"Ara. Ini ada apa?" Tanya Rey yang penasaran, akibat ia melihat ada pukul-memukul di kejadian tadi.
"Sebaiknya Zahra dibawa pulang bang." Ucap Azam melirik sekejap ke arah Zahra. Yang sepertinya masih terlihat ketakutan.
Rey mengangguk. Dan mengajak Zahra memasuki mobilnya.
Zahra melirik sebentar ke arah Azam. Betapa terlukanya Azam. Ia sedikit kasihan dengannya.
"Assalamualaikum" ucap Zahra dan Rey memasuki mobil.
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh" ucap mereka.
"Yuk pulang. Kalo ada apa-apa. Kabarin gue!" Ucap Aldi menepuk bahu Azam. Dan mereka meninggalkan Azam yang seorang diri di gerbang sekolah.
Azam mengangguk.
Azam masih teringat dengan kejadian tadi. Syukron bisa berucap kasar? Bahkan pada Zahra. Azam sudah melihat bagaimana reaksi Zahra yang ketakutan tadi akibat ucapan Syukron.
Syukron mulai memancing-mancing Zahra. Agar mau dengannya. Terlebihnya lagi. Ia sudah tak main bersama dengan Azam. Bahkan, sikapnya pun sekarang mulai berbeda.
Apa karena cinta. Ia sebodoh ini? Bagaimana bisa? Bukankah cinta hanya hawa nafsu semata? Bukannya ia lebih paham dengan agama? Tetapi ia dibutakan begitu saja oleh cinta.
Jelas-jelas Zahra memang sudah menolak untuk bersamanya. Tetapi ia terlihat masih mau mengejar-ngejar Zahra. Agar untuk mendapatkan cintanya.
Hmm.. Azam mulai harus berhati-hati. Agar Syukron tak melakukan hal yang sama seperti tadi.
Sebaiknya ia pulang. Untuk mengobati lukanya. Dan mengistirahatkan dirinya.
____
Sudah dekat dengan perumahannya. Zahra baru selesai menceritakan hal tadi kepada abangnya.
"Jadi tadi Syukron memang benar-benar bermain kasar pada Azam? Terus cowok itu namanya Aldi? Yang nyangka kita pacaran waktu itu ra." Ucap Rey.
Zahra mengangguk.
"Kamu harus hati-hati ra." Ucap Rey mengingatkan agar selalu hati-hati ketika bertemu Syukron.
Zahra menganggukinya lagi.
Mobil sudah sampai dirumahnya. Abang dan adik ini sudah memasuki rumah. Dan mencium punggung tangan sang bunda. Lalu, mereka memasuki kamarnya masing-masing.
____
Tak terasa. Ujian terakhir mereka sudah berakhir hari ini. Mungkin setelah ujian. Mereka hanya menunggu waktu perpisahan nanti.
Berat pasti sudah mereka rasakan. Pertemanan memang akan selalu terjalin. Tetapi untuk bertemu. Pasti akan sulit untuk dilakukan.
"Akhirnya beres juga ujian." Ucap Aisyah yang membenarkan hijabnya.
Zahra hanya tersenyum.
"Oh ya ra. Aku mau pulang duluan nih. Soalnya mamah udah nungguin." Ucap Aisyah.
"Ada acara keluarga syah?" Tanya Zahra.
Aisyah menganggukinya. Dan pamit untuk lebih dulu pulang pada Zahra.
Zahra berjalan seorang diri di lorong sekolah. Hanya sedikit siswa yang masih disini. Karena memang yang lainnya mungkin sudah pada pulang.
Tiba-tiba lengan Zahra ditarik begitu saja oleh seseorang. Ia mendongak menatap seseorang itu.
Zahra merasa takut dengan orang yang di hadapannya. Pasalnya ia tengah dicekal sangat erat oleh Syukron.
Di lorong sudah tak ada orang. Hanya ia dan Syukron yang berada disini. Rasa panik sudah mulai terasa. Zahra tak bisa bergerak sekalipun. Syukron terus mencekal lengannya. Dan menatap Zahra dengan tajam.
"Ron, lepasin." Mohon Zahra. Agar ia bisa melepaskan lengannya.
Syukron tersenyum remeh. Lalu, ia menyeret Zahra memasuki gudang. Ada seseorang yang melihat mereka menuju ke tempat gudang.
Zahra semakin takut. Ia dibawa ke gudang oleh Syukron. Pasalnya mereka hanya berdua disana. Bagaimana ini? Sudah tak ada orang yang bisa menolong Zahra.
Syukron melepaskan cengkeraman lengannya di lengan Zahra. Ia mengikat lengan dan kaki Zahra dikursi yang ada di gudang.
"Syukron kamu mau apa?" Zahra mulai menitikan air matanya.
Syukron memegang pipi Zahra dengan kencang. Membuat Zahra sulit untuk berbicara.
"Gak usah nangis. Gak bakal ada yang nolongin lo. Semua orang udah pada pulang." Ucap Syukron masih menatap tajam pada Zahra. Dan masih tersenyum senang. Akibat ia tak pusing-pusing untuk menyewa preman. Agar bisa berdua dengan Zahra. Seorang wanita yang amat ia cintai.
Syukron melipat kedua tangannya. Di pikir-pikir Zahra sangat cantik. Melebihi siswa yang lainnya. Jika ia bermain hari ini. Mungkin akan terasa sangat enak dan puas. Zahra mempunyai tubuh yang bagus dan sangat cantik. Rugi bila ia lewatkan begitu saja.
Zahra masih menangis tak bersuara. Ia merasa ketakutan. Bila nanti Syukron melakukan hal-hal aneh. Bagaimana ini? Zahra hanya bisa berdoa pada Allah. Allah lah yang maha penolong. Dan Zahra juga tak lupa berdzikir.
Ia menyipitkan matanya. Syukron melirik-lirik setiap tubuh Zahra. Sudah tak mau ambil pusing. Ia harus segera melakukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatimah Azzahra Ramadhani (END)
Novela JuvenilNamanya Fatimah Azzahra Ramadhani. Seorang wanita yang cukup berilmu dalam agama. yang memilik wajah cantik, tapi ia selalu berkata "Percuma wajah cantik tapi tak berakhlak baik" Kadang memang sekarang. Wanita hanya berlomba-lomba untuk menjadi can...
