45

168 21 0
                                        

Ning Anisa, Lisa, Laila. Mereka sangat terkagum dengan Zahra yang mudahnya berceramah dihari pertama mengajarnya. Mereka tersenyum dan paham dengan apa yang dikatakan Zahra tadi.

Sampai-sampai mereka mendengarkannya di pintu kelas X. Berdiri mematung berjejer. Mereka pun punya pelajaran terpenting bagi seorang muslimah. Yang harus hati-hati dengan zaman sekarang ini.

"Bagus sekali Ustadzah. Kami mudah memahami dan merasa tertampar dengan apa yang diucapkan Ustadzah tadi." Ucap Ning Anisa.

Zahra melirik ke arah pintu. Lho, mereka mendengarkan pembicaraannya? Di pintu? Maa syaa Allah. Zahra sangat malu sekali.

Zahra hanya tersenyum. "Syukron".

Azam pun tersenyum berada dijendela kelas X itu. Rupanya ia juga melihat aksi ceramah singkat Zahra yang mengajar dikelas X. Zahra memang sosok wanita terbaik. Dan selalu membuatnya kagum. Tapi ia harus melupakan itu semua. Ibunya sudah pernah mengatakan jika ia sudah dijodohkan dengan wanita lain. Ini yang Azam merasa sangat berat.

Zahra melirik sebentar ke arah jendela. Ia seperti melihat sosok Azam. Ia mengerjapkan matanya. Sungguh itu Azam? Kenapa ia dijendela? Zahra mulai panik. Apa Azam melihat aksi ceramahnya?

Azam melihat ke arah kelas. Tetapi sosok wanita bercadar itu. Menatap ke arahnya. Rupanya Zahra sudah tahu keberadaannya. Lebih baik ia pergi. Malu sekali ia tertangkap basah yang sedang melihatnya untuk aksi ceramah singkatnya itu.

Meskipun Azam sudah pergi. Tapi Zahra mengukir senyuman di bibirnya. Ustadz tampan tersebut ternyata memperhatikannya.

"Oh iyaa. Jam pelajaran ana sudah habis. Jadi ana mau pamit dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Lain kali ceramah lagi ya Ustadzah." Ucap Ainun salah satu murid santriwati kelas X.

"Insyaa Allah.." lalu Zahra pamit keluar kelas santriwati tersebut.

Ia pergi ke kantor untuk meletakkan buku-buku yang ia bawa tadi. Lalu ia duduk ditempat yang khusus untuknya. Ia tersenyum. Rupanya pengalaman barunya sangat menyenangkan. Ia bisa berbagi ilmu yang setahu dia. Yaa meskipun singkat. Tapi berbuah pahala.

"Assalamualaikum." Ustadzah Zainab menghampiri Zahra.

Zahra seketika mendirikan tubuhnya. "Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."

"Gimana? Bisa kan cermahnya? Tadi Anisa bilang kamu bagus. Para santriwati juga cukup senang katanya. Saya yang mendengarnya pun sangat senang. Lain kali harus percaya diri yaa.."

Zahra mengangguk. "Iya Ustadzah.." dan mereka saling berpelukan.

"Yasudah istirahat dulu sebentar. Saya harus urus Alya dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."

____

Para santriwati dan santriawan heboh membincangkan Zahra. Mereka membicarakan tentang Zahra yang dengan mudahnya berceramah dihari pertamanya mengajar. Santriwati dikelas X pun sangat senang. Bisa di ajar oleh Ustadzah baru itu. Mudah dipahami dan cukup memberi pelajaran juga disetiap pembicaraannya.

Aisyah yang baru saja keluar dari toilet itu. Merasa aneh dengan santri-santri tersebut. Mereka bercakap sana-sini. Dengan begitu heboh. Ada apa? Pikirnya.

Lalu ia memutuskan untuk menanyakannya kepada salah satu santriwati.

"Assalamualaikum." Salamnya. Kepada tiga santriwati yang sedang mengobrol itu.

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Ada apa kak Aisyah? Ada yang bisa dibantu?" Tanya Ainun santriwati kelas X.

"Eh enggak. Kakak cuma mau bilang. Lagi pada ngomongin apa ya? Kok heboh banget kayaknya." Tanya Aisyah penasaran.

"Oh ini. Lagi ngomongin Ustadzah Fatimah."

Halis Aisyah bertaut. "Ustadzah Fatimah?"

"Iya yang Ustadzah baru itu. Kita panggil Ustadzah Fatimah. Bukan Ustadzah Zahra. Karena memang namanya bagus. Dan tadi Ustadzah Fatimah berceramah dikelas X tadi. Ceramahnya mudah dipahami dan memberi banyak pelajaran bagi seorang muslimah. Nah, maka dari itu para santri banyak yang membicarakannya. Padahal ini hari pertamanya. Tapi dia begitu sangat sempurna."

"Kalo gitu Ainun permisi dulu ya kak. Assalamualaikum." Dan tiga kawan tersebut meninggalkan Aisyah yang sedang kecewa itu.

Iya mengartikan ucapan santriwati tadi. Tentang Zahra. Bagaimana bisa seorang Zahra langsung bisa membuat para santri senang?.

"Aku yang sudah bertahun-tahun mengajar disini. Tapi aku tidak dipanggil Ustadzah. Aku hanya dipanggil kakak oleh para santri. Sedangkan Zahra? Ia begitu di istimewakan oleh santri-santri karena ia begitu hebat untuk pertama kali mengajar." Ucap Aisyah. Ia rupanya merasa iri dengan Zahra.

"MasyaAllah." Ucap Ustadzah Zainab. Yang dibelakang tak jauh darinya. Mendengar ucapan Aisyah tersebut.

Aisyah merasa kecewa. Lebih baik ia ke kantor untuk menenangkan isi pikirannya.

Fatimah Azzahra Ramadhani (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang