Zahra perlahan membuka matanya. Ia melihat jam dinding yang ada dikamarnya. Ternyata sudah jam 13:15. Ia tidur siang lumayan lama. Akhirnya ia mendudukan dirinya sebentar. Lalu ia membuka pintu kamar dan menuju ke arah mushola.
Di mushola terlihat sepi. Tapi ia melihat seperti ada sosok Azam ketika dilihat dari arah belakang olehnya. Inginnya Zahra akan melaksanakan shalat dzuhur dimushola. Tetapi ada Azam, ia lebih baik dikamar saja pikirnya.
Zahra merapihkan sejadahnya. Azam yang sedikit memutar tubuhnya. Lalu melihat sosok Zahra ketika melipat sejadahnya itu.
"Sudah shalat?" Tanya Azam. Membuat Zahra sedikit terkejut.
Zahra menggeleng. "Mau shalat dikamar saja."
"Kenapa tidak disini? Waktunya sudah mau habis. Laksanakan disini saja."
Zahra melihat jam dinding dimushola. Benar kata Azam. Sebentar lagi waktu dzuhur sudah mau habis. Ia juga sedikit malu ketika Azam melihatnya untuk tidak shalat dimushola.
Tak pikir panjang. Zahra menggelarkan sejadahnya lagi. Lalu ia memakai mukenanya. Dan langsung melakukan shalat dzuhurnya.
Azam melirik ke arah samping. Rupanya Zahra mau menuruti perkataannya. Ia tersenyum tipis. Lalu melanjutkan memutar tasbih ditangannya.
Setelah beberapa menit kemudian. Zahra selesai melaksanakan shalatnya. Ia melipat mukena serta sejadahnya yang ia pakai tadi.
"Sudah shalatnya?" Tanya Azam melihat Zahra memegang mukenanya ingin keluar dari mushola.
"Sudah. Zahra permisi dulu."
Baru saja Zahra membalikkan tubuhnya. Belum sempat melangkahkan kakinya Aisyah masuk ke dalam mushola.
"Kenapa berdua disini?" Tanya Aisyah memasang wajah sedikit cemburu.
Azam memutar tubuhnya. Dan melihat Aisyah. Lalu memasuki tasbihnya ke dalam sakunya. Dan mendirikan tubuhnya.
"Bukannya bukan mahram?" Tanya Aisyah lagi.
Zahra menunduk. Tak enak dengan Aisyah. Ia pasti berfikir yang tidak-tidak.
"Kenapa?" Tanya Azam.
"Kan kamu sebentar lagi akan menjadi imamku." Ucap Aisyah lemas.
"Disini kami tidak ngapa-ngapain. Zahra melaksanakan shalatnya. Sedangkan saya hanya berdzikir. Apa itu salah?" Azam memastikan pertanyaan Aisyah.
Aisyah terdiam.
"Kamu juga salah. Seharusnya mengucap salam dulu sebelum masuk." Tutur Azam.
Aisyah menunduk. "Maaf."
"Afwan ya syah. Kita enggak ngapa-ngapain kok disini. Zahra tadi hanya shalat dzuhur disini." Ucap Zahra.
"Iya. Tapi aku cemburu." Ucap Aisyah. Membuat Azam dan Zahra menatap padanya.
"Afwan syah. Kalo gitu Zahra permisi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." Jawab mereka.
Azam mengusap wajahnya. Aisyah berani mengatakan cemburu? Mereka pun belum tentu akan berjodoh. Tetapi Aisyah berbicara seperti itu. Azam merasa tak enak pada Zahra.
"Nah ini baru bukan mahram. Kita berduaan dimushola tanpa ada kepentingan. Saya permisi dulu syah." Ucap Azam sembari meninggalkan Aisyah yang berada dimushola.
Aisyah membalikkan tubuhnya. Menatap kepergian Azam.
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."
"Pasti kamu mau mengejar Zahra kan Zam?"
"Kamu mempermalukan aku di depan Zahra juga. Niat aku kan baik. Aku juga cemburu. Tapi kenapa kamu dekat dengan Zahra?" Batin Aisyah sembari mengusap air matanya.
____
Azam mengejar Zahra. Zahra berjalan sedikit cepat. Di situasi tadi membuat Azam sedikit tak enak pada Zahra. Azam sedikit mempercepat langkahnya. Karena Zahra juga sedikit cepat berjalannya.
"Ra, tunggu!" Ucap Azam.
Zahra menghentikan langkahnya. Ia melirik ke arah samping.
"Kenapa kamu ngejar aku?" Batin Zahra.
Sudah jelas memang mereka akan berjodoh nantinya. Zahra merasakan sakit dihatinya. Untuk saat ini kenapa Azam mengejarnya? Kenapa tidak dengan Aisyah?
Jika begini Zahra akan semakin berharap besar nantinya. Ia lebih mengejar yang lain dibandingkan calon istrinya.
"Assalamualaikum." Azam sampai disamping Zahra dengan menjaga jarak. Ia mengatur nafasnya.
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." Suara Zahra terdengar serak.
Azam bungkam mendengar suara Zahra yang tidak biasanya. Apa ia baik-baik saja? Pikirnya.
"M-maaf." Ucap Azam.
"Maafkan ucapan Aisyah tadi."
"Kenapa harus minta maaf?" Tanya Zahra dengan senyum miris.
"Bukannya betul apa yang dibilang Aisyah. Zahra juga gak enak. Seharusnya kamu juga sudah menjaga jarak dengan Zahra. Karena kamu sebentar lagi akan menjadi imamnya Aisyah. Zahra pamit yaa.. Assalamualaikum." Ucap Zahra dengan suara berat.
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." Jawabnya.
"Kenapa suara Zahra begitu berat?" Batin Azam.
"Kenapa suara Zahra menyakitkan hati saya juga?" Batinnya lagi.
Azam mengusap wajahnya. Rumit! Satu kata ini yang ada dipikiran Azam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatimah Azzahra Ramadhani (END)
Teen FictionNamanya Fatimah Azzahra Ramadhani. Seorang wanita yang cukup berilmu dalam agama. yang memilik wajah cantik, tapi ia selalu berkata "Percuma wajah cantik tapi tak berakhlak baik" Kadang memang sekarang. Wanita hanya berlomba-lomba untuk menjadi can...
