30

181 17 0
                                        

Beberapa hari lagi kelas XII memasuki ujian sekolah. Bu Robi yang terus berbicara tegas kepada muridnya untuk fokus dan tidak memikirkan hal lain.

Betapa sayangnya bu Robi. Hingga terus menerus menasehati muridnya untuk mendapatkan nilai bagus. Agar bisa lulus dan tidak membuat orang tua mereka kecewa.

"Senin depan sudah mulai ujian. Besok kalian libur. Manfaatkan waktu kalian buat belajar. Jangan keluar kecuali hal penting. Ibu harap tidak ada yang mengecewakan untuk angkatan sekarang." Ucap bu Robi dengan penuh ketegasan. 

Semua murid mengangguk mengerti.

"Baik. Untuk soal yang ibu berikan. Kumpulkan ke depan."

Semua berurutan untuk mengumpulkan soal yang sudah dikerjakan mereka. Yang diberikan bu Robi tadi.

"Kalo gitu ibu permisi. Assalamualaikum." Ucapnya. Lalu keluar kelas.

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh"

Kelas XII IPA 1 dan kelas lain pun. Sudah keluar kelas. Karena jam istirahat sudah tiba.

"Jangan nongkrong deh besok." Ucap Jessica menyeruput es teh manisnya. Membuat yang lainnya mendongak menatapnya.

"Kenapa?" Ucap yang lainnya serentak.

"Gini nih. Kalo gak denger bu Robi tadi. Belajar-belajar!!"

Semua menggaruk kepala. Sembari menyengir.

"Iya deh iya."

"Jangan iya-iya doang. Masalahnya orang kayak kalian. SULIT DIPERCAYA!!"

Mata mereka membulat.

"Ya enggak lah jes. Gue gak main-main untuk lulus. Yaa meskipun gue dikit nakal si" ucap Aldi.

Jessica melirik Aldi malas.

"Yaudah gue cabut!" Ucap Aldi melengos pergi keluar kantin.

"Gue juga cabut!" Ucap Yoga dan Amel serentak. Dan membuat mereka sama-sama melirik malas.

"Apaan si lo. Ngikut-ngikut aja!" Ucapnya lagi dengan serentak.

"Udah deh. Kalian cocok!" Ucap Jessica dan Ervan yang serentak. Melihat mereka yang begitu saja sudah kompak.

"Yaudah gue pergi." Ucap Amel. Dan Yoga pun mengikuti dari arah belakang.

Tinggal tersisa Jessica dan Ervan yang satu meja di kantin.

"Jess." Ucap Ervan.

Jessica mendongak. Menatapnya.

"Sorry banget buat yang waktu malem. Gue udah ngaku-ngaku cowok lo. Takutnya lo risih aja gitu." Ucap Ervan tak enak pada Jessica.

Jessica tergelak. Membuat Ervan sedikit aneh.

"Van. Santai aja kali. Gue kan udah bilang gapapa. Lo masih kepikiran aja kayaknya."

Ervan menggaruk kepala. "Iyalah."

"Gimana uangnya. Lo pake untuk ngasih ke orang yang membutuhkan lagi?" Tanya Ervan. Dengan uang yang diraih Jessica sewaktu malam. Dengan mengikuti lomba balap motor liar itu.

Jessica mengangguk.

"Semuanya?"

"Enggak si. Sisa 2 juta lagi. Kan abis nih separo buat neraktir lo pada makan."

"Lumayan lah. Gapapa kali jangan itung-itungan apa."

Jessica memang orang berada. Tetapi hatinya sangat baik. Uang kemenangannya. Ia sisihkan untuk orang-orang yang membutuhkan. Jadi, tidak heran. Jika Jessica mempunyai uang lebih. Ia sering membantu orang-orang yang membutuhkan itu.

____

"Assalamualaikum. Ra." Ucap Syukron menghampiri Zahra ketika selesai shalat dzuhur di mushola sekolah.

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh" ucapnya.

"Gimana kabarnya?" Tanyanya basa-basi.

"Bi khayr."

"Alhamdulillah. Gimana sama Azam?"

Halis Zahra bertaut. Kenapa Syukron menanyakan tentang Azam. Apa hubungannya?

"Afwan ada apa sama Azam?" Tanya Zahra.

Syukron sudah tidak benar. Ia selalu menyangkut pautkan tentang Azam.

"Biasa aja kali ra. Gausah shock gitu."

Kening Zahra berkerut. Siapa yang shock?

Azam tepat di belakang mereka. Ia baru selesai melaksanakan shalat dzuhurnya.

"Nih surat buat kamu." Syukron memberikan surat kepada Zahra. Tetapi ia jatuhkan begitu saja. Dan membuat Azam yang melihat Adegan Syukron. Hanya menatap tak percaya.

"Assalamualaikum." Syukron meninggalkan Zahra.

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." Zahra mengambil surat yang diberikan Syukron. Dengan cara yang tidak sopan.

Zahra membukanya.

"AKU TUNGGU DI BELAKANG SEKOLAH"

Surat dari Syukron. Membingungkan bagi Zahra. Ada apa tunggu di belakang sekolah? Jika ada yang mau di bicarakan. Kenapa tadi tidak sekalian?

Surat dari Syukron terjatuh lagi. Azam menghampiri. Lalu dengan cepat mengambil surat itu.

Zahra terkejut melihat kedatangan Azam.

Azam mulai membacanya.

"AKU TUNGGU DI BELAKANG SEKOLAH"

Azam membacanya dengan suara sedikit heran.

"Ada masalah apa ra?" Tanya Azam penasaran.

Zahra sedikit memposisikan dirinya agar sedikit jauh dari Azam. Untuk menjaga jarak.

Zahra menggeleng.

"Jangan temuin Syukron. Bisa aja dia macam-macam sama kamu. Kalo kamu mau temuin Syukron. Saya ikut." Ucapnya.

"Zahra gak bakal nemuin Syukron. Kalo gitu Zahra duluan ya zam. Assalamualaikum." Ucap Zahra, lalu pergi.

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."

Azam merobek surat dari Syukron. Lalu ia memutuskan untuk memasuki kelas.

Fatimah Azzahra Ramadhani (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang