Azam mengartikan perkataan Zahra. Ia juga cukup terkejut dengan Zahra yang memanggilnya Ustadz. Tidak biasanya. Pikirnya.

"Syukron."

Zahra mengangguki.

Seketika matanya tertuju pada kertas-kertas dan buku-buku milik pekerjaannya berada dimeja Azam. Zahra sedikit berjalan untuk mengambil kertas dan bukunya.

Ia memegang kertas dan buku-buku itu. Benar, ini miliknya. Ini pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini. Tapi kenapa ada dimeja Azam? Terlebihnya buku-buku serta kertas itu sudah terisi. Siapa yang mengerjakannya? Pikirnya.

Azam membulatkan matanya ketika Zahra memegang kertas dan buku milik pekerjaannya.

"Kenapa bisa ada disini?" Tanya Zahra tanpa menoleh Azam. Ia masih fokus melihat pekerjaannya yang sudah selesai itu.

"Afwan, saya yang mengerjakannya." Ucap Azam.

Sontak membuat pandangan Zahra beralih meliriknya secara sekilas.

"Memangnya tahu?"

Azam mengangguki. "Jelas tahu. Saya juga sedikit bertanya-tanya pada Ning Anisa."

"Ooh.."

"Syukron. Zahra mau pamit dulu. Assalamualaikum Ustadz."

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." Jawabnya.

Kenapa Zahra begitu singkat? Bahasa bicaranya pun sedikit berbeda. Bahkan, Zahra memanggil dirinya dengan sebutan Ustadz, bukan kamu.

Tak dipikirkan terlalu panjang. Azam merapihkan mejanya dan menutup pintu kantor untuk menuju ke kamarnya. Ia juga ingin mandi terlebih dahulu. Karena ia tertidur dikantor tadi.

Langit juga sudah sedikit terang. Jadi ia harus segera membersihkan dirinya untuk mengajar para santri nanti.

Fatimah Azzahra Ramadhani (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang