34

145 21 0
                                        

Akhirnya mobil taxi terlewat begitu saja ketika di depan rumah Azam. Zahra langsung berbicara kepada sang supir.

"Afwan, pak kelewat rumahnya." Mendengar ucapan Zahra di belakang. Lalu supir taxi menghentikan mobilnya.

"Belum pak. Rumahnya masih di depan. Itu rumah saya. Gapapa terlewat, saya mau memastikan agar ia sampai pada rumahnya." Ucap Azam. Membuat Zahra makin terkagum padanya.

"Baik. Kalo begitu, saya lanjutkan." Sang supir melanjutkannya lagi.

Terhitung baru beberapa menit. Akhirnya mobil taxi sampai di gerbang rumah Zahra. Zahra turun dari mobil. Begitu juga dengan Azam. Azam membayarnya terlebih dahulu pada supir taxi itu.

"Lho Zam. Biar Zahra aja yang bayar." Ucap Zahra tak enak.

"Gapapa. Jangan khawatirkan itu."

Kemudian taxi pergi meninggalkan rumah Zahra.

Zahra terdiam. Azam yang melihatnya hanya menghela nafas. Mungkin situasinya untuk saat ini salah.

"Saya pamit dulu ra. Assalamualaikum." Pamit Azam.

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."

"Syukron Zam." Ucapnya. Lalu membuat langkah Azam terhenti.

"Buat apa?" Tanyanya.

"Buat yang nolongin tadi."

"Disana kan bukan hanya saya saja. Ada teman-teman yang lain. Khususnya Aldi." Ucap Azam seketika lemah mengucap nama Aldi.

Zahra terdiam. Mungkin Azam masih menyangka, jika ia dekat dengan Aldi. Tetapi, itu semua tidak benar. Bagaimana mungkin Zahra dekat dengan yang bukan mahrom.

"Kenapa diam?" Tanya Azam tersenyum miris.

"Bukannya senang ditolong sama Aldi? Dia juga banyak khawatir."

Zahra semakin merasa serba salah jika Azam terus berbicara tentang Aldi. Ia tak tahu harus membalas perkataan Azam seperti apa.

"Zam." Ucapnya lirih.

"Gak usah bahas soal Aldi." Lanjutnya.

Azam melirik ke arah samping. Yang dimana ia tak menatap ke belakang dimana Zahra berada.

Azam masih menanti kelanjutan perkataan Zahra.

"Sebenarnya.."

Zahra menunduk. Menghela nafas.

"Sebenarnya aku.." ucapnya yang masih terbata-bata.

"Zahra masuk dulu. Hati-hati dijalan Zam. Assalamualaikum." Ucapnya lalu membuka gerbang.

"Sebenarnya aku apa ra?" Tanyanya yang mengulang ucapan Zahra. Karena Azam masih penasaran apa yang diucapkan Zahra tadi.

Zahra seketika menghentikan langkahnya. Hampir saja ia mengatakan dengan sebenarnya. Kenapa hatinya tidak bisa ditahan sedikit saja?

"Sebenarnya apa ra?" Tegasnya sekali lagi.

Zahra masih terdiam. Azam rupanya ingin tahu perkataan ia tadi.

"Apa kamu mau bilang. Sebenarnya kamu cinta aku ra. Andai saja begitu." Batin Azam.

"Sebenarnya kamu cinta pada seseorang?" Ucap Azam, membuat Zahra terkejut. Bagaimana ia bisa tahu? Andai saja, Azam bisa tahu apa isi hatinya sekarang. Jika ia mencintai sosok lelaki yang ada di depannya.

"Iya." Ucapnya singkat. Dan membuat Zahra langsung masuk ke dalam rumahnya.

Azam menghela nafas. "Apa mungkin Aldi?" Ucapnya, lalu meninggalkan rumah Zahra.

Zahra memasuki rumah dengan mengucap salam. Lalu Bunda, Ayah, dan Rey menjawab salam Zahra. Lalu Zahra mencium punggung tangan mereka.

"Kenapa pulangnya malem? Bikin khawatir aja sayang." Ucap Bunda. Kemudian Zahra ikut duduk disofa.

Sekilas terbayang. Bagaimana Syukron hampir melakukan pelecehan padanya. Untuk mengingat kejadian itu. Zahra sangat takut sekali. Bahkan pada Syukron.

Benar-benar tak menyangka. Seorang Syukron ingin berbuat tak senonoh padanya.

Zahra mengusap wajahnya. Dan tak lupa mengusap air matanya yang sudah terjatuh.

Mereka yang melihat. Semakin penasaran. Terlebihnya, Zahra tidak pernah pulang sekolah malam-malam seperti ini.

"Kenapa ra?" Tanya Rey. Yang melihat sang adik menangis tanpa bersuara.

Zahra sedikit demi sedikit menghentikan tangisnya. Ia mulai menceritakan dari awal Syukron mencekal dan menyeretnya secara paksa. Sampai membawanya ke gudang. Lalu, ditolong oleh Azam dan yang lainnya.

Ayah, Bunda, dan Rey. Menganga tak percaya. Puteri mereka hampir saja dilecehkan oleh lelaki bajingan.

"Sial! Ingat ra. Abang kan udah pernah bilang. Hati-hati kalo ketemu Syukron." Rey sedikit marah.

"Tapi bang. Zahra gak tahu. Syukron tiba-tiba datang gitu aja." Ucap Zahra yang masih menangis.

"Tapi untung ada Azam sama Aldi dan teman-teman yang lainnya. Kalo enggak! Gatau kejadiannya bakal kayak gimana ra." Ucap Rey sedikit lega. Akibat teman-teman Zahra bisa menolong adiknya itu.

"MasyaAllah. Tega sekali lelaki itu. Mungkin harus diberi pelajaran sedikit aja. Agar ia bisa malu dengan perbuatannya." Ucap Bunda.

"Iya. Nanti Rey bakal bikin pelajaran."

"Hati-hati Rey. Nanti jangan kebawa emosi berlebih." Ucap Ayah.

"Ayo masuk ke kamar sayang. Bunda anterin." Ucap Bunda. Lalu, menaiki tangga membawa sang puteri memasuki kamarnya.

"Bersih-bersih dulu. Sama shalat jangan lupa. Setelah itu istirahat ya sayang. Jangan memikirkan hal lain." Bunda mengecup kening Zahra. Lalu ia menutup pintu kamar. Dan turun, untuk duduk disofa lagi.

Fatimah Azzahra Ramadhani (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang